Beranda Fikih Argumentasi Kebolehan Zakat Fitri dengan Nilai atau Uang

Argumentasi Kebolehan Zakat Fitri dengan Nilai atau Uang

331
0

Pertama, kebijakan sahabat Muawiyah dari Abu Said al-Khudri

كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا فَكَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَانَ فِيمَا كَلَّمَ بِهِ النَّاسَ أَنْ قَالَ إِنِّي أَرَى أَنَّ مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَمَّا أَنَا فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ أَبَدًا مَا عِشْتُ

Pada masa Rasulullah ﷺ masih hidup, kami membayar zakat fithrah untuk setiap orang, baik anak kecil maupun dewasa, merdeka maupun budak, yaitu satu sha’ makanan berupa keju, atau gandum, atau kurma atau anggur kering. Pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dia berpidato di hadapan jamaah haji atau umrah, katanya antara lain; “Dua Mud gandum negeri Syam sama dengan satu sha’ kurma.” Karena pidatonya itu maka banyak orang yang membayar zakat fithrahnya seperti itu. Abu Said berkata, “Tetapi aku tetap saja membayar seperti apa yang telah kulakukan sejak zaman Nabi ﷺ hingga akhir hayatku.” (HR. Muslim: 1641)

Dalam hadis diatas secara manthuq, Rasul Saw menetapkan bahwa zakat fitri itu satu sha’ dari makanan yaitu keju, gandum, kurma, kurma kering. Namun sahabat Muawiyah yang waktu itu sebagai gubernur, memahami perintah Rasulullah saw terkait jenis dan ukuran zakat secara mafhum, sehingga menyamakan dua mud gandum Syam sama dengan satu sha’ kurma. Jika acuannya satuan sha’ yang berbasis volume, maka seharusnya empat mud, namun Muawiyah menetapkan dua mud saja, berarti bukan berdasarkan kesamaan ukuran yaitu satu sha’ tapi berdasarkan qimah atau nilai dari dua mud gandum negeri Syam seharga atau senilai dengan satu sha’ kurma, gandum selain syam, keju dan kismis.

Kedua, sahabat Ibn Umar

أَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَجَعَلَ النَّاسُ عِدْلَهُ مُدَّيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ

Nabi ﷺ memerintahkan kami tentang zakat fithri berupa satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum. Berkata, Abdullah ra: Kemudian orang-orang menyamakannya dengan dua mud untuk biji gandum. (HR. al-Bukhari: 1411)

Hadis diatas menunjukan secara sarih bahwa para sahabat memahami hadis Rasulullah Saw secara mafhum, yaitu menyamakan satu sha’ kurma atau gandum dengan dua mud biji gandum, padahal secara ukuran keduanya berbeda, namun secara nilai keduanya sama atau seimbang.

Ketiga, keterangan dari sahabat Asma binti Abu Bakar

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ كُنَّا نُؤَدِّي زَكَاةَ الْفِطْرِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مُدَّيْنِ مِنْ قَمْحٍ بِالْمُدِّ الَّذِي تَقْتَاتُونَ بِهِ

dari Asma’ binti Abu Bakar dia berkata, “Kami menunaikan zakat fitri pada masa Rasulullah ﷺ dengan dua mud dari gandum, yaitu dengan mud yang kalian memakannya.” (HR. Ahmad: 25755)
Hadis diatas menegaskan bahwa maksud dari satu sha’ itu bukan sebagai ketentuan taqdir syar’I semua kebutuhan pokok, namun lebih sebagai kesamaan nilai atau harga, dimana difahami bahwa dua mud gandum senilai dengan satu sha’. Bahkan hal tersebut diamalkan ketia Rasulullah Saw masih hidup.

