Beranda Shalat Bolehkan Ibadah Jumat dilaksanakan di Rumah ?

Bolehkan Ibadah Jumat dilaksanakan di Rumah ?

890
0

Bolehkan melaksanakan Ibadah Jumat selain di Masjid ?

Ibadah Jumat hukumnya wajib dilaksanakan secara berjamaah dan merupakan syiar bagi kaum muslimin, Firman Allah Swt:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. Al-Jumuah:9)

Maksud dzikrullah dalam ayat tersebut termasuk bukan hanya salat Jumat, tapi juga khutbah Jumat berdasarkan hadis dari Abu Hurairah

فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khutbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khutbah tersebut).”( HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 1/301)

Berikut adalah ancaman hukuman bagi yang tidak melaksanakan salat Jumat

عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِيْنَ

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jum’at menghentikan perbuatannya, ataukah mereka ingin Allah membutakan hati mereka, dan sesudah itu mereka benar-benar menjadi orang yang lalai. (H.r. Muslim, Shahih Muslim, 2/591)

Bagi orang yang tidak dikecualikan dari kewajiban Jumat maka wajib Zuhur yaitu orang yang sakit, perempuan, hamba sahaya dan orang yang tidak menemukan jamaah atau sendirian, melaksanakan salat zuhur. Adapun bagi musafir, maka ketentuannya wajib mukhayyar yaitu memilih antara ibadah jumat dan salat zuhur.

Dari Thariq bin Syihab, Rasulullah Saw bersabda :

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Dari Thariq bin Syihab dari Nabi Saw. beliau bersabda; “Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah, kecuali empat golongan, yaitu; hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit.” (H.R Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/3)

Misalnya orang yang sakit, maka kewajibannya adalah melaksanakan salat zuhur, berdasarkan keterangan :

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ذُكِرَ لَهُ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ وَكَانَ بَدْرِيًّا مَرِضَ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ فَرَكِبَ إِلَيْهِ بَعْدَ أَنْ تَعَالَى النَّهَارُ وَاقْتَرَبَتْ الْجُمُعَةُ وَتَرَكَ الْجُمُعَةَ

Dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar Ra. diceritakan kepadanya bahwa Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail, salah serang yang ikut perang Badar sedang menderita sakit pada hari Jum’at. Maka Ibnu ‘Umar Ra. mendatanginya dengan berkendaraan saat tengah hari dan waktu shalat Jumat sudah dekat dan dia meninggalkan shalat Jum’at.” (H.r. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 5/80)

Adapun minimal jumlah jamaahnya adalah minimal dua orang yaitu adanya imam/khatib dan makmum

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى وَرَقَدَ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Pada suatu malam aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku berdiri di samping kirinya. Rasulullah Saw kemudian memegang kepalaku dari arah belakangku, lalu menempatkan aku di sebelah kanannya. Beliau kemudian shalat dan tidur setelahnya. Setelah itu datang mu’adzin kepada beliau, maka beliau pun berangkat shalat dengan tidak berwudlu lagi (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/146)

Terkait tempat pelaksanaan ibadah jumat, Tentu bagi kaum muslimin seuutama-utamanya dan diusahakan pelaksanaannya di masjid, sebagaimana salat wajib lainnya secara berjamaah. Namun ada beberapa keterangan sebagai berikut :

Pertama, Dari Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Saw bersabda :

…وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ …

“bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; maka dimana saja seorang laki-laki dari ummatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat.” (HR al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/128)

Hadis diatas secara umum menunjukan bahwa bumi merupakan tempat salat, termasuk salat Jumat didalamnya, tentunya dikecualikan pada tempat-tempat yang dilarang salat diatasnya.

