Beranda Fikih Apakah Setiap Orang Harus Bermazhab?

Apakah Setiap Orang Harus Bermazhab?

948
0

Ada salah satu ustadz mengharuskan ibadah bermadzhab. Bagaimana seharusnya? Apakah kita mesti bermazhab?

Jawaban :

Madzhab fikih adalah,

الطريقة المُتبعة في استنباط الأحكام الشرعية من أدلتها
[معجم المصطلحات والألفاظ الفقهية]

Jalan/methode yang diikuti untuk menyimpulkan hukum-hukum syara dari dalil-dalilnya. (mu’jam al mushthalahat wal alfadz al fiqhiyyah)

Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa mazhab itu bukan dalil melainkan metode memahami dalil, dan bukan tujuan melainkan sebagai metode pemahaman saja.

Secara umum kita mengenal madzahib yang 4 dalam bidang fikih plus mazhab lain yang tidak sebesar mazhab tersebut, mazhab-mazhab muncul diabad ke-2 hijriyah. Maka dimasa sahabat atau di zaman Nabi SAW belum ada mazhab Hanafi, maliki, syafi’i, hambali dan lain-lain. Kompleksitas dalil dan masalah yang dihadapi ummat sejak mulai abad ke 2 tersebut mendorong lahirnya mazhab-mazhab dalam fiqih Islam.

Secara khusus, setiap ormas keagamaan dikita juga memiliki metode istimbat hukum masing-masing, dan ini juga hakikatnya mazhab dalam ruang lingkup yang lebih spesifik. Metode yang ditempuh LBM di NU misalnya relative berbeda dengan methode MT di Muhammadiyah atau DH di Persis dst. Alhamdulillah kita memiliki DH (Dewan Hisbah) dengan metode yang lebih mutqin menurut kita dibandingkan ormas lain karena semaksimal mungkin mengupayakan ta’shil al hukmi ilaa adillatiha ash shahihah. (mendasarkan hukum kepada dalil-dalilnya yang shahih).

Pertanyaannya: Apakah ibadah yang kita lakukan harus mengikuti mazhab?

Jawab: Tanpa diharuskan pun, mau tidak mau, sadar maupun tidak, terutama dalam persoalan fikih ibadah yang tidak mudah dipahami hukumnya, kenyataannya kita mengikuti metodologi mazhab yang ada. Yang sangat penting diperhatikan adalah memastikan metode mazhab yang kita ikuti benar-benar sesuai tuntunan al Qur’an dan sunah yang shahihah. Sehingga kita mengambil pilihan paling rajih dan paling sesuai tuntunan Nabi saw.

Wallahu A’lam.

Oleh: Ismail Hasyim al Fasiri