Beranda Shalat Darah dan Nanah Bukan Najis

Darah dan Nanah Bukan Najis

2604
0

Oleh Ust Muslim Nurdin (Tim Asatidz Ma’had Imam al-Bukhari Bandung)

Tidak ada satupun keterangan yang menjelaskan tentang najisnya darah dan nanah, baik secara qath’i maupun secara dzanniy. Dalam sejarah peperangan Rasulullah saw bersama para sahabatnya tidak membawa pakaian khusus untuk melaksanakan shalat, artinya mereka melaksanakan shalat dengan memakai pakaian yang dipakai ketika berperang dan tentu saja banyak terkena darah, baik dari dirinya sendiri maupun dari musuhnya. (Umar bin