Beranda Fikih Bagaimana Hukumnya Suami Meminum ASI Istrinya ?

Bagaimana Hukumnya Suami Meminum ASI Istrinya ?

125
0

Ada beberapa persoalan yang mesti dijelaskan. Pertama tentang hukum ASI. ASI atau Air Susu Ibu merupakan air susu yang keluar dari payudara perempuan. pertama kami belum menemukan dalil tentang keharaman ASI secara zat. Dalam al-Quran didapat keterangan sebagai berikut :

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةًۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّرِبِينَ ﴿٦٦

Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. (QS. An-Nahl[16]: 66)

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa air susu itu berada diantara kotoran dan darah, secara isyarat menunjukan kehalalan air susu dan bukan bukan merupakan najis. Kemudian dalam al-Quranpun diperintahkan para Ibu untuk menyusui anaknya, sekiranya ASI haram dan najis tentunya Allah tidak memerintahkan para ibu untuk menyusui anaknya

وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. (QS. Al-Baqarah[2]: 233)

kedua terkait dengan persusuan suami kepada Istri. persusuan ada dua, pertama adakalanya secara langsung, adakalanya tidak langsung atau melalui perantara. Adapun untuk secara langsung, maka termasuk istimta’ dimana Suami diperbolehkan istimta’ (bercumbu dengan istri). Adapun yang menjadi dalilnya firman Allah sebagai berikut :

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْۖ وَقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُمْۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّكُم مُّلَٰقُوهُۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ﴿٢٢٣

Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemuiNya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah[2]: 223)
Dalam ayat tersebut suami diperbolehkan berjima dengan istri, secara mafhum aula, apalagi hanya sekedar bercumbu termasuk terhadap seluruh tubuh istri. berdasarkan ayat diatas maka suami boleh bersenang-senang termasuk bersentuhan dengan suluruh tubuh istri.

ketiga, terkait dengan konsekuensi persusuan orang dewasa apakah berakibat hukum kepada kemahraman. Perlu diketahui bahwa persusuan yang mengakibatkan adanya hubungan kemahraman syaratnya dua, pertama terjadi sebelum usia dua tahun. kedua secara frekuensi minimal 5 susuan. Adapun yang menjadi dalilnya adalah sebagai berikut :

وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. (QS. Al-Baqarah[2]: 233)

disamping itu diperjelas dan diperkuat oleh hadis-hadis

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَا رِضَاعَ إِلَّا مَا شَدَّ الْعَظْمَ وَأَنْبَتَ اللَّحْمَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا تَسْأَلُونَا وَهَذَا الْحَبْرُ فِيكُمْ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْأَنْبَارِيُّ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِي مُوسَى الْهِلَالِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ بِمَعْنَاهُ وَقَالَ أَنْشَزَ الْعَظْمَ

dari Ibnu Abdullah bin Mas’ud dari Ibnu Mas’ud, ia berkata; Tidaklah (dianggap) persusuan kecuali yang dapat menguatkan tulang dan menumbuhkan daging. Abu Musa berkata; jangan kalian bertanya kepada kami sementara orang alim ini berada di antara kalian. (HR. Abu Daud: 1763)

أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ وَعِنْدِي رَجُلٌ قَالَ يَا عَائِشَةُ مَنْ هَذَا قُلْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ قَالَ يَا عَائِشَةُ انْظُرْنَ مَنْ إِخْوَانُكُنَّ فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنْ الْمَجَاعَةِ تَابَعَهُ ابْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ

bahwa Aisyah ra berkata: Nabi ﷺ menemuiku dan saat itu di sampingku ada seorang pemuda. Beliau bertanya: Wahai Aisyah, siapakah orang ini? Aku menjawab: Ia saudara sesusuanku. Beliau bersabda: Wahai Aisyah lihatlah siapa yang menjadi saudara-saudara kalian, karena sesusuan itu terjadi karena kelaparan. Ibnu Mahdiy juga meriwayatkannya dari Sufyan (HR. al-Bukhari: 2453)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يُحَرِّمُ مِنْ الرِّضَاعَةِ إِلَّا مَا فَتَقَ الْأَمْعَاءَ فِي الثَّدْيِ وَكَانَ قَبْلَ الْفِطَامِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Fatimah bin Al Mundzir dari Umu Salamah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: “Persusuan tidak bisa menjadikan mahram, kecuali (susuan) yang mengenyangkan dan terjadi sebelum disapih.” (HR. at-Tirmidzi: 1072)

Persusuan yang beratsar pada hukum mahram dalam hadis diatas ditunjukan dengan kalimat Menumbuhkan tulang serta daging, karena lapar, dan terjadi sebelum disapih, tentu maksudnya dua tahun sebagaimana dalam alquran. Sehingga antara ayat al-Quran dan hadis saling menguatkan dan menjelaskan satu sama lain.

kedua, terkait frekuensi minimal yang mengakibatkan hukum mahram lima kali susuan, berdasarkan hadis dari Aisyah sebagai berikut :

قَالَتْ كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنْ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنْ الْقُرْآنِ

“Dahulu dalam al-Quran susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah ﷺ wafat, dan ayat-ayat al-Quran masih tetap dibaca seperti itu.” (HR. Muslim: 2634)

Dari keterangan-keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa secara hukum asal, orang dewasa yang meminum ASI, maka tidak berakibat hukum kepada kemahraman.

