Beranda Uncategorized BERKACA PADA TUAN A. HASSAN ; SANG MUJADDID

BERKACA PADA TUAN A. HASSAN ; SANG MUJADDID

894
2

BERKACA PADA TUAN A. HASSAN ; SANG MUJADDID
Oleh Ginanjar Nugraha
Konteks Historis
Sebelum datangnya Islam, kepercayaan animisme dan dinamisme serta ajaran Hindu Budha telah berkembang di Indonesia. Kepercayaan tersebut lambat laun perkembangannya semakin menurun dan akhirnya digantikan oleh Islam. Islam merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia, hal ini merupakan keberhasilan jerih payah para ulama yang tak kenal lelah mengembangkan Islam baik secara kultural maupun struktural.
Akan tetapi, pendekatan secara kultural yang didakwahkan wali songo , disamping sebuah keberhasilan yang gemilang dengan tersebarnya Islam ke Nusantara, menyisakan Pekerjaan rumah bagi generasi setelahnya, yaitu adanya akibat dari asimilasi antara agama dan budaya. Sehingga konsep keagamaan dan prakteknya menjadi bias dan tidak murni . Masyarakat tidak bisa membedakan lagi mana budaya dan Agama. Disamping itu, secara politik, praktik kolonialisme dan orientalisme yang sistemik menjadikan umat Islam terbelakang dan menjauhkan masyarakat Islam dari Islam itu sendiri.
Bahayanya, hal tersebut tertanam dalam alam bawah masyarakat Indonesia dan bersifat hegemonik. Sehingga dibutuhkan sebuah gerakan “penyadaran revolusioner” untuk membongkar kesadaran palsu (falses concioussness) tersebut. Hal ini diringkas oleh perkataan Abduh yang terkenal “al-Islam mahjubun bil Muslimin” artinya Islam itu terhalang oleh kaum muslimin sendiri. Baik disadari ataupun tidak.
Dalam konteks politik global, gerakan pembaharuan yang di motori oleh Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afghani, Syaikh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho telah masuk pengaruhnya ke Indonesia. Sedikitnya ada tiga jalur bagaimana proses tranformasi pembaharuan tersebut, pertama jalur pendidikan, kedua jalur ibadah Haji dan ketiga melalui buku-buku dan majalah .
Disinilah gerakan Tajdid menemukan momentumnya. Gerakan ini berpedoman “Kembali kepada al-Quran dan As-Sunnah” sebagai solusi bagi berbagai permasalahan yang diderita Umat Islam. Gerakan Tajdid mempunyai dua fungsi yang fundamental. Pertama, secara eksternal, menjadi inspirasi awal perlawanan terhadap kolonialisme, sebagaimana dalam tesis Max Weber, bahwa etika protestan mejadi spirit dasar bagi kapitalisme di Eropa . Kedua, secara internal, merupakan gerakan otokritik terhadap umat Islam sendiri. Karena itu, sebagai sebuah respon dari konteks sosio historis, maka gerakan tajdid ini cenderung bersifat frontal, radikal dan fundamental, demi kesuksesan dakwah Islam waktu itu.
Gerakan Tajdid ini juga dinamakan dengan gerakan Kaum Muda, sedangkan yang masih mempertahankan Islam secara tradisional disebut dengan Kaum Tua. Tipologi ini berdasarkan paham keagamaan bukan berdasarkan umur organisasi ataupun pribadi. Pada awal abad 20, Kaum Muda direpresentasikan kepada Muhammadiyah, al-Irsyad dan Persatuan Islam. Sedangkan Kaum Tua direpresentasikan kepada Nahdhatul Ulama. Walaupun keduanya berbeda pandangan dalam konsep perjuangan, bahkan cenderung terjadi pertentangan, tapi baik Kaum Muda maupun Kaum Tua sepakat mempunyai musuh bersama yaitu kristenisasi dan penjajah Belanda .
