Beranda Fikih Dahulukan Saum Qadha atau Saum Syawal ?

Dahulukan Saum Qadha atau Saum Syawal ?

1009
0

Mana yang harus didahulukan, Saum Qadha atau Saum Syawal ?

Jawaban :

Qadha saum adalah rukhsah pengganti saum ramadhan bagi orang yang sakit dan musafir kemudian memilih untuk tidak saum dan bagi orang yang haid dan nifas dimana mereka terlarang untuk melaksanakan saum ramadhan. Qadha saum hukumnya wajib, namun waktunya muwassa’ atau leluasa selama bukan pada hari yang diharamkan saum yaitu hari raya Idain yaitu idul fitri dan idul adha, serta hari tasyriq yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah, dan tidak dibatasi oleh ramadhan setelahnya. Adapun dalil kewajibannya adalah sebagai berikut :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 184)

Adapun orang yang haid mereka diharamkan saum, namun wajib untuk mengqadha atau menggantinya pada hari lain, sebagaimana orang yang sakit dan safar, berdasarkan keterangan dari Aisyah sebagai berikut :

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR Muslim, Sahih Muslim, 1/182)

Begitu juga dengan orang yang nifas, karena illatnya sama dengan haid, maka hukum nifas sama dengan orang yang haid.

Saum Syawal adalah saum selama enam hari yang dilaksanakan pada bulan syawal dapat dilaksanakan secara berturut-turut ataupun berselang. Saum Syawal hukumnya sunat, waktunya terbatas hanya pada bulan syawal saja. Adapun yang menjadi dalil saum sunat syawal berdasarkan hadis dari Abu Ayub al-Anshari Rasulullah Saw bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa.” (HR Muslim, Sahih Muslim, 3/169)

Dalam hadis tersebut waktu pelaksanaan saum sunat enam hari pada bulan Syawal tidak disebutkan apakah berturut-turut atau tidak, sehingga sifatnya Mutlaq, boleh keduanya.

Saum qadha hukumnya wajib, namun waktu pelaksanaannya luas. Pertama, tidak dibatasi ramadhan setelahnya. Kedua, selama tidak pada hari yang terlarang saum padanya.

Adapun saum Syawal hukumnya sunat, namun terbatas waktu pelaksanaannya, yaitu hanya pada bulan Syawal saja. Saum sunat Syawal lebih utama didahulukan, namun boleh saum qadha terlebih dahulu.
Adapun keterangan dari Aisyah yaitu,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban karena kesibukan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR Muslim, Sahih Muslim, 3/154)

Tidak menunjukan sebagai batas pelaksanaan qadha atau mengutamakan qadha dari saum sunat, namun hanya menunjukan beliau bermaksud ingin melaksanakan qadha saum, namun hanya dapat dilaksanakan pada bulan Sya’ban karena kesibukan beliau mendampingi Rasulullah SAW.

Ada lagi yang melarang tidak boleh melaksanakan saum syawal sebelum saum qadha ditunaikan, berdasarkan dengan hadis berikut :

مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ وَمَنْ صَامَ تَطَوُّعًا وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَإِنَّهُ لَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ حَتَّى يَصُومَهُ

“Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Barangsiapa mendapati Ramadhan sedangkan ia masih memilki tanggungan Ramadhan yang belum ia qadha’, maka Allah tidak akan menerima puasa ramadhannya, dan barangsiapa berpuasa sunnah padahal ia masih memiliki tanggungan Ramadhan yang belum ia qadha’, maka Allah tidak akan menerima puasanya sehingga ia mengqadha’nya.” (HR Ahmad, Musnad Ahmad, 14/269)

Namun sanadnya idtirab atau goncang sanadnya ada yang marfu adapula yang mauquf, terkadang disebutkan menerima dari Abdullah, terkadang disebut Abdullah bin Abi Rafi’, pada jalur lain Abdullah bin Rafi’, kelemahan tersebut bersumber dari rawi yang bernama Abdullah bin Lahi’ah. Karena itu hadis tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (Lihat Silsilah al-Ahadits al-Dhaifah wal Maudhu’ah, 2/235).

Dengan demikian kesimpulannya :

a. Saum sunat enam hari pada bulan Syawal hukumnya sunat, dapat dilaksanakan berturut-turut, bisa juga berselang.
b. Saum sunat enam hari pada bulan Syawal lebih utama didahulukan dari saum qadha, namun boleh saum qadha terlebih dahulu.
c. Tidak ada keterangan yang sahih dan sarih yang melarang mendahulukan saum sunat enam hari pada bulan Syawal dari saum qadha.

By Ginanjar Nugraha