Beranda Shalat Arah Pandangan Ketika Salat

Arah Pandangan Ketika Salat

1409
0
  1. Kemanakah arah pandangan ketika shalat di haram depan ka’bah ?. Sri Bandung.

Jawab :

Menghadap qiblat merupakan salah satu syarat sah salat, artinya salat tidak sah salat tidak menghadap kiblat. Dalam al-Quran kita diperintahkan untuk salat menghadap kitblat

قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (al-Baqarah : 144)

وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ وَإِنَّهُۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan (al-Baqarah : 149)

Dari kedua ayat diatas terdapat tiga kali perintah salat menghadap masjidil haram sebagai kiblat. Ada tiga hokum terkait dengan hal ini, pertama bagi yang berada disekitaran ka’bah atau di dalam masjid al-haram, maka salatnya menghadap ke Ka’bah. Kedua bagi masyarakat yang berada di Makah, maka salatnya menghadap ke arah Masjid al-Haram. Ketiga, masyarakat yang diluar tanah haram (Makkah) di seluruh dunia, maka salatnya menghadap ke tanah Haram (Makkah).

Dalam kedua ayat diatas, secara hakiki yang diperintahkan itu wajah, padahal yang dimaksud adalah keseluruhan badan menghadap arah kiblat ketika salat, yang dalam kajian balagah disebut dengan majaz mursal.

Adapun terkait dengan arah pandangan ketika salat, dalam kaifiyat salat Nabi berdasarkan hadis-hadis adalah sebagai berikut :

Pertama, pandangan ke tempat sujud yaitu ketika sebagai asal dalam salat, berikut hadis dari sahabat Anas bin Malik

قال النبي صلى الله عليه وسلم: “مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat? Suara beliau semakin tinggi hingga beliau bersabda: “Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka.” (Sahih al-Bukhari, 1/150)

Imam al-Bukhari menempatkan hadis tersebut dalam bab mengangkat pandangan mata kelangit ketika salat, berdasarkan petunjuk secara manthuq dalam hadis terkait dengan larangan mengarahkan pandangan ke langit ketika salat. Maka mafhum mukhalafahnya kita diperintahkan untuk menundukan pandangan ketika salat atau melihat ke arah tempat sujud. Imam as-Syaukani dalam Nail al-Authar membuat bab melihat  bab pandangan orang yang salat ke tempat sujudnya dan larangan melihat ke atas ketika salat” dan menempatkan hadis diatas sebagai salah satu argumentasinya. Begitu pula ketika rukuk dan sujud berdasarkan hadis :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَان رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يَشْخَصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ

Dari Aisyah  ia berkata, “Jika Rasulullah saw.  rukuk, beliau tidak mengangkat kepala atau merendahkannya, akan tetapi antara keduanya. (H.R. Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, 2/46)

عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ آرَابٍ وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدْمَاهُ.

Dari Al Abbas bin Abdul Muthallib bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang hamba sujud hendaklah di atas tujuh bagian (anggota tubuhnya); wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kaki.” (HR. Tirmidzi, Sunan at-Tirmizi, 1/360)

Dua hadits di atas walau tidak disebut secara sharih arah pandangan mata, akan tetapi secara mafhum mengarah ke tempat sujud, karena pandangan mata mengikuti arah wajah ke tempat sujud, disamping masih menjadi bagian dari mashadaq perintah arah pandangan ke tempat sujud.

Kedua, disunnahkan pandangan ke arah telunjuk ketika tasyahud

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يُحَرِّكُ الْحَصَى بِيَدِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ لَا تُحَرِّكْ الْحَصَى وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَكِنْ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ وَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ فِي الْقِبْلَةِ وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا أَوْ نَحْوِهَا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ.

dari Abdullah bin ‘Umar dia melihat seorang laki-laki menggerak-gerakkan kerikil dengan tangannya saat shalat. Setelah selesai, Abdullah berkata kepadanya; “Janganlah kamu menggerak-gerakkan kerikil saat shalat, sesungguhnya itu perbuatan syetan. Berbuatlah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.” la berkata; “Bagaimana cara Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melakukannya?” Aku menjawab; “Beliau meletakkan tangan kanan di atas paha kanan, lalu mengangkat jari telunjuknya ke arah kiblat dan mengarahkan pandangan matanya ke jari tersebut -atau ke sekitarnya.” Kemudian ia berkata, “Begitulah cara Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melakukannya.” Hr. Nasai : 1148.

Ketiga, boleh ketika berjamaah mengikuti pandangan ke arah imam untuk mengikuti imam dan tidak mendahuluinya

عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ قُلْنَا لِخَبَّابٍ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ ذَاكَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

dari Abu Ma’mar berkata, “Kami bertanya kepada Khabbab, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan ‘Ashar?” Dia menjawab, “Ya.” Kami tanyakan lagi, “Bagaimana kalian bisa mengetahuinya?” Dia menjawab, “Dari gerakan jenggot Beliau.” (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/150)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكَعْكَعْتَ قَالَ إِنِّي أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau melaksanakan shalat gerhana. Orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, kami lihat tuan mengambil sesuatu saat di posisimu, lalu tuan mundur kembali?” Beliau menjawab: “Aku diperlihatkan surga, lalu aku diberikan setandan anggur. Jika aku mengambilnya niscaya kalian akan memakannya yang akan mengakibatkan terabaikannya urusan dunia.” (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/150)

Dua hadis diatas menunjukan para sahabat melihat gerakan Nabi sallallahu alaihi wa sallam ketika dalam salat, tujuannya tiada lain untuk mengikuti gerakan imam dan tidak mendahuluinya.

Dengan demikian kesimpulannya, ketika salat di depan atau sekitaran Ka’bah, maka salatnya menghadap Ka’bah dengan pandangan mata ke arah tempat sujud, ke arah telunjuk ketika tasyahud, dan boleh melihat imam untuk mutaba’ah imam.