Peran penting Persatuan Islam sebagai salah satu representasi ‘Kaum Muda’ digambarkan secara apik oleh Howard M. Federspiel dalam disertasinya tentang Persatuan Islam “Arti Persatuan Islam lebih terletak pada upaya dalam mendefinisikan penegakan Islam, prinsip-prinsip yang mendasarinya, dan perilaku muslim yang semestinya bagi masyarakat Indonesia. Dalam menggambarkan Islam, para aktivis persatuan Islam menghindari pelbagai konsep dan generalisasi yang samar yang lazim di Indonesia dan menyibukan diri dengan rincian dan substansi perilaku keagaamaan ”.
Prof. Dr. Hamka Bahwa di Jawa ada tiga ulama terkemuka yang menyebarkan paham-paham Syaikh Muhammad Abduh, yaitu (disingkat menjadi tiga Ahmad) Syaikh Ahmad Syoorkati, pendiri al-Irsyad, K.H. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah, dan Ustadz Ahmad Hassan yang menjadi salah satu pemimpin Persis . Pada masa generasi awal Persis, A. Hassan dan Persis merupakan ibarat dua mata uang yang tak dapat dipisahkan dan bersinergi menjadi sebuah gerakan dakwah yang disegani dan mewarnai pembentukan Indonesia pra kemerdekaan.

A. Hassan ; Guru Utama Persatuan Islam, Pertemuan awal dengan Persis
Menurut Prof . Dadan Wildan Anas, A. Hassan Masuk Persis sebenarnya bukan karena tertarik pada paham-pahamya, karena ternyata justru A. Hassan lah yang membawa Persis menu gerakan Islah”. Hal berbeda diungkapkan oleh Dr. Atif Latifulhayat, mantan Ketua Umum Pemuda Persis ini, yang mengkritisi kesimpulan Dadan Wildan Anas. Menurut Atif, kesimpulan tersebut agak tergesa-gesa. Tidak mungkin A. Hassan bergabung dengan Persis kalau tidak ada sesuatu yang menarik di dalamnya. A. Hassan memilih Persis karena mempunyai ide yang sama dengannya, yakni perlunya pengkajian ulang terhadap fikrah dan praktik keagamaan yang dinilai sudah jauh menyimpang dari tuntunan al-Quran dan As-sunnah .
Menurut saya A. Hassan memilih Persis merupakan pilihan rasional dengan beberapa latar belakang. Pertama kesamaan visi kembali kepada al-Quran dan As-sunnah menjadi daya tarik fikrah bagi A. Hassan. Kedua, A. Hassan membutuhkan sebuah organisasi yang dapat mewadahi berbagai kegelisahan intelektual dan ide-ide perjuangannya. Disinilah kesadaran beliau bahwa dakwah harus terorganisir demi maksimalisasi kesuksesan dalam berdakwah. Ketiga, A. Hasan mebutuhkan sarana aktualisasi diri dan interaksi dalam sebuah komunitas yang sepaham, sehingga potensi dan kemampuan yang beliau miliki bisa lebih terasah dan lebih bermanfaat bagi umat.
Disisi lain, persis sebagai sebuah organisasi yang masih “muda”, membutuhkan tenaga baru yang mampu menterjemahkan dan membumikan semboyan “ Kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah” menjadi sebuah kesuksesan dakwah yang nyata di masyarakat. Disamping itu, Pada titik pertemuan inilah A. Hassan dan Persis menjadi identik dan tak dapat dipisahkan. Seolah menjadi dwitunggal dalam pergerakan kembali kepada al-Quran dan as-sunnah.
Berdebat, Berdebat dan Berdebat !
