Beranda Akidah Antara Cinta dan Syirik

Antara Cinta dan Syirik

1429
0

Apakah pernyataan “Aku tidak bisa hidup tanpamu” kepada manusia termasuk syirik? Mohon penjelasannya. Rama.

Jawab :
Perhatikan dua ayat tentang tauhid rububiyah sebagai berikut :

{إِنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ} [التوبة: 116]
Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (At-Taubah : 116)

{اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ} [الشورى: 19]
Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Asy-Syura : 19)

Wajib menjadi keyakinan seorang muslim, bahwa Allahlah yang menciptakan, menguasai dan memiliki alam semesta, termasuk juga manusia, Allahlah yang mengidupkan semua makhluk hidup dan mematikannya sesuai dengan kehendaknya. Dialah yang memberi rizki dan memenuhi kebutuhan semua makhlukNya. Semua makhluk tergantung kepadanya, tapi Allah berdiri secara otonom, tanpa membutuhkan selain dirinya sedikitpun. Ini adalah salah satu gambaran dari hakikat tauhid rububiyah.

Jika seseorang meyakini adanya yang menghidupkan, mematikan, memberi rizki dan lainnya selain daripada Allah, maka telah terjatuh dalam syirik. Hakikat dari syirik sebagaimana diterangkan oleh imam as-Sa’di

وَحَقِيْقَةُ الشِّرْكِ بِاللهِ: أَنْ يَعْبُدَ اْلمَخْلُوْقَ كَمَا يَعْبُدُ اللهَ، أَوْ يُعَظِّمَ كَمَا يُعَظِّمُ اللهَ، أَوْيُصَرَّفَ لَهُ نَوْعٌ مِنْ خَصَائِصِ الرُّبُوْبِيَّةِ وَاْلإِلَهِيَّةِ
Hakikat menyekutukan Allah (syirik) adalah menyembah makhluk seperti menyembah Allah, mengagungkan (makhluk) seperti mengagungkan Allah atau memalingkan kekhususan-kekhusuan rububiyah dan uluhiyah kepada makhluk. (Taisir al-Karim ar-Rahman : 279)

Diantara macam syrik adalah syirik rububiyah, misalnya berkeyakinan adanya pencipta Alam semesta selain Allah. syirik termasuk dosa besar, pelakunya wajib bertobat. Adapun syirik yang terbawa mati, maka tidak akan diampuni dosanya oleh Allah.
Adapun terkait dengan pernyataan “aku tidak bisa hidup tanpamu” apakah termasuk perbuatan syirik ? setiap kalam atau ucapan, mesti diperiksa motif atau niat dari yang mengucapkannya. Karena dari niatlah akan difahami maksud dari pernyataan tersebut secara tepat dan sebenar-benarnya. Sesuai dengan sabda Rasulullah

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya. (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 1/6)
Dari dalil diatas para ulama menyimpulkan satu dalam kaidah
مَقَاصِدُ اللَّفْظِ عَلَى نِيَّةِ اللَّافِظِ
Maksud-maksud suatu ucapan tergantung niat orang yang mengucapkannya. (Al-Asybah wa an-Nazhair : 44)

Karena itu pernyataannya mesti ditafsil niatnya. Jika maksud ungkapaan tersebut adalah hakiki disertai dengan keyakinan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa orang yang dikasihinya, maka dapat dikategorikan sebagai perbuatan syirik, yaitu syirik rububiyyah. Namun jika niatnya majazi, hanya semata ungkapan hiperbolik kasih sayang kepada orang tua atau pasangan hidup, tanpa disertai dengan keyakinan secara hakiki, maka hukum asalnya adalah mubah.

[contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here