Beranda Zakat Cara Zakat Tijaroh

Cara Zakat Tijaroh

1507
0

Bagaimana Kaifiyat Zakat dagang ? jamaah garut

Jawab :
Tijaroh atau perdagangan ialah apa yang disediakan untuk diperjualbelikan dengan maksud mengambil keuntungan. Salah stau jenis zakat adalah zakat perdagangan. Zakatnya 2 ½ persen dari modal. Tidak ada nishab dan haul. Yang dimaksud diperhitungkan dari barang modal ialah zakat tijarah pelaksanaannya diperhitungkan dari barang (untuk barang yang tidak dibeli), harga beli barang atau harga belanja barang bahan produksi, dihitung harga dari barang-barang belanjaan. Rinciannya sebagai berikut :

Pertama, pengambil barang tertetu yang tersedia di tempat-tempat tertentu, seperti pasir, batu, tanah urug, ikan di laut atau di sungai, dan lain-lain. maka zakatnya dikeluarkan 2 ½ persen dari barang yang akan dijual itu atau dengan uang senilai dengan barang itu atau dengan barang lain yang dibutuhkan mustahiq

Kedua, pembuat barang atau produsen barang-barang yang menggunakan bahan pokok yang tidak dibeli. Seperti batubata, keramik, pedagang air mineral, dan lain-lain, maka zakatnya dikeluarkan 2 ½ persen dari barang yang akan dijual itu atau dengan uang senilai dengan barang itu atau dengan barang lain senilai yang dibutuhkan mustahiq.

Ketiga, Pembuat barang dagangan (produsen), yang menggunakan bahan baku yang dibeli, zakatnya diperhitungkan 2 ½ persen dari belanjaan barang-barang yang menjadi bahan baku yang akan menjadi suatu barang produksi yang diperjualbelikan atau dengan uang senilai dengan barang itu atau dengan barang lain yang dibutuhkan mustahiq.

Keempat, Pembeli barang jadi yang kemudian barang itu diperdagangkan. Maka zakatnya 21/2 persen dari barang tersebut atau modal bukan dari harga jual atau dengan uang yang senilai atau dengan barang yang dibutuhkan mustahiq senilai dengan besaran zakat.

Kelima, pengusaha (pengambil keuntungan) dari jual beli cek dan kertas berharga. Maka dikeluarkan zakatnya 2 ½ persen dari harga beli cek, saham dan kertas berharga lainnya.

Keenam, investor atau pemodal yang memakai pola pertama sampai kelima dikeluarkan zakatnya dari modal dimana tergantung kesepakatan antara investor dan mudharib setelah diketahui komoditas perdagangan dan pembagiannya (Wawan Shafwan, Risalah Zakat, 58-59).

Adapun dalil kehujjahan zakat tijaroh adalah sebagai berikut, pertama ayat al-Quran tentang kewajiban zakat tijaroh
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبۡتُمۡ وَمِمَّآ أَخۡرَجۡنَا لَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِۖ وَلَا تَيَمَّمُواْ ٱلۡخَبِيثَ مِنۡهُ تُنفِقُونَ وَلَسۡتُم بِ‍َٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغۡمِضُواْ فِيهِۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (al-Baqarah : 267)

Kalimat “anfiqu” pada ayat tersebut adalah perintah berzakat yang menunjukan kepada wajib. Adapun kalimat “ma kasabtum” maksudnya adalah jual beli atau tijaroh, sebagaimana difahami mayoritas para ulama.
Adapun terkait dengan kaifiyat zakat tijaroh terdapat hadis dari sahabat Samurah bin Jundab dan dua atsar dari Umar bin Khattab dan yaitu
كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنَ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh kami untuk menegeluarkan zakat dari apa yang kami siapkan untuk dijual (H.R. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 2/95)

عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ حِمَاسٍ، أَنَّ أَبَاهُ قَالَ: مَرَرْتُ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَعَلَى عُنُقِي أَدَمَةٌ أَحْمِلُهَا، فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَلَا تُؤَدِّي زَكَاتَكَ يَا حِمَاسُ؟ فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، مَا لِي غَيْرَ هَذِهِ الَّتِي عَلَى ظَهْرِي وَآهِبَةٌ فِي الْقَرَظِ. فَقَالَ: ذَاكَ مَالٌ فَضَعْ. قَالَ: فَوَضَعْتُهَا بَيْنَ يَدَيْهِ فَحَسِبَهَا فَوَجَدَهَا قَدْ وَجَبَتْ فِيهَا الزَّكَاةُ، فَأَخَذَ مِنْهَا الزَّكَاةَ
Dari Abi Amr bin Himas, sesungguhnya bapaknya (Himas) berkata, “Aku lewat kepada Umar bin Khatab, sedang pada pundakku kulit-kulit yang aku pikul. Umar bertanya, ‘Sudahkan engkau keluarkan zakatnya wahai Hammas? Aku bertanya, ‘Wahai Amirul mukminin, saya tidak mempunyai barang dagangan selain yang ada pada pundaku ini dan beberapa kulit mentah yang sedang disamak’ Maka Umar berkata, ‘Itulah barang dagangan, letakanlah! Lalu aku meletakan dihadapannya, lalu menghitunya, lalu beliau dapatkan harta itu telah wajib dikeluarkan zakatnya, lalu beliau mengambilnya’.” (HR. As-Syafi’I, Musnad As-Syafi’i: 97)

عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ ، قَالَ : اسْتَعْمَلَنِي عُمَرُ عَلَى الْعُشْرِ ، فَأَمَرَنِي أَنْ آخُذَ مِنْ تُجَّارِ الْمُسْلِمِينَ رُبْعَ الْعُشْرِ
Dari Ziyad bin Hudair berkata : Umar mengangkat saya sebagai amil zakat, maka beliau memerintahkan untuk mengambil dari para pedagang 2 ½ persen (H.R. Abu Ubaid, al-Amwal, 640)

Kedua atsar diatas menunjukan, pertama, kewajiban zakat tijaroh. Kedua perhitungan dari modal. Ketiga, tidak ada nishab dan haul, karena kulit domba merupakan berharga murah disamping itu sehingga tidak ada nishab. Umar memerintahkan untuk langsung menghitung zakatnya tanpa saat itu juga tanpa menunggu sampai satu tahun artinya tidak ada haul dalam zakat tijaroh. Perlu penjelasan bahwa kebijakan Umar tersebut bukan semata ijtihad Umar, akan pada zaman Rasul Shallallahu alaihi wa sallam Umar diangkat menjadi jami’ zakat. Kedua, kebijakan tersebut tidak ada yang menentang dikalangan para sahabat, sehingga mendekati ijma sahabat. Ketiga, menjadi bayan kaifiyah terkait dengan tetapnya kewajiban zakat tijaroh.

Adapun terkait dengan cara pembayaran zakat, maka tentunya lebih cepat lebih baik. Jika terkendala masalah teknis, karena banyaknya item barang dan cepatnya arus keluar masuk barang, maka untuk memudahkan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan, misalnya per minggu, atau perbulan 2 ½ persen dari modal. Bagaimana jika keuntungan kecil, sehingga tidak sebanding zakat yang dikeluarkan ? maka dikeluarkan semampunya dengan tetap diniatkan sebagai penunaian kewajiban zakat bukan sebagai infaq atau shadaqah. Sesuai dengan kaidah apa yang tidak bisa dikerjakan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here