Debat merupakan salah satu metode dakwah yang sering dilakukan A. Hassan. Paham Persispun banyak berkembang melalui metode ini. Bahkan seolah-olah menjadi salah satu identitas bagi Persis. Sebagai ulama yang militant, A. Hassan pernah mendebat orang-orang atheis, Ahmadiyah, Kristen, bahkan sempat menyadarkan sebagian diantara mereka. Kalau berdebat, lawannya selalu diberondong terus-menerus hingga mati kutu. Ulama yang prolifik ini mempunyai resep khusus dalam berdebat yang tak kalah dengan taktik perangnya Sun Tzu “ Kalau lawan bertanya, harus dijawab dengan pertanyaan pula. Lalu carilah kelemahan pada tiap-tiap pertanyaan”
Perdebatan-perdebatan yang pernah dilakukan Persatuan Islam diantaranya :
1. Ahmadiyyah Qadiyan, tentang faham gerakan ini, misalnya kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan lainnya. Dari fihak Ahmadiyyah diwakili oleh Rahmat Ali dan Abu Bakar Ayyub. Debat ini dilakuakan tiga kali ; dua kali di Jakarta dan sekali di Bandung.
2. Kristen (Sevent Day Adventis) tentang kebenaran agama Kristen dan bible. Debat ini dilakukan tiga kali secara terbuka dan beberapa kali secara tertutup
3. Kaum Tua tentang masalah taqlid dan bid’ah, pertama dengan Ittihadul Islamiyyah Sukabumi (K.A. Sanusi), kedua Majelis Ahlus-Sunnah Bandung. Ketiga Nahdatul Ulama di Cirebon tahun 1932 (H. Abdul Khair) dan di Bandung tahun 1935 (A. Wahab Hasbullah) dan di Gebang tahun 1936 (Masduqi)
4. Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), tentang paham kebangsaan. Debat ini dilakukan dengan tertutup, Permi diwakili oleh Mukhtar Luthfi.
5. Atheis, yaitu seorang bernama M. Ahsan dari Malang. Perdebatan dilakukan di Gedung al-Irsyad Surabaya tahun 1955. A. Hassan di pihak yang mengakui adanya Tuhan dan M. Ahsan sebaliknya .
Dakwah yang dilakukan A. Hassan bukanlah tanpa tantangan. Berbagai tuduhan negatif dialamatkan kepada ulama yang dikenal dengan kuat hujjahnya ini. Bahkan, dalam konteks pertentangan antara kaum tua dan kaum muda, A. Hassan, pernah dihukumi kafir oleh Mufti Johor waktu itu, Sohibul Samahah Sayyid Alwi al-Haddad, di dalam akhbar Semenanjung bertarikh 14 Julai 1958 dengan tajuk Tiada Guna Kerana Mengelirukan Orang Ramai : Kaum Muda Menyebabkan 30 Juta Jadi Komunis. Alasannya karena A. Hassan menggunakan teori Darwin dan Sigmund Freud dalam mengarang tafsir al-Quran . Tuduhan ini dibantah oleh Buya Hamka dalam bukunya Teguran Suci dan Jujur Terhadap mufti johor (1958) sebagai berikut :
Kata Hamka, beberapa tahun yang lalu ada seorang pemuda Indonesia mengakui dirinya telah keluar dari agama Islam . Dan dia mengakui tuhan Allah tidak ada. Nama pemuda itu Suradal. Dan dia menentang ulama- ulama Islam bermujadalah dan berdebat.
Tak satupun ulama Kaum Tua yang mau melayani. Hanya cukup dengan perkataan “Suradal Kafir” dan memandangnya sebagai orang yang miring otaknya. Tapi Tuan Hassan Bandung menjawabnya dengan dengan forum debat terbuka di Jakarta, dihadiri oleh seribu orang lebih.