Hukum Kemahraman karena persusuan
konsekuensi dari dengan sebab radha’ah atau persusuan adalah adanya hubungan kemahraman yang mengharamkan pernikahan termasuk didalamnya kebolehan khalwat.

Adapun yang menjadi dalil adalah ayat sebagai berikut :

…وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ

….“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu yang menyusui kamu, dan diharamkan pula (mengawini) saudara perempuan sepersusuan” an-Nisa : 23

Adapun dari hadis adalah sebagai berikut :
Pertama hadis dari Ibn Abbas Ra :

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ فِي بِنْتِ حَمْزَةَ لَا تَحِلُّ لِي يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ هِيَ بِنْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ

Nabi ﷺ berkata tentang putri Hamzah: Dia tidak halal bagiku karena apa yang diharamkan karena sepersusuan sama diharamkan karena keturunan sedangkan dia adalah putri dari saudaraku sepersusuan. (HR. al-Bukhari: 2451)

kedua, keterangan sahabat Aisyah Ra sebagai berikut :

أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ عِنْدَهَا وَأَنَّهَا سَمِعَتْ صَوْتَ رَجُلٍ يَسْتَأْذِنُ فِي بَيْتِ حَفْصَةَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا رَجُلٌ يَسْتَأْذِنُ فِي بَيْتِكَ قَالَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أُرَاهُ فُلَانًا لِعَمِّ حَفْصَةَ مِنْ الرَّضَاعَةِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لَوْ كَانَ فُلَانٌ حَيًّا لِعَمِّهَا مِنْ الرَّضَاعَةِ دَخَلَ عَلَيَّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نَعَمْ إِنَّ الرَّضَاعَةَ تُحَرِّمُ مَا يَحْرُمُ مِنْ الْوِلَادَةِ

istri Nabi ﷺ mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu hari berada bersamanya dan saat itu dia mendengar suatu suara seorang laki-laki yang meminta ijin di rumah Hafshah. Aisyah ra berkata: Lalu aku katakan kepada Rasulullah ﷺ: Ada seorang laki-laki minta izin masuk di rumah baginda? Aisyah berkata: Maka Rasulullah ﷺ berkata: Aku mengenal bahwa laki-laki itu adalah menjadi paman Hafshah karena sesusuan. Maka Aisyah ra berkata: Seandainya si fulan masih hidup yang dia menjadi pamannya karena sesusuan berarti boleh masuk menemuiku? Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Ya benar, karena satu susuan menjadikan sesuatu diharamkan seperti apa yang diharamkan karena (kelahiran) keturunan. (HR. al-Bukhari: 2452)

dari dua keterangan diatas, maka ditegaskan bahwa akibat hukum persusuan sama dengan akibat dari kelahiran atau nasab terkait dengan keharaman pernikahan atau menjadikannya sebagai mahram.

Maksud Hadis Persusuan orang Dewasa

Ada hadis yang menerangkan tentang persusuan orang dewasa yang berakibat kepada berlakunya hukum kemahraman, hadis dari sahabat Aisyah sebagai berikut :

جَاءَتْ سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلٍ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرَى فِي وَجْهِ أَبِي حُذَيْفَةَ مِنْ دُخُولِ سَالِمٍ وَهُوَ حَلِيفُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ أَرْضِعِيهِ قَالَتْ وَكَيْفَ أُرْضِعُهُ وَهُوَ رَجُلٌ كَبِيرٌ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَقَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّهُ رَجُلٌ كَبِيرٌ زَادَ عَمْرٌو فِي حَدِيثِهِ وَكَانَ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ أَبِي عُمَرَ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

Sahlah binti Suhail datang menemui Nabi ﷺ, dia berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya melihat di wajah Abu Hudzaifah (ada sesuatu) karena keluar masuknya Salim ke rumah, padahal dia adalah pelayannya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Susuilah dia.” Dia (Sahlah) berkata; “Bagaimana mungkin saya menyusuinya, padahal dia telah dewasa?” Maka Rasulullah ﷺ terenyum sambil bersabda: “Sungguh saya telah mengetahuinya kalau dia telah dewasa.” Dalam haditsnya ‘Amru menambahkan; Bahwa dia telah ikut serta dalam perang Badar. Dan dalam riwayatnya Ibnu Abu Umar lantas Rasulullah ﷺ tertawa. (HR. Muslim: 2636)

Hadis diatas menegaskan bahwa persusuan orang dewasa mengakibatkan adanya hubungan kemahraman. Namun jika difahami demikian, maka akan bertentangan dengan dalil-dalil bahwa persusuan yang berakibat kepada hukum kemahraman hanya pada usia dibawah dua tahun. Para ulama berbeda pendapat terkait bagaimana cara menyelesaikan pertentangan tersebut.

