Beranda Shalat Cara Qadha Salat Bagi Yang Ketiduran

Cara Qadha Salat Bagi Yang Ketiduran

576
0

“orang yang ketiduran sehingga luput dalam melaksanakan kewajiban salat dari waktunya, wajib melaksanakan salat yang luput ketika dia bangun atau ingat sebanyak salat yang ditinggalkan, dengan kaifiyat pelaksanaanya secara berurutan sesuai urutan salat”
  1. Ketika kita ketiduran atau lupa sehingga tidak salat, maka wajib salat ketika ingat, bagaimana pelaksanaannya, misal ketika ketiduran selama dua hari ? Syamsudin Baleendah

Setidaknya dalam hukum syariat terdapat empat istilah yang harus difahami, pertama hukum, hakim, mahkum fih dan mahkum alaih. Ringkasnya hukum adalah titah Allah baik yang berupa yang terkait dengan tindakan mukallaf tuntutan (perintah dan larangan), pilihan, atau wad’i. Hakim adalah otoritas pembuat hukum itu sendiri yaitu Allah ta’ala. Mahkum fih tindakan yang dituntut dari mukallaf terkait dengan hokum berupa realisasi perintah dan larangan, takhrir (pilihan), wadh’i. Sedangkan mahkum Alaih adalah objek dari hukum itu sendiri yaitu mukallaf. Dengan demikian subjeknya adalah Allah, kontennya adalah hukum, objeknya adalah mukallaf, dan tuntutan dari hukumnya adalah tindakan mukallaf.

Dari uraian diatas dapat dipastikan bahwa syarat mukallaf ada dua, pertama mampu memahami hukum. Kemampuan mehamami hokum tersebut tidak dapat tercapai kecuali dengan akal yang sempurna (aqil baligh). Karena itu anak kecil dan orang gila bukan mukallaf karena akalnya belum sempurna, sedangkan orang gila karena akalnya terganggu, sehingga keduanya tidak berkemampuan memahami hokum, bagi anak kecil sampai mereka dewasa aqil baligh dan bagi orang gila, sampai berakal kembali. Adapun orang kafir, mereka termasuk pada bagian mukallaf furu’ dari hokum syariah yaitu masalah i’tiqadiyah, karena mereka punya kemampuan untuk memahami hokum secara tashawur. Begitu juga dengan orang yang tidur ketika dia tidur, atau orang yang lupa ketika dia lupa, mereka tidak punya kemampuan untuk memahami hukum.

عن علي، عن النبيِّ – صلَّى الله عليه وسلم – قال: “رُفِعَ القلم عن ثلاثةٍ: عن النَّائم حتى يستيقظَ، وعن الصَّبىِّ حتى يَحتَلِمَ، وعن المجنونِ حتى يَعقِلَ”

Dari Ali dari Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda “diangkat dosa dari tiga golongan, pertama orang yang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai dia balig, orang gila sampai dia berakal” (H.R. at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 6/455)

Orang yang ketiduran sehingga luput dalam pelaksanaan kewajiban salat yang semestinya dilaksanakan pada waktunya, maka wajib mengqodlo sebanyak salat fardlu yang luput ketika dia bangun, begitu pula dengan orang yang lupa, sampai dia ingat. Berdasarkan hadis

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا »..

Dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :”siapa yang lupa salat atau ketiduran, maka kifaratnya adalah salat dimana dia ingat” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/141)

Semata karena tidur atau lupa, tidak meniadakan kewajibannya untuk salat fardlu, karena itu tetap wajib dilaksanakan ketika dia bangun atau ingat, walaupun telah luput dari waktunya. Karena kewajibannya tetap ada, maka dia wajib melaksanakan salat sebanyak yang dia luput. Misalnya ketiduran 2 hari dengan luput 10 salat fardlu, maka dia wajib mengqadha salat tersebut sebanyak salat yang luput dilaksanakan. Dalam kajian usulfiqih, ketika sebuah kewajiban dilaksnakan pada waktu ditentukan disebut dengan al-ada, jika mengulang lagi pada waktu yang ditentukan disebut dengan al-I’adah, adapun ketika pelaksanaan kewajiban dilur waktu yang ditentukan, maka disebut dengan al-qadha’.

Adapun terkait kaifiyat qadha salatnya, maka sesuai dengan urutan salat wajib yang ditinggalkan, berdasarkan dalil-dalil

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ فَإِذَا ٱطۡمَأۡنَنتُمۡ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (An Nisa : 103)

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) (al-Isra : 78)

Dalam ayat pertama dinyatakan bahwa salat itu sudah ditentukan waktunya, secara mafhum mukhalafah, artinya tidak sah kalua dilaksanakan diluar waktunya. Maka termasuk didalamnya urutan salat. Begitu pula ayat yang kedua, bahwa masuknya waktu salat menjadi sebab adanya kewajinan salat, Karena waktu itu berurutan, maka begitupula dengan pelaksanaanya.

Kesimpulannya orang yang ketiduran sehingga luput dalam melaksanakan kewajiban salat dari waktunya, wajib melaksanakan salat yang luput ketika dia bangun atau ingat sebanyak salat yang ditinggalkan, dengan kaifiyat pelaksanaanya secara berurutan sesuai urutan salat.