Beranda Fikih Apakah Memajang Foto dengan Pasangan dapat Merusak Muru’ah ?

Apakah Memajang Foto dengan Pasangan dapat Merusak Muru’ah ?

500
0

Berfoto di zaman sekarang sudah menjadi budaya, baik di kalangan orang dewasa, anak muda maupun anak-anak. Berfoto biasanya dilakukan ketika ada momen-momen tertentu, seperti pernikahan, jalan-jalan ke tempat bagus, makan-makan berkumpul bersama keluarga, berkumpul bersama teman-teman dan sebagainya.

Kemudian foto tersebut biasanya dipajang di rumah atau diupload di facebook, instagram, twitter, whatsapp dan media sosial lainnya.

Berfoto adalah bagian dari muamalat yang hukumnya diperbolehkan selama memenuhi syarat-syarat tertentu. Kaidah mengatakan:

ألأَصْلُ فِيْ الْمُعَامَلَةِ الإِبَاحَةُ

“Asal dalam muamalah adalah boleh”.

Adapun syarat-syarat yang harus diperhatikan ketika berfoto, di antaranya:

Pertama, tidak memperlihatkan aurat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“…Dan janganlah (kalian hai perempuan yang beriman) menampakan perhiasan kecuali yang biasa nampak dari padanya.” (QS. an-Nur: 31).

Batasan aurat bagi perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan kebanyakan para ulama. (Tafsir Ibnu Katsir 3/1306).

Kedua, tidak ikhtilat (bercampur baur) antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, apalagi sampai bersentuhan fisik. Dalil yang melarang ikhtilat sebagai berikut:

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ: «اسْتَأْخِرْنَ، فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ» فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ

“Dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshari, dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sedang keluar dari masjid dan para lelaki sedang berkumpul dengan para wanita di Jalan, lalu beliau bersabda kepada para wanita: “(Wahai para wanita) minggirlah kalian, karena sesungguhnya tidak pantas kalian berjalan di tengah jalan, hendaknya kalian di samping-samping jalan”. Maka wanita dahulu menempel dengan dinding sehingga pakaiannya terkait dengan dinding dikarenakan saking menempelnya mereka dengan dinding.” (HR. Abu Daud, Sunan Abu Daud 4/369 no. 5272)

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Dari Ma’qil bin Yasar ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, ditusuk kepala seorang laki-laki dengan jarum besi lebih baik baginya, daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir 2/211).

Ketiga, menjaga muru’ah (wibawa) dan rasa malu.
Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga muru’ah dan rasa malunya, artinya menghindari apa saja yang dapat menjatuhkan wibawa dan martabatnya di depan umum. Adapun yang dimaksud dengan muru’ah yaitu:

آدَابٌ نَفْسَانِيَّةٌ تَحْمِلُ صَاحِبَهَا عَلى الْوُقُوْفِ عِنْدَ مَحَاسِنِ الأَخْلَاقِ وَجَمِيْلِ الْعَادَاتِ

“Adab-adab yang menjadikan seseorang selalu berada pada perilaku/akhlaq dan kebiasaan yang baik” (Al-Wasith fi ‘Ulum wa Mushthalah al-Hadits 1/85).

Diantara contoh perilaku yang dapat menjatuhkan wibawa atau muru’ah seseorang; kecing di jalan, makan dan minum sambil berjalan, banyak tertawa, menampakkan foto kemesraan (berpelukan atau berciuman misalnya) di depan umum dan segala perbuatan maksiat itu dapat menjatuhkan wibawa.

Kesimpulan :

Hukum memajang foto suami-istri adalah boleh dengan syarat menutup aurat, tidak ikhtilat (bercampur baur dengan yang bukan mahram) serta dapat menghindari hal-hal yang dapat menjatuhkan muru’ah (wibawa) seperti berpelukan atau berciuman. Apabila syarat dan ketentuan itu tidak terpenuhi maka hukumnya haram karena dapat memicu orang yang melihat foto tersebut untuk berbuat maksiat.

(Ditulis oleh Ustadz Diki dibaca ulang oleh Ustadz Ginanjar)