Maka dengan gagah dan congkak pemuda itu mengeluarkan segala pokok dan taruhanya mula-mula seakan-akan dia yang benar, tetapi setelah segala tentangan itu ditangkis Almarhum Tuan Hassan dengan mantiq yang lebih tinggi, habislah pokok taruhan pemuda itu, tidak dapat berkutik lagi. Sehingga debat tidak dapat diteruskan sebab dia segera telah kalah. Orang ramai menjadi jengkel seekor semut melawan gergasi . Inilah Tuan Hassan Bandung yang dikafirkan oleh Mufti Johor itu. Dan di Malang, Jawa Timur ada pula seorang pemuda lain, yang berfahaman demikian pula. Berdiskusi dengan Almarhum Tuan Hassan. Akhirnya, pemuda itu tunduk dan kembali menjadi orang Islam” .
Tulisan dibawah ini adalah salah satu rekaman sejarah perdebatan A. Hassan (Persis) dengan Ahmadiyyah :
Dalam perdebatan itu, A Hassan yang dikenal piawai dalam berdebat, mengemukakan sebuah ‘hadis’ yang dikutip dari kitab Mirza, yang berbunyi: “Di hari Rasulullah saw meninggal, bumi berteriak. Katanya: “Ya Allah, apakah badanku ini akan Engkau kosongkan daripada diinjak oleh kaki-kaki nabi sampai hari kiamat?” Maka Allah berfirman kepada bumi itu: “Aku akan jadikan di atas badanmu (di atas muka bumi, red) manusia yang hatinya seperti nabi-nabi:’
Secara spontan, Abu Bakar Ayyub menanyakan kepada A Hassan tentang riwayat hadits ini. Dengan berpura-pura, A Hassan menjawab “tidak tahu” sambil mengatakan, “Apakah tuan suka hadis ini? Bila tuan suka silakan pakai, bila tidak silakan tolak:’ Mendengar jawaban A Hassan yang tidak mengetahui siapa perawi hadits itu, Abu Bakar Ayyub dan para pengikut Ahmadiyah yang hadir menyunggingkan senyum dan bersorak kemenangan. Mereka mengganggap A Hassan sudah kalah karena mengutip ‘hadis’ yang tak jelas siapa perawinya, diambil dari kitab mana, dan siapa penulisnya. Karena tak jelas, Abu Bakar Ayyub menolak ‘hadis’ itu.
Setelah sorak sorai ‘kemenangan’ itu reda, A Hassan menyebutkan bahwa ‘hadits’ itu ada dalam kitab yang ditulis Mirza, yang berjudul Tuhfah Baghdad halaman 11, terbitan Punjab Press Sialkot, Muharram 1311. Seketika, Abu Bakar Ayyub dan para pendukungnya tersentak dan pucat pasi. Selanjutnya, giliran A Hassan tersenyum sambil menyuruh Abu Bakar Ayyub bertanya kepada ‘nabinya’ (Mirza Ghulam Ahmad) untuk menanyakan siapa perawi hadits itu dan dari kitab mana diambilnya. Tanyakan pula, kata A Hassan, bagaimana bumi bisa bicara kepada manusia, sebab ‘hadis’ itu bukan hadits Nabi, mengingat dalam kitab Mirza itu ditulis, bumi berteriak setelah Rasulullah wafat. “Tentu ada orang lain yang mendengar omongan bumi. Siapa dia? Tanyakan kepada nabi Mirza;’ ketus A Hassan. Meski sudah terdesak, Abu Bakar Ayyub masih berkelit dan mengatakan bahwa ‘hadis’ itu bisa jadi terdapat dalam Kitab Kanzul Ummi yang juga milik Ahmadiyah.
Namun saat itu, Abu Bakar Ayyub mengatakan tidak membawa kitab tersebut, jadi tidak bisa dicek. A. Hassan kemudian menegaskan, dengan adanya perkataan yang ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad itu sudah cukup menunjukan palsunya kenabian Mirza. “Kalau perkataan yang begini terang, tuan mau putar-putar lagi, saya minta diadakan juri. Saya heran, apa sebab Ahmadiyah takut diadakan juri. Juri tidak akan makan orang!” tegas A. Hassan yang meminta diadakan juri untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Kisah perdebatan itu ditulis oleh H Tamar Djaya, salah seorang penulis biografi A. Hassan .
