Beranda Muamalah Apakah Suami berdosa karena istri mengumbar aurat ?

Apakah Suami berdosa karena istri mengumbar aurat ?

4629
0

Seorang suami rajin beribadah, seperti shalat. Tapi dia membiarkan istrinya berbusana seksi, memperlìhatkan aurat. Dosa kah suami yang demikian itu .. ?

Pada dasarnya seseorang tidak memikul dosa yang lain. Namun, bagi seorang muslim ada kewajiban dakwah untuk saling menasihati serta amar ma’ruf nahi munkar. Jika tidak dilaksanakan maka dia berdosa, bukan karena sebab dosa orang lain tapi karena dia tidak melaksanakan dakwah tersebut atau melalukan tindakan pembiaran. Adapun jika setelah memaksimalkan dakwah, ternyata dia tetap bermaksiat, maka itu sudah diluar tanggungjawab muslim tersebut. Karena kewajiban seorang da’i adalah menyampaikan dan mendidik adapun hasilnya adalah masalah hidayah dari Allah.

{ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39)} [النجم: 38، 39]

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (Surat an-Najm 38-39)

{ ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ} [النحل: 125]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (an-Nahl : 125).

{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ } [التحريم: 6]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Seorang muslim yang berperan sebagai suami tentu berkewajiban untuk mendakwahi dan mendidik keluarganya termasuk didalamnya istri. Diantara syariat terkait kewajiban seorang muslimah adalah wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali yang biasa tampak yaitu wajah dan telapak tangan, berdasarkan firman Allah

{ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31]

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (an-Nur : 31).

Apa yang dimaksud dengan “kecuali yang biasa tampak daripadanya” masksudnya adalah wajah dan telapak tangan sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Abbas, Said bin Jubair dan Atha’ (Tafsir at-Thabari, 19/157). Disamping itu juga tidak berbahan tipis sehingga tembus pandang, tidak membentuk lekukan tubuh, tidak tasyabbuh dan tidak tabarruj.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا ».

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 6/168)

kesimpulannya, pertama seseorang hanya bertanggungjawab terhadap amalnya sendiri. kedua, seseorang tidak memikul dosa orang lain. ketiga, suami tidak berdosa karena dosa yang dilakukan oleh istri. keempat, suami berdosa jika tidak mendakwahi istrinya yang bermaksiyat.