Beranda Uncategorized BUKTI MU’JIZAT AL-QURAN ; NASIB JASAD FIRA’UN DAN KESEIMBANGAN REDAKSI AL-QURAN

BUKTI MU’JIZAT AL-QURAN ; NASIB JASAD FIRA’UN DAN KESEIMBANGAN REDAKSI AL-QURAN

719
0

BUKTI MU’JIZAT AL-QURAN ;

NASIB JASAD FIRA’UN DAN KESEIMBANGAN REDAKSI AL-QURAN

Oleh Ginanjar Nugraha, S.Th.I

Definisi Mu’jizat

Kata Mu’jizat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia”. Sedangkan secara etimologi berasal dari kata أعجز  yang artinya “melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Pelaku yang dinamai معجز . Bila kemampuan melemahkannya amat menonjol hingga mampu membungkam lawan, maka dinamai  معجزة. Ta marbutah merupakan ciri dari shigat mubalagah atau superlatif.

Mu’jizat menurut para pakar Islam didefinisikan sebagai “suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi pada seorang Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantang kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal yang serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan tersebut”.

Unsur-Unsur Mu’jizat

Berdasarkan definisi yang telah diungkapkan para ulama, ada empat unsur dasar yang menyertai mu’jizat :

1. Hal atau peristiwa yang luar biasa

2. Terjadi pada seorang Nabi

3. Mengandung tatangan terhadap yang meragukan kenabian

4. Tantangan tersebut gagal dilayani.

Macam-Macam Mu’jizat

Secara garis besar Mu’jizat terbagi dua yaitu, pertama Mu’jizat Inderawi material. Semua mu’jizat nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw termasuk kategori mu’jizat ini. Karena keluarbiasaaannya dapat disaksikan langsung lewat indera oleh masyarakat waktu itu yang menjadi objek dakwah. Mu’jizat yang kedua yaitu Mu’jizat immaterial dan abadi. Mu’jizat terbesar ini hanya turun kepada Nabi Muhammad Saw yaitu al-Quran, sifatnya bukan inderawi atau material tapi dapat dipahami oleh akal. Karena sifatnya demikian, maka mu’jizat ini abadi, dapat dijangkau oleh akal manusia dimanapun dan kapanpun.

Perbedaan ini disebabkan dua hal pokok. Pertama, Para Nabi sebelum Nabi Muhammad ditugaskan untuk masyarakat dan masa tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad yang diutus untuk semua umat dan sepanjang masa hingga kiamat. Kedua, manusia mengalami perkembangan pemikiran dari masa ke masa.

Kemu’jizatan biasanya disesuaikan dengan keadaan kaum yang dihadapi. Diantara kemu’jizatan Nabi Ibrahim dilemparkan dalam api yang menyala di depan berhala tapi dengan izin Allah Ibrahim AS selamat. Masyarakat nabi Ibrahim sangat mendewakan berhala sehingga kemu’jizatannya sebagai pembuktian bahwa berhala tidak memberikan manfaat maupun madharat sedikitpun. Begitu juga dengan mu’jizat Nabi Musa. Pada zaman Firaun, sihir merupakan suatu kemampuan yang sangat dihargai. Sehingga mu’jizat Nabi Musa berkaitan dengan sihir, yaitu mengubah tongkat menjadi ular besar. Maka berimanlah para tukang sihir Firaun, karena mereka tahu bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan kecuali dengan izin dari Zat Yang Maha Kuasa.

Lain halnya dengan masyarakat Nabi Isa. Mereka mendewakan ilmu pengobatan. Maka Allah memberi mu’jizat pada Nabi Isa berupa kemampuan menyembuhkan orang yang sakit. Bahkan, kemampuan yang mustahil dilakukan ilmu kedokteran, yaitu menghidupkan orang mati. Nabi Muhammad saw. menghadapi masyarakat yang mengangungkan sastra. Maka salah satu kemu’jizatan al-Quran adalah sastranya yang tidak dapat ditandingi oleh kemampuan manusia, yaitu sastra dalam bahasa Arab.

Berikut adalah beberapa bukti tentang kemu’jizatan al-Quran :

Kisah Kematian Fir’aun dan keabadian jasadnya

Dalam al-Quran ada sekitar  tiga puluh kali Allah Swt menguraikan kisah Musa dan Firaun. Satu hal yang menakjubkan bahwa Nabi Muhammad saw. melalui al-Quran telah mengungkpakansuatu rincian yang sama sekali tidak diungkapkan oleh suatu kitabpun sebelunya. Bahkan tidak diketahui kecuali oleh orang yang hidup 3200 tahun yang lalu. Mari kita perhatikan ayat berikut ini :

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ (90) آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (91) فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (92)

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”

Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. (QS. Yunus : 90-92).

Dalam ayat tersebut ada dua hal yang patut digarisbawahi berkaitan dengan kemu’jizatan al-Quran. Pertama Firman Allah “ Hari ini kami selamatkan badanmu supaya menjadi pelajaran bagi orang yang datang sesudahmu ”. Kedua berkaitan dengan kondisi kematian Firaun.

Memang orang mengetahui Firaun tenggelam di laut merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya, tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapapun pada masa Nabi Muhammad bahkan tidak dibahas dalam Perjanjian Lama dan Baru.

