sapi

Hukum asal air kencing dan tai hewan

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا

Dari Anas bin Malik berkata : beberapa orang datang dari ‘Ukl atau ‘Urainah kemudian mereka menjadi sakit karena tidak tahan dengan iklim madinah, maka Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/56 No. 223)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ

Dari Anas bin Malik berkata : Rasulullah Saw pernah salat di kandang kambing, sebelum dibangun masjid (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/56 No. 224)

Hadis pertama secara manthuq menunjukan bahwa air kencing unta itu tidak najis, seandainya najis, tentu Rasulullah Saw tidak memerintahkan berobat dengan air kencing tersebut. Secara mafhum muwafaqah dapat difahami semua kotoran hewan pada asalnya suci kecuali ada dalil khusus yang menajiskan.

Hadis kedua menguatkan kesimpulan hadis pertama. Fi’liyah Rasulullah Saw pernah salat di kandang kambing, dalam kandang domba tentu secara ghalabah dzan didalamnya tidak terlepas dari kotoran maupun air kencing kambing. Seandainya kotoran tersebut najis, tentu Rasulullah Saw tidak salat di kandang kambing tersebut. Padahal Rasulullah Saw bisa saja salat di tempat lain. Fi’liyah Rasulullah Saw menunjukan bahwa kotoran kambing tidak najis. Mafhum muwafaqahnya menjadi kaidah istishab yaitu semua kotoran hewan asalnya tidak najis.

adapun hadis-hadis

كَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ الْبَوْلِ

“Salah satunya diadzab karena tidak bersih dari kencing”,

إنَّهَا رِكْسٌ إنَّهَا رَوْثَةُ حِمَارٍ

“Itu adalah najis, sesungguhnya itu adalah kotoran himar”

Komentar

1. Hadis baul diatas khusus untuk kenajisan baul manusia, bukan hewan. Illatnya jelas jadi penyebab azab kubur. Sedangkan hewan bukan mukallaf. 
2. Hadis air kencing unta itu tidak dalam keadaan darurat, hanya berobat biasa saja, Rasul Saw menyuruh dengan air kencing unta, padahal masih mungkin dengan pengobatan yang lain. Tidak ada dilalah dalam keadaan darurat. Sehingga illat dharar tidak mundhabit. Disamping karena ada pra asumsi najisnya air kencing hewan. Dengan demikian tetap bahwa air kencing unta itu statusnya tidak najis. Jadi jelas isytiraknya adalah air kencing sesama hewan, bukan pada pengobatannya. Sehingga sah dijadikan mafhum muwafaqah. Apalagi hal ini sesuai dengan kaidah barah al ashliyah. 

3. Sedangkan hadis kedua, maksudnya sekedar kotor saja, bukan dalam artian najis secara syar’i.

4. Terkait bara al ashliyah itu pada intinya untuk perbuatan mukallaf, asalnya tidak dibebani. Asal dari segala sesuatu itu suci termasuk kencing. Ini adalah asal, jika sebaliknya maka kenajisan tersebut adalah membebani (taklif) bagi mukallaf. Kedua hadis yang saya sampaikan menjadi dasar dan penguat kaidah baraah al asliyah kencing itu suci. Jika yang berlaku asalnya adalah najis, maka hal ini membebani mukallaf, misalnya dia harus membersihkan najis tersebut.

Kesimpulan, Air kencing dan tai hewan sekedar kotor tapi tidak najis