Beranda Fikih Apakah ada Salat Mutlaq? Bagaimana kaifiyatnya ?

Apakah ada Salat Mutlaq? Bagaimana kaifiyatnya ?

252
0

Salat sunat terdiri dari dua macam, yaitu salat muqoyyad dan mutlaq.

Pertama, Salat sunat muqoyyad ialah salat sunat yang terikat dengan sebab tertentu, yaitu :

  1. Pertama terikat waktu, misalnya salat dluha terikat dengan waktu dluha atau salat tahajud yang terikat dengan malam.
  2. Kedua, terikat dengan kejadian, misalnya salat istisqa, dilaksanakan dalam keadaan paceklik atau kemarau panjang untuk meminta hujan.
  3. Ketiga, terikat dengan perbuatan, misalnya salat syukr al-wudlu yang dilaksanakan setelah berwudlu.
  4. Keempat, terikat dengan tujuan tertentu, misalnya salat istikharah, dilaksanakan ketika meminta petunjuk kepada Allah terkait dengan pilihan.
  5. Kelima, terikat dengan tempat, misalnya salat tahiyat al-masjid ketika masuk masjid.


Kedua, salat mutlaq, yaitu salat sunat yang dapat dilaksanakan kapan dan dimanapun, tanpa terikat dengan waktu, kejadian, perbuatan, tujuan dan tempat. Batasannya selama bukan pada waktu dan tempat yang terlarang salat padanya. Adapun yang menjadi dalil salat Mutlaq ini sebagai berikut. Pertama dari sahabat Ibn Umar :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَيُوتِرُ عَلَيْهَا غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam salat sunat menghadap kearah mana saja kendaraannya dan melaksanakan salat witir diatasnya. Sungguh beliau tidak salat wajib diatas kendarannya (HR al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/45)

Kedua, dari sahabat Anas bin Malik :

أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ لَهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ قُومُوا فَلِأُصَلِّ لَكُمْ قَالَ أَنَسٌ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ وَالْيَتِيمَ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ

Bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghadiri hidangan yang ia masak untuk beliau. Beliau kemudian menyantap makanan tersebut kemudian bersabda: “Berdirilah, aku akan pimpin kalian shalat.” Anas berkata, “Maka aku berdiri di tikar milik kami yang sudah lusuh dan hitam akibat sering digunakan. Aku lalu memercikinya dengan air, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri diatasnya. Aku dan seorang anak yatim lalu membuat barisan di belakang beliau, sementara orang tua (nenek) berdiri di belakang kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu shalat memimpim kami sebanyak dua rakaat lalu pergi.” (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/86)

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan,

  1. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pernah melaksanakan salat sunat baik dalam keadaan muqim maupun safar, tanpa diketahui nama salat tersebut dan sebabnya. Para ulama memberi nama salat tersebut sebagai salat mutlaq. Dengan demikian salat mutlaq disyariatkan dan menjadi bagian dari salat sunat.
  2. Boleh dilaksanakan diatas kendaraan, kemana saja kendaraan tersebut menghadap.
  3. Dapat dilaksanakan secara berjamaah maupun mufarid.
  4. Jumlah rakaat salatnya dua rakaat, dengan kaifiyat sebagaimana salat wajib.
  5. Dilaksanakan bukan pada waktu dan tempat yang dilarang untuk salat.

(Ginanjar Nugraha)