Beranda Fikih AKAN TERJADI HURU-HARA JIKA TANGGAL 15 RAMADHAN PADA HARI JUM’AT?

AKAN TERJADI HURU-HARA JIKA TANGGAL 15 RAMADHAN PADA HARI JUM’AT?

27929
0

lagi viral hadits/video tentang akan terjadi huru hara di bulan syawal jika pertengahan bulan ramadhan terjadi pada hari jum’at dan akan terdengar suara / teriakan yang sangat keras.

berikut potongan haditsnya:

عن ابن مسعود قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إذا كان صيحة في رمضان، فإنه يكون معمعة في شوال، وتميز القبائل في ذي القعدة، وتسفك الدماء في ذي الحجة والمحرم، وما المحرم؟ يقولها ثلاث مرات، هيهات هيهات يقتل الناس فيه هرجاً هرجاً، قلنا: وما الصيحة يا رسول الله؟ قال: هذه في النصف من رمضان ليلة الجمعة فتكون هذه توقظ النائم، وتقعد القائم، وتخرج العواتق من خدورهن في ليلة الجمعة، في سنة كثيرة الزلازل والبرد، فإذا وافق شهر رمضان في تلك السنة ليلة الجمعة، فإذا صليتم الفجر من يوم الجمعة في النصف من رمضان فادخلوا بيوتكم، وأغلقوا أبوابكم وسدوا كواكم ودثروا أنفسكم، وسدوا آذانكم، فإذا أحسستم بالصيحة فخروا لله سجداً، وقولوا: سبحان القدوس، سبحان القدوس، ربنا القدوس، فإنه من فعل ذلك نجا ومن لم يفعل هلك)

“Dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila terdapat suara yang dahsyat di bulan Ramadan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal. Akan banyak golongan manusia yang saling memisahkan diri di bulan Dzulqa’dah. Akan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzulhijjah dan al-Muharram. Apa yang harus dilakukan di bulan al-Muharram?
Rasulullah saw mengulangi hal tersebut sampai tiga kali. Sangat disayangkan sekali saat itu manusia saling membunuh dan keadaannya sangat kacau.

Maka kami bertanya, “Apa suara dahsyat itu wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, “Suara itu terjadi di pertengahan bulan Ramadan, bertepatan dengan malam Jumat dan suara dahsyat ini akan membangunkan orang-orang yang sedang tidur, menjatuhkan orang-orang yang sedang berdiri, dan menjadikan para wanita terhempas keluar dari kamar-kamarnya.

Pada saat itu akan banyak terjadi gempa bumi dan cuaca yang sangat dingin. Hal itu apabila (pertengahan)bulan Ramadan di tahun itu bertepatan dengan malam Jumat.

Apabila kalian telah melaksanakan salat Subuh di hari Jumat pada pertengahan bulan Ramadan, maka masuklah kalian ke dalam rumah-rumah kalian, kuncilah pintu-pintu kalian, tutuplah jendela-jendela kalian, selimutilah diri-diri kalian, dan tutuplah telinga-telinga kalian.

Apabila kalian merasa ada suara dahsyat, maka menyungkurlah sujud kepada Allah dan ucapkanlah, “Maha Suci Allah yang Maha Suci, Maha Suci Allah yang Maha Suci, wahai Rabb kami yang Maha Suci.”
Barangsiapa yang mengamalkan hal tersebut maka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengamalkannya, maka niscaya akan celaka.”

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini terdapat dalam Musnad al-Syaasyi juz II halaman 262 no.837