Pertama, bahwa persusuan yang mengakibatkan kemahraman dalam hadis Sahlah berlaku hanya bagi Salim saja, atau kekhususan bagi Salim secara personal, tidak berlaku secara umum. kedua, ada ulama yang berpandangan bahwa hadis Sahlah terkait dengan tabanni atau pengangkatan anak yang sudah dihapus oleh Islam, sehingga hukum yang terkait dengannya, menjadi Mansukh atau tidak belaku, sedangkan penghapusnya adalah bahwa persusuan yang berakibat hukum kemahraman adalah sebelum dua tahun. Dua pendapat diatas pada intinya menolak adanya akibat hukum kemahraman dari persusuan orang dewasa. diantara alasan pokoknya adalah keterangan dari Ubaidah bin Abdullah bin Zam’ah

أَنَّ أُمَّهُ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّهَا أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ كَانَتْ تَقُولُ أَبَى سَائِرُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ أَنْ يُدْخِلْنَ عَلَيْهِنَّ أَحَدًا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ وَقُلْنَ لِعَائِشَةَ وَاللَّهِ مَا نَرَى هَذَا إِلَّا رُخْصَةً أَرْخَصَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لِسَالِمٍ خَاصَّةً فَمَا هُوَ بِدَاخِلٍ عَلَيْنَا أَحَدٌ بِهَذِهِ الرَّضَاعَةِ وَلَا رَائِينَا

Bahwa ibunya yaitu Ummu Salamah istri Nabi ﷺ berkata; Para istri Nabi ﷺ enggan memberi kebebasan masuk rumah mereka bagi anak-anak yang telah dijadikan mahram karena susuan. Dan kami berkata kepada Aisyah; Demi Allah kami tidak melihat hal ini kecuali hanya sekedar keringanan yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ khusus untuk Salim, oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mahram karena susuan yang boleh masuk ke rumah kami dan melihat kami. (HR. Muslim: 2641)

hadis diatas menganggap bahwa kebolehan persusuan kepada orang dewasa yang berakibat kepada kemahraman hanya khusus kepada sahabat Salim saja, tidak dengan yang lain.

ketiga, ada yang memandang bahwa persusuan orang dewasa secara Mutlaq berakibat hukum kepada kemahraman. keempat, ada ulama yang berpandangan bahwa hadis Sahlah itu merupakan takhsis atau pengkhususan dari keumuman bahwa persusuan yang berakibat hukum kemahraman sebelum dua tahun. Sebabnya karena kebutuhan yang mendesak serta tak terhindarkan, misalnya seperti antara Ibu dan anak asuhannya sebagaimana dalam kasus Sahlah dan Salim. kedua pendapat diatas merupakan yang membolehkan, tentu maksudnya memberi ASI itu bukan dengan cara langsung, karena hal tersebut diharamkan, akan tetapi dengan cara diperas dan dituangkan baik lewat media.

Dari berbagai pendapat diatas, menurut kami yang paling kuat adalah pendapat keeempat, dengan alasan pertama, menggunakan metode jama dengan metode am dan takhsis, sehingga kedua dalil dapat diselaraskan, sesuai dengan kaidah bahwa menjama dua dalil yang bertentangan didahulukan dari metode tarjih dan nasikh mansukh. Kedua, sesuai dengan kebutuhan dan hajat sebagai mana dalam kasus Sahlah dan Salim. ketiga, keberlakuaan khusus hanya untuk Salim saja, hampir sama dengan meniadakan hukum hadis salim. keempat, klaim nasikh dan Mansukh juga tertolak karena tidak dapat diketahui mana yang dahulu serta kemudian, serta bertentangan dengan zahir matan hadis Salim, bahwa Rasul Saw mengetahui hukum umum bahwa persusuan yang mengakibatkan mahram hanya sebelum dua tahun, serta menegaskan adanya takhsis bagi Salim sebagai orang dewasa.

Dengan demikian kesimpulannya, pertama, ASI hukumnya halal dan bukan najis. kedua, suami boleh meminum ASI istrinya, baik secara langsung atau tidak langsung. ketiga, suami yang meminum ASI istrinya tidak berakibat hukum kemahraman yang menjadikan pernikahannnya menjadi fasakh atau putus pernikahannya, sehingga tetap sah sebagai suami dan istri. Keempat, kendatipun dibolehkan tentu dengan tetap memprioritaskan hak utama anak.

Ginanjar Nugraha
Mudir Ma’had Imam al-Bukhari Bandung