Berikut adalah salah satu petikan debat beliau yang berjudul “Tuan Hassan Ulama Kodok”
Penanya : Apa saja yang tidak boleh dimakan menurut hukum Islam ?
Tuan Hassan : Yang diharamkan oleh Allah adalah bangkai, darah, daging babi dan segala
sesuatu yang diperuntukan selain Allah. Cuma itu yang haram dimakan,
yang lain tidak.
Penanya : Bagaimana dengan kodok, halalkah atau haram ?
Tuan Hassan : Tentu saja halal.
Penanya : Apa kita tidak jijik memakan daging kodok ?
Tuan Hassan : Perkara jijik itu urusan tuan sendiri. Hanya sekedar tuan jijik, tidak bisa
mengubah hukum yang ada di dalam al-Quran.
Penanya : Kalau begitu tuan Hassan ini pantas dijuluki “ulama” kodok.
Tuan Hassan : Tentang kerbau, bagaimana menurut pendapat tuan ?
Penanya : Tentu saja boleh dimakan.
Tuan Hassan : Kalau begitu tuan lebih cocok kita namakan “ulama” kerbau .

Kaderisasi Gaya A. Hassan
Kaderisasi merupakan sebuah keniscayaan bagi keberlangsungan hidup atau matinya sebuah organisasi. Jalan kepahlawanan atau pecundang dapat dilihat dari seberapa jauh perhatian organisasi tersebut terhadap kaderisasi. Kesadaran urgensi kaderisasi itulah yang beliau curahkan sebagai salah satu perhatian dalam perjuangan dakwah A. Hassan. Disamping karena Persis, sebagai organisasi yang masih berumur muda dan anggota yang terbatas, membutuhkan kader-kader yang militan mujahid dakwah demi keberlangsungan perjuangan kembali kepada al-Quran dan as-sunnah. Tapi juga untuk “tenaga-tenaga baru” yang melakukan social engineering menuju Islam dan Indonesia yang lebih baik.
Dalam konteks konteks politik. Perhatian yang besar terhadap kaderisasi ini bisa dibaca sebagai sebuah perlawanan intelektual terhadap kolonialisme Belanda waktu itu. Perlawanan intelektual ini diwadahi dengan menggunakan organisasi Persatuan Islam melalui penerbitan-penerbitan majalah Islam maupun debat terbuka serta polemik dengan berbagai kalangan.
Metode kaderisasi A. Hassan begitu edukatif dan egaliter. Kepribadian dan keluasan ilmu A. Hassan, seolah menjadi magnet bagi setiap orang yang berinteraksi dengannya. Pusaran kaderisasinya menarik orang disekitarnya menjadi pusaran ilmu kembali yang menjadi inspirasi bagi setiap orang. Pribadi dan Kaderisasi tersebut sangat apik digambarkan oleh salah satu murid utama beliau, kelak menjadi Perdana Menteri dan Ketua Partai Masyumi, Dr. Mohammad Natsir sebagai berikut :
“…Suatu Keistimewan dalam diri A. Hassan ialah setiap orang yang berkenalan dengan beliau segera tertarik pada pribadinya. Seorang ulama yang ramah, suka berkelakar, dan juga memikat hati anak-anak muda sekelilingnya. Kepada semua orang beliau memanggilnya “Tuan” baik yang baru kenal maupun yang sudah lama dikenal. Bahkan kepada kader-kadernya sekalipun…”
“Beliau tidak mau menyuapkan sesuatu ibarat makanan kepada kader-kadernya, tetapi haruslah berbuat sendiri dengan penuh tanggungjawab. Semboyannya Bila seorang bayi selalu dipangku saja, dia tidak akan pandai berjalan. Kalau beliau menyetujui sesuatu, hendaklah kita pandai meyelesaikannya. Beliau mendidik kadernya berani bertanggungjawab dan sanggup berjuang menghadapi masalah-masalah, walaupun bagaimana rumitnya. Inilah yang dinilainya baik bagi angkatan pemuda islam. Kami yang berada didekat beliau selalu diteliti dengan kuat, disiplin dengan keta, dan diberi tanggungjawab masing-masing. Jika kami memajukan masalah agama, beliau tidak menjawabnya langsung, tapi disuruhnya mencari dalam kitab-kitab yang ada dalam berbagai bahasa, terutama bahasa arab dan inggris. Saya diberi tugas tertentu, demikian juga Fakhruddin al-Kahiri, Abdurrahman, Qamaruddin Saleh, Isa Anshari dan lainnya” .