Maspero, seorang pakar sejarah Mesir, menjelaskan bahwa Penguasa Mesir yang tenggela itu bernama Maneptah yang berkuasa antara 1224 SM hingga 1214 SM.

Sekali lagi, tidak ada yang mengetahui keberadaan jasad Firaun tersebut. Hingga pada tahun 1896, arkeolog Loret menemukan jenazah dalam bentuk mumi di wadi al-muluk (Lembah Para Raja) berada di daerah Thaba, Luxor di seberang sungai Nil, Mesir. Kemudian pada tahun 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Firaun tersebut masih dalam keadaan utuh. Allahuakbar. Inilah Fakta sejarah akan kebenaran al-Quran.

Hal kedua berkaitan dengan kemukjizatan adalah bagaimana kondisi Fiaun ketika Wafat. Dalam bukunya Bible, al-Quran dan Sains, Maurice Bucaille, ahli bedah Prancis tahun 1975 melakukan penelitian lebih lanjut tentang mumi tersebut dab menemukan Firaun meninggal di laut. Ini terbukti bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya, walalupun sebab kematiannya menurut dia diakibatkan oleh Shock. Bucaille pada akhirnya berkesimpulan bahwa ;

“ Alangkah agungnya contoh-contoh yang diberikan al-Quran tentang tubuh Firaun yang sekaran berada di ruang mumi Museum Mesir Kairo. Penyelidikan dan penemuan modern menunjukan kebenaran al-Quran ”

Inilah akhir dari simbol manusia paling sombong dalam sepanjang sejarah manusia hatta mengaku sebagai tuhan yang maha tinggi. Ditenggelamkan dan dihinakan. Diingat seluruh manusia sebagai manusia yang terkutuk.

Keseimbangan Redaksi al-Quran.

Dr. Rashad Khalifa meneliti tentang rahasia dibalik jumlah pengulangan kosa kata al-Quran. Dia memulai dengan mengurai kalimat bismillah yang terdiri dari 19 huruf. Hal yang menakjubkan ternyata jumlah kata-kata dalam kalimat bismillah berbede-beda dalam al-Quran, namun secara keseluruhan dapat habis dibagi angka 19. perinciannya sebagai berikut :

1. Kata إسم dalam al-Quran ada 19 kali

2. Kata ألله dalam al-Quran ada 2698 kali merupakan perkalian dari 142 x 19

3. Kata الرحمن  ada 57 = 3 x 19

4. Kata الرحيم ada 114 = 6 x 19

Subhanallah semakin jelas bahwa al-Quran adalah mu’jizat terbesar

Sedangkan seorang ilmuan bernama Abdurrahman Naufal dalam bukunya al’Ijaz al’Adad al-Quran al-Karim menjelaskan keseimbangan susunan al-Quran sebagai berikut :

A. Keseimbangan jumlah kata dengan antonimnya.

1. Kata الحياة ( kehidupan ) dengan kata الموت  ( kematian ) masing-masing 145 kali

2. Kata النفع ( manfaat ) dengan kata الفساد ( kerusakan ) masing-masing 50 kali

3. Kata الحرّ ( panas ) dengan kata البرد ( dingin ) masing-masing 4 kali

4. Kata الصالحات ( kebajikan ) dengan kata السيّئات ( Keburukan ) masing-masing 167 kali

5.  Kata الطمأنينة ( Ketenangan/kelapangan ) dengan kata الضيق ( kesempitan/kekesalan )masing-masing 13 kali

6. Kata الرهبة ( cemas atau takut ) dengan kata الرغبة ( harap dan ingin) masing-masing 8 kali.

7. Kata الكفر ( kekufuran dalam bentuk ma’rifah ) dan الإيمان ( keimanan dalam bentuk ma’rifah ) masing-masing 17 kali.

8. Kata كفر ( kekufuran dalam bentuk nakirah ) dengan kata إيمان ( Keimanan dalam bentuk nakirah ) masing-masing 8 kali.

B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan Sinonimnya

1. Kata الحرث   ( membajak ) dengan kata  الزراعة   ( bertani ) masing-masing 14 kali

2. Kata العجب  ( membanggakan diri ) dengan kata الزراعة   ( angkuh ) masing-masing 27 kali.

3. القرأن-الوحي-الإسلام masing-masing 70 kali.

4. Kata العقل ( akal )dan النّور ( cahaya ) masing-masing 49 kali.

5. Kata الجهر dan العلانية masing-masing 16 kali.

Disamping itu ditemukan pula keseimbangan khusus diantaranya Kata يوم ( hari ) dalam bentuk tunggal sebanyak 365 hari. Berarti itu bilangan hari dalam satu tahun. أيام dan يومين jumlah seluruhnya ada 30. Berarti itu jumlah hari dalam sebulan. Sedangkan kata أشهر- شهر jumlahnya ada 12 kali. Berarti itu sama dengan bilangan bulan dalam satu tahun.

Dan masih banyak contoh lainnya.

Hal ini bukanlah kebetulan tapi memang Allah menjadikan al-Quran dengan sistematika yang canggih dan menjadikannya sebagai mu’jizat terbesar bagi manusia

اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيب

Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat ( QS As-Syura : 17 )

Allah telah menantang jin dan manusia untuk menandingi al-Quran. Dan Allah menjamin bahwa manusia tidak akan mampu.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نزلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. ( QS. Al-Baqarah : 23-24 ).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here