keempat, kebijakan Abu Bakar ashiddiq

أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَتَبَ لَهُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ رَسُولَهُ ﷺ وَمَنْ بَلَغَتْ صَدَقَتُهُ بِنْتَ مَخَاضٍ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُ بِنْتُ لَبُونٍ فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ وَيُعْطِيهِ الْمُصَدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ بِنْتُ مَخَاضٍ عَلَى وَجْهِهَا وَعِنْدَهُ ابْنُ لَبُونٍ فَإِنَّهُ يُقْبَلُ مِنْهُ وَلَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ

bahwa Anas ra menceritakan kepadanya bahwa Abu Bakar ra telah menulis surat kepadanya (tentang aturan zakat) sebagaimana apa yang telah diperintahkan Allah dan rasulNya, yaitu; barangsiapa yang terkena kewajiban zakat binti makhadh namun dia tidak memilikinya sedang yang ada dimilikinya binti labun, maka zakatnya bisa diterima dengan binti labun dan dia diberi (menerima) dua puluh dirham atau dua ekor kambing. Jadi jika ia tidak memiliki binti makhadh (yang wajib dizakatkan sesuai ketentuan) sedangkan yang ada padanya binti labun maka zakatnya bisa diterima dengan binti labun itu karena dia tidak memiliki yang lain. (HR. al-Bukhari: 1356)

Kebijakan Abu Bakar diatas, bahwa kewajiban pembayaran seharusnya menggunakan bintu makhad, namun karena orang yang wajib zakat hanya punya bintu labun, artinya Abu Bakar menerima zakat tersebut berdasarkan qimah atau nilai, berdasarkan kesamaan jenis atau ukuran.

Kelima, Hadis dari Abu Hurairah

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِالصَّدَقَةِ فَقِيلَ مَنَعَ ابْنُ جَمِيلٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَأَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا قَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَعَمُّ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَهِيَ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ وَمِثْلُهَا مَعَهَا تَابَعَهُ ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِيهِ وَقَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ هِيَ عَلَيْهِ وَمِثْلُهَا مَعَهَا وَقَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ حُدِّثْتُ عَنِ الْأَعْرَجِ بِمِثْلِهِ

Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menunaikan shadaqah (zakat). Lalu dikatakan kepada Beliau bahwa Ibnu Jamil, Khalid bin Al Walid dan ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib tidak mau mengeluarkan zakat. Maka Nabi ﷺ bersabda: Apa yang bisa mengingkari Ibnul jamil tidak mengeluarkan zakatnya sebab dahulunya dia faqir namun kemudian Allah dan RasulNya menjadikannya kaya? Adapun Khalid, sungguh kalian telah menzalimi Khalid, padahal dia telah menghabiskan baju-baju besi dan peralatan perangnya untuk berjuang di jalan Allah. Adapun ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib dia adalah paman Rasulullah ﷺ, namun demikian dia tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat (sebagai kemuliaan). Dan hadits ini diperkuat oleh Ibnu Abu Az Zinad dari bapaknya, dan Ibnu Ishaq berkata dari Abu Az Zinad; Baginya tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat, dan Ibnu Juraij berkata; Telah diriwayatkan kepadaku dari Al A’raj dengan hadits yang serupa. (HR. al-Bukhari: 1375)

Rasul Saw memberi kebijakan kepada khalid bin Walid untuk tidak membebaninya dengan zakat, karena baju besi dan peralatan perangnya telah diwakafkan di jalan Allah. Dari hadis diatas dapat difahami bahwa kaitan dengan penunaian zakat tentu disesuaikan dengan keadaan dari si wajib zakat. Secara mafhum, tentunya berkaitan pula dengan jenis pembayaran dan juga ukurannya, selama senilai dengan apa yang ditentukan oleh Rasul Saw, maka dapat dijadikan sebagai bentuk penuaian zakat.