A. Hassan Sebagai Penulis Prolifik
A. Hassan dikenal bukan hanya sebagai ahli debat dan kaderisasi, tapi juga sebagai seorang penulis yang prolifik. Selama A. Hassan hidup, menurut catatan Dr. Syafiq A. Mughni, tidak kurang dari delapan puluh satu judul buku . Tajam, berani, lugas dan logis, itulah karakter dasar dalam tulisan A. Hassan. Walaupun dikenal tajam dalam tulisan, tapi berbanding terbalik dalam pergaulan. Tepatlah jika Tamar Djaja (1980) mengistilahkan A. Hassan dengan perumpamaan” singa dalam tulisan tapi domba dalam pergaulan” Sebagaimana hubungan beliau dengan Soekarno. Ketika Soekarno dalam penjara Sukamiskin, A. Hassan dan kaum Pembela Islam rajin menjenguk dan memberi buku-buku bacaan selama dalam penjara ..
Tema Buku-buku karangan A. Hassan sangat beragam, sebuah bukti akan keluasan bacaan dan pengetahuan yang dimiliki beliau. Diantara buku-bukunya yang terkenal adalah Soal Jawab, Pengajaran Salat, Tafsir al-Furqan, al-Faraidh, Pengajaran Salat, Tarjamah Bulugul Maram dan lainnya.
Misal ketajaman tulisan A. Hasan dalam salah satu bukunya tentang ketuhanan Yesus, “ Apakah Tuhan tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan umat manusia kecuali dengan mengorbankan daging dan darah ?” Bukankah lebih mudah bagi Dia untuk mengampuni umat manusia (dosa-dosanya) tanpa harus menumpahkan darah putra-Nya sendiri..kami dan seluruh orang di dunia ini tidak dapat memahami metode aljabar yang luar biasa (yang digunakan) orang-orang kristen. Misalnya bagaimana mungkin satu dapat sama dengan tiga dan tiga sama dengan satu” . Pertanyaan-pertanyaan kritis inilah yang menjadi ciri khas dari A. Hassan dalam setiap perdebatan maupun tulisan.
Salah satu argumentasi A. Hassan tentang masalah eksistensi Tuhan adalah sebagai berikut : “ Dua ekor kambing jantan dan betina yang kita lihat, tida ragu-ragu kita menetapkan bahwa mereka jadi dari dua kambing jantan dan betin pula. Akhirnya kita terpaksa berhenti pada dua kamning jantan dan betina yang tidak terjadi dari kambing lain. Darimanakah datangnya kambing itu mula-mula ?.
.
Tidak mungkin ia jadi sendiri, dengan tidak disebabkan oleh suatu penyebab. Tidak mungkin ia jadi dari sel-sel dan atom-atom yang berevolusi, karena kambing mempunyai nyawa dan kemauan, sedangkan sel-sel dan atom-atom tidak mempunyainya. Dan evolusi saja tidak dapat menimbulkan sesuatu yang pada asalnya tidak ada” . Ini hanya beberapa contoh saja dari kepiawaian A. Hassan dalam berhujjah.