837 – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: نا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ، نا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ، نا أَبُو عُمَرَ، عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ حُسَيْنٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهَا تَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمَيَّزُ الْقَبَائِلُ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِي الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَمَا الْمُحَرَّمُ – يَقُولُهَا ثَلَاثًا – هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ يُقْتَلُ النَّاسُ فِيهَا هَرْجًا هَرْجًا» قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الصَّيْحَةُ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «هَذِهِ تَكُونُ فِي نِصْفٍ مِنْ رَمَضَانَ يَوْمَ جُمُعَةٍ ضُحًى، وَذَلِكَ [ص:263] إِذَا وَافَقَ شَهْرُ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ تَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهِنَّ فِي لَيْلَةِ جُمُعَةٍ سَنَةً كَثِيرَةَ الزَّلَازِلِ وَالْبَرْدِ، فَإِذَا وَافَقَ رَمَضَانُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ يَوْمَ جُمُعَةٍ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ – فَادْخُلُوا بُيُوتَكُمْ، وَسَدِّدُوا كُوَاكُمْ، وَدَثِّرُوا أَنْفُسَكُمْ، وَسُدُّوا آذَانَكُمْ، فَإِذَا أَحْسَسْتُمْ بِالصَّيْحَةِ فَخِرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا، وَقُولُوا سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، رَبَّنَا الْقُدُّوسَ؛ فَإِنَّهُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ نَجَا، وَمَنْ تَرَكَ هَلَكَ»

ANALISIS SANAD

Hadits ini sangat Dhaif, dalam sanadnya da bebrapa rawi yang dhaif yaitu:

1. Muhammad bin Tsabit bin Aslam, Masyhur dengan nama Muhammad bin Tsabit al-Bunaani, belaiu thabaqah ke-7

– Imam Abu Hatim al-Razi berkata :
منكر الحديث ، يكتب حديثه ولا يحتج به ، ومرة : قال : ليس بقوي
munkarul hadits, haditsnya dicatat namun tidak bisa dijadikan hujjah. dilain tempat beliau berkata: ia tidak kuat

– imam al-Bukhari berkata :
فيه نظر ، ومرة : له عجائب
dia harus di teliti lagi (kalimat fiihi nazhar versi al-Bukhari mrupakan jarh pedas yg rawinya tidak bisa di jadikan hujjah dan tidak bisa d jadikan mutaba’ah), dilain tempat beliau berkata: dia meriwayatkan hadits-hadits yang penuh keanehan

فيه نظر ، ومرة : له عجائب
dia harus di teliti lagi (kalimat fiihi nazhar versi al-Bukhari mrupakan jarh pedas yg rawinya tidak bisa di jadikan hujjah dan tidak bisa d jadikan mutaba’ah), dilain tempat beliau berkata: dia meriwayatkan hadits-hadits yang penuh keanehan

ia didhaifkan oleh sejumlah ulama ahl naqd dan telah ittifaq akan kedhaifannya.

2. Abdul Wahhab bin Husain, ia thabaqah ke-5
– beliau majhul ‘ain

3. Ibn Lahi’ah, thabaqah ke-7
– nama yang sudah tidak asing ditelinga para peneliti. beliau shaduq hanya mukhtalith dimasa kitab-kitabnya terbakar dan mustaghrab. periwayatannya tidak diterima selain dari para ‘Abadillah. ditetapkan sebagai rawi yang dhaif dan hadits-haditsnya ditinggalka.

4. Abu Umar. nama beliau adalah Hafs bin Ghiyas al-Nakhai, thabaqah ke-8.
beliau tsiqah hanya hafalannya sedikit berubag di akhir usianya. periwayatan secara sama’i dari kitabnya itu lebih shahih daripada dari hafalannya. imam ahmad menetapkanny atadlis.

5. Nu’aim bin Hammad, thabaqah ke-10
belaiu shaduq namun banyak sekali kesalahannya.

– Imam Ibn Hibban memasukannya dalam al-Tsiqat, dan beliau berkata: terakdang ia banyak kesalahannya dan kekeliruan.