Kedua, sahnya pelaksaaan ibadah jumat di luar masjid

عَنْ أَبِي مَلِيحِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَصَابَ النَّاسَ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ يَعْنِي مَطَرًا فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُودِيَ أَنَّ الصَّلَاةَ الْيَوْمَ أَوْ الْجُمُعَةَ الْيَوْمَ فِي الرِّحَالِ

Dari Abu Malih bin Usamah dari Ayahnya ia berkata; “Pernah hujan turun di hari Jum’at, maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan lalu diserukan: ‘bahwa shalat Jum’at hari itu dikerjakan di persinggahan masing-masing’.” (HR. Ahmad, Musnad Ahmad 5/24)

Hadis diatas menunjukan bahwa masjid bukanlah syarat sah ibadah jumat

Ketiga, Umar bin Khatab pernah memerintahkan supaya mengadakan Jumat dimanapun berada

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ؛ أَنَّهُمْ كَتَبُوا إِلَى عُمَرَ يَسْأَلُونَهُ عَنِ الْجُمُعَةِ ؟ فَكَتَبَ : جَمِّعُوا حَيْثُمَا كُنْتُمْ

Dari Abu Huraerah bahwa orang-orang mengirim surat kepada Umar menanyakan tentang shalat Jumat, lalu Umar menulis kepada mereka (Penduduk Bahrain): ‘Adakanlah shalat Jumat di mana saja kamu berada’ (HR. Ibnu Abu Syaibah, Al-Mushannaf 1/440)

Adapun terkait dengan keterangan ibn Abbas

إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا قَالَ فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمْعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحَرِّجَكُمْ فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالدَّحَضِ

“Jika kamu sudah mengucapkan ‘ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH’, janganlah kamu sambung dengan HAYYA ‘ALASHSHALAAH (Marilah mendirikan shalat)’. Tapi serukanlah, ‘SHALLUU FII BUYUUTIKUM (Shalatlah di tempat tinggal masing-masing)’. “Lalu orang-orang seakan mengingkarinya. Maka Ibnu ‘Abbas pun berkata, “Sesungguhnya hal yang demikian ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Sesungguhnya shalat Jum’at adalah kewajiban dan aku tidak suka untuk mengeluarkan kalian, sehingga kalian berjalan di tanah yang penuh dengan air dan lumpur. (H.R. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 2/5)

Maksud perintah salat di rumah masing-masing ketika ada kesulitan itu maksudnya adalah laksanakan ibadah jumat di rumah masing-masing atau dipersinggahan, bukan salat zuhur. Adapun qarinahnya pertama, hadis Tahriq bin Ziyad menegaskan bahwa laki-laki muqimin dewasa termasuk ke dalam mukallaf wajib Jumat, bukan mukallaf salat zuhur. Kedua, masjid bukan syarat sah pelaksaan ibadah jumat, karena itu sah salat jumat dilaksanakan di luar masjid atau di rumah. Ketiga, hadis Ibn Umar berikut

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ فَقَالَ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ ذَاتُ مَطَرٍ يَقُولُ:  أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ

Nafi’ berkata bahwa Ibnu Umar pernah beradzan ketika shalat di waktu malam yang dingin dan berangin. Kemudian beliau mengatakan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [hendaklah kalian shalat di rumah kalian]. Kemudian ia mengatakan, ”Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mu’adzin ketika keadaan malam itu dingin dan berhujan, untuk mengucapkan ‘Alaa shalluu fir rihaal’.”(HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/484)

Menunjukan bahwa salat wajib tidak dapat dilaksanakan di masjid karena dingin dan hujan, maka salat tersebut tetap dilaksanakan walaupun di rumah. Begitu pula berlaku pada ibadah Jumat, tidak berubah kepada salat zuhur. Keempat, ibadah Jumat merupakan azimah, karena itu ketika tidak dapat dilaksanakan di masjid, maka kewajibannya tetap dilaksanakan, karena masjid bukan sebagai syarat sah Jumat.

Dengan demikian kesimpulannya, pertama bagi laki-laki dewasa, merdeka muqimin dan sehat maka wajib melaksanakan ibadah Jumat secara berjamaah, selain mereka wajib salat zuhur. Adapun bagi musafir, maka memilih antara pelaksanaan ibadah Jumat atau salat Zuhur. Kedua, sebisa mungkin dan diusahakan melaksanakan ibadah Jumat di masjid disamping sebagai keutamaan juga sebagai syi’ar. Ketiga, jumlah minimal pelaksanaan ibadah jumat adalah dua orang yaitu adanya imam/khatib dan makmum. Keempat, seutama-utamanya ibadah Jumat dilaksanakan di masjid, namun boleh dilaksanakan diluar masjid terlebih ada masyaqqah/kesulitan.

Ginanjar Nugraha

Ma’had Imam al-Bukhari Bandung