A. Hassan, Guru Spiritual Soekarno
Berkaitan dengan pengaruh karya-karya A. Hassan, Soekarno merupakan salah satu lawan debat tulisan sekaligus orang yang banyak dipengaruhi pemahaman keagamaannya oleh A. Hassan. Soekarno dalam buku Di Bawah Panji Revolusi menulis Bab Khusus yaitu “ Surat-Surat Islam dari Endeh ; Dari Ir. Soekarno Kepada Tuan A. Hassan, Guru “Persatuan Islam” Bandung. Bab tersebut berisi surat-surat yang terarsip sekitar dua belas surat beliau kepada A. Hassan. Tak kurang dari 21 halaman tertulis rapih dalam buku tersebut. Hal ini menggambarkan begitu dekat dan akrabnya antara Soekarno dengan A. Hassan. Serta begitu besarnya pengaruh A. Hassan terhadap pola keberagamaan Soekarno waktu itu.
Berikut adalah beberapa kutipan surat-surat Soekarno kepada A. Hassan
Endeh, 1 Desember 1934
Assalamu’alaikum,
“Djikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saja buku-buku jang dibawah ini : 1 Pengajaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 al-Burhan complete, 1 Djawahir….”
Dari surat tersebut, Soekarno tidak sungkan untuk meminta gratis buku-buku yang dibutuhkannya kepada A. Hassan. Tentu saja A. Hassan berbaik hati dan mengirim buku-buku yang dibutuhkan oleh Soekarno. Apalagi Soekarno adalah seorang pemimpin pergerakan nasional kemerdekaan yang berpengaruh. Kesempatan ini digunakan dengan baik oleh A. Hassan untuk mempengaruhi Soekarno dengan pemahaman-pemahaman Persatuan Islam.
Endeh, 17 Julli 1935
“…Alhamdulillah, antara kawan-kawan saja di Endeh, sudah banjak jang mulai luntur kekolotan dan kedjumudannja. Kini mereka sudah sehaluan dengan kita dan tidak mau mengambing sahadja lagi kepada kekolotannja, ketachajulannja, kedjumudannja, kehadramautannja, kemesumannja, kemusjrikannja (karena pertjaja pada azimat-azimat, tangkal-tangkal dan keramat-keramat) kaum kuno, dan mulailah terbuka hatinja buat”Agama jang hidup” .
Khatimah
Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari Guru Utama Persatuan Islam A. Hassan ini. Kegigihan, semangat, keteguhan, keberanian, kesabaran, keterbukaan dan wawasan hanya sepercik hikmah dari potret kehidupan beliau. Hikmah hanya akan jadi debu beterbangan. Sejarah heroik hanya menjadi buah bibir belaka. Bahkan hanya romantisme sejarah. Jika kita tidak segera bergerak dan bertindak nyata untuk umat. Mudah-mudahan tulisan ini dapat membakar semangat serta “Mempertegas Peran Pemuda Persis Sebagai Uswah Hasanah”.

2 KOMENTAR

  1. Sayangnnya saat ini di Persis tidak ada lagi ulama sekaliber A. Hassan.
    Bahkan pemikiran ulama Persis sekarang ini mulai ada yang bergeser dari pemikiran A. Hassan.
    Contohnya mengenai metode Hisab dalam penentuan awal bulan hijriyyah. A. Hassan sejatinya menganut metode Hisab Wujudul Hilal, bukan Hisab Imkanurru’yah seperti yg sekarang dianut oleh para ulama Persis.

    • kang ikhwan, doakan saja dari rahim persis ini akan lahir para tokoh sekaliber A Hassan milenial. Masalah kriteria awal bulan, dulu persis berpegang kepada wujudul hilal, namun sekarang berprinsip kepada imkan rukyah lapan. ini menunjukan dinamika pemikiran di persatuan islam artinya selalu berkembang, tanpa taqlid, bahkan kepada A Hassan sekalipun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here