– Abu Sa’id bin Yunus berkata:
ia meriwayatkan hadits-hadits munkar dari rawi tsiqah

– Abu Basyr al-Daulabi berkata:
ia rawi dhaif, dan terkadang tertuduh memalsukan hadits

– al-‘Ijli mentautsiqnya

para ulama ahl naqd banyak yang mengkritiknya sebgaai rawi dhaif.
(lengkapnya lihat Tahdzib al-Kamal)

Syaikhunaa Ibn Baz ra berkata:

فهذا الحديث لا أساس له من الصحة ، بل هو باطل وكذب ، وقد مر على المسلمين أعوام كثيرة صادفت فيها ليلة الجمعة ليلة النصف من رمضان فلم تقع فيها بحمد الله ما ذكره هذا الكذب من الصيحة وغيرها مما ذكر ، وبذلك يعلم كل من يطلع على هذه الكلمة أنه لا يجوز ترويج هذا الحديث الباطل؛ بل يجب تمزيق ذلك وإتلافه والتنبيه على بطلانه

Hadis ini sama sekali tidak sahih, namun hadis batil dan kedustaan. Sudah sering tahun-tahun yang lewat, malam jumat bertepatan dengan malam tengah Ramadhan. Dan walhamdulillah, tidak terjadi apapun seperti yang disebutkan dalam kabar dusta, yaitu adanya suara dahsyat atau yang lainnya. Karena itu, disimpulkan, bahwa setiap orang yang mengetahui pernyataan ini, tidak boleh baginya untuk menyebarkan hadis batil ini. Namun wajib untuk dihilangkan dan diingatkan akan kebatilannya.

Beliau melanjutkan,

ومعلوم أنه يجب على كل مسلم أن يتقي الله في جميع الأوقات ، وأن يحذر ما نهى الله عنه حتى يتم أجله، كما قال سبحانه لنبيه صلى الله عليه وسلم : ( وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ ) والمراد باليقين : الموت

Meskipun kita paham bahwa setiap muslim wajib untuk bertaqwa kepada Allah setiap saat. Dan menghindari semua yang dilarang Allah, sampai dia dijemput ajalnya. Sebagaimana yang Allah firmankan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (yang artinya), “Beribadahlah kepada Rabmu sampai datang kepadamu al-Yaqin.” Dan yang dimaksud al-Yaqin adalah kematian. (Majmu Fatawa Ibnu Baz, 26/339-340)

Al-Uqaili pernah menyebutkan hadis ini namun dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian beliau nyatakan,

ليس لهذا الحديث أصل من حديث ثقة ، ولا من وجه يثبت

Hadis ini (tentang suara dahsyat di pertengahan Ramadhan) tidak pernah disebutkan dalam hadis dari perawi yang shahih, maupun yang sanadnya sahih. (ad-Dhu’afa’ al-Kabir, 3/52).

Keterangan lain disebutkan Ibnul Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at. Beliau mencantumkan hadis ini dalam satu bab khusus, Bab Dzuhur al-Ayat fi as-Syuhur – Peristiwa-peristiwa yang Datang Setiap Bulan –

Lalu beliau menyebutkan hadis tentang suara dahsyat di pertengahan Ramadhan. Kemudian beliau memberi penilaian,

هذا حديث موضوع على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Hadis ini palsu, dusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (al-Maudhu’at, 3/191)

Demikian pula keterangan Ibnul Qoyim. Beliau menyebutkan beberapa hadis palsu, dalam kitabnya al-Manar al-Munif, beliau menyatakan sub-Bab, termasuk hadis palsu adalah hadis tentang kejadian masa depan,

كَحَدِيثِ “يَكُونُ فِي رَمَضَانَ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهَا وَفِي شَوَّالٍ هَمْهَمَةٌ

Seperti hadis bahwa akan ada di bulan Ramadhan suara dahsyat yang akan membangunkan orang tidur, membuat duduk orang berdiri, membuat para gadis pingitan keluar rumah, dan di bulan Syawal ada gelegar suara… (al-Manar al-Munif, hlm. 110).

Demikian pula as-Suyuthi, dalam al-Lali’ al-Mashnu’ah (2/387-388) beliau menyebutkan hadis sejenis dengan berbagai redaksi, dan semuanya cacat. Sebagian ada yang redaksinya panjang dan ada yang redaksinya pendek. Yang paling panjang redaksinya, hadis dari Ibnu Mas’ud…

KESIMPULAN:

Hadits ini sangat dhaif dan derajatnya Maudhu.

Penulis: Robi’ Permana