Keenam, Hadis dari Zainab bin Abdullah

كُنْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ وَكَانَتْ زَيْنَبُ تُنْفِقُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ وَأَيْتَامٍ فِي حَجْرِهَا قَالَ فَقَالَتْ لِعَبْدِ اللَّهِ سَلْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ وَعَلَى أَيْتَامٍ فِي حَجْرِي مِنْ الصَّدَقَةِ فَقَالَ سَلِي أَنْتِ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَانْطَلَقْتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَوَجَدْتُ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ عَلَى الْبَابِ حَاجَتُهَا مِثْلُ حَاجَتِي فَمَرَّ عَلَيْنَا بِلَالٌ فَقُلْنَا سَلْ النَّبِيَّ ﷺ أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي وَقُلْنَا لَا تُخْبِرْ بِنَا فَدَخَلَ فَسَأَلَهُ فَقَالَ مَنْ هُمَا قَالَ زَيْنَبُ قَالَ أَيُّ الزَّيَانِبِ قَالَ امْرَأَةُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ لَهَا أَجْرَانِ أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi ﷺ. Kemudian Beliau bersabda: Bershadaqahlah kalian walau dari perhiasan kalian. Pada saat itu Zainab berinfaq untuk Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya. Dia (‘Amru bin Al Harits) berkata:; Zainab berkata, kepada Abdullah: Tanyakanlah kepada Rasulullah ﷺ apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (zakat) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku. Maka Abdullah berkata: Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah ﷺ . Maka aku berangkat untuk menemui Nabi ﷺ dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: Tolong tanyakan kepada Nabi ﷺ, apakah aku akan mendapat pahala bila aku meninfaqkan shadaqah (zakat) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku? Dan kami tambahkan agar dia (Bilal) tidak menceritakan siapa kami. Maka Bilal masuk lalu bertanya kepada Beliau. Lalu Beliau bertanya: Siapa kedua wanita itu? Bilal berkata: Zainab. Beliau bertanya lagi: Zainab yang mana? Dikatakan: Zainab istri Abdullah. Maka Beliau bersabda: Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya. (HR. al-Bukhari: 1373)

Bershadaqahlah walaupun dengan perhiasan kalian, maksud dari kalimat tersebut tentunya secara umum, apakah shadaqah yang sunnah maupun yang wajib atau zakat. “walaupun dengan perhiasan” menunjukan fleksibilitas jenis pembayaran, termasuk didalamnya pembayaran zakat fitri, secara mafhum dibolehkan dengan qimah atau nilai dengan makanan pokok negeri tersebut.

ketujuh, Sahabat Umar bin Khattab

عَنْ عَطَاءٍ ؛ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَأْخُذُ الْعُرُوضَ فِي الصَّدَقَةِ مِنَ الْوَرِقِ وَغَيْرِهَا.

Dari Atha’ sesungguhnya Umar mengambil perhiasan sebagai pembayaran zakat diantaranya dengan perak dan selainnya (HR Ibn Abi Syaibah, No. 10539)
Kedelapan, Muadz bin Jabal

عَنْ طَاوُوسٍ ؛ أَنَّ مُعَاذًا كَانَ يَأْخُذُ الْعُرُوضَ فِي الصَّدَقَةِ.

Dari Thawus Bahwa Muadz mengambil perhiasan sebagai pembayaran zakat (HR Ibn Abi Syaibah No 10541)
Dua Atsar diatas menunjukan baik Umar maupun Muadz menggunakan qimah dalam pembayaran zakat.

kesembilan, Kebijakan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah

عَنْ قُرَّةَ ، قَالَ : جَاءَنَا كِتَابُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ : نِصْفُ صَاعٍ عَنْ كُلِّ إنْسَانٍ ، أَوْ قِيمَتُهُ نِصْفُ دِرْهَمٍ.

Dari Qurrah berkata : Datang kepada kami surat Umar bin Abdul Aziz tentang zakat fitri “Setengah sha’ pada setiap jiwa atau seukuran setengah dirham” (HR Ibn Abi Syaibah No. 10470)

Setengah sha’ yang menjadi kebijakan makanan negeri tersebut diatas tentunya senilai dengan satu sha’ yang jenisnya disabdakan oleh Rasul Saw disesuaikan dengan nilainya, begitu juga kebijakan mengkonversi zakat fitri dengan uang yaitu setengah dirham.
Dari keterangan-keterangan diatas, jelaslah bahwa pertama, pemahaman pembayaran zakat dengan qimah secara praktik pernah terjadi Rasulullah Saw. Kedua, Pemahaman Sebagian sahabat yang memahami perintah Rasul secara mafhum, sehingga membolehkan qimah atas pembayaran zakat, apalagi posisi Abu Bakar, Umar dan Muawiyah adalah sebagai pemimpin waktu itu. Ketiga, Kebijakan dan pemhamanan tersebut diteruskan pada masa tabiin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembayaran zakat fitri boleh dengan qimah atau uang yang senilai dengan satu sha’ makanan negeri tersebut.

Ginanjar Nugraha
Mudir Ma’had Imam al-Bukhari