Beranda Fikih Bolehkan membasuh anggota wudhu hanya sekali-sekali ?

Bolehkan membasuh anggota wudhu hanya sekali-sekali ?

1049
0

Bolehkan berwudlu satu kali satu kali saja ?

Wudlu atau bersuci dari hadas merupakan syarat sah salat, artinya salat tidak sah jika tanpa bersuci dari hadas. Bagi yang berhadas kecil, misalnya kencing, kentut atau buang air besar, maka cara bersucinya dengan wudlu. Adapun bagi yang berhadas besar, misalnya jima, keluar mani, haid dan nifas, maka cara bersucinya dengan mandi janabat. Adapun bagi orang yang sakit, safar, dan orang yang tidak mendapatkan air ketika akan melaksanakan salat, maka boleh tayamum sebagai bentuk rukhsah atau keringanan. Adapun yang menjadi dalilnya adalah sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Maidah : 6)

Adapun bagaimana kaifiyat berwudlu, khususnya bilangan membasuh dan mengusap, maka keterangan dalilnya sebagai berikut :

Pertama, satu kali satu kali berdasarkan keterangan dari sahabat Ibn Abbas

تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu’ sekali sekali.” (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/43)

Kedua, dua kali dua kali berdasarkan keterangan dari sahabat Abdullah bin Zaid

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu dua kali dua kali.” (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/43)

dalam keterangan diatas sifatnya mutlaq, namun dalam dari sahabat Utsman bin Affan, beliau hanya satu kali membasuh kepala, artinya semua anggota wudlu dibasuh tiga kali kecuali kepala hanya diusap sekali.

Ketiga, tiga kali-tiga kali, kecuali membasuh kepala berdasarkan keterangan dari sahabat Utsman bin Affan

أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثَ مِرَارٍ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

(Humran mantan budak ‘Utsman) melihat ‘Utsman bin ‘Affan minta untuk diambilkan bejana (berisi air). Lalu dia menuangkan pada telapak tangannya tiga kali lalu membasuh keduanya, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangan hingga siku tiga kali, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kakinya tiga kali hingga kedua mata kaki. Setelah itu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/43)

Dengan demikian kesimpulannya, pertama bersuci dari hadas merupakan syarat sah salat, tidak bersuci, maka salatnya tidak sah. Kedua, kaifiyat wudlu lebih utama tiga kali-tiga kali, boleh dua kali dua kali, sekurang-kurangnya satu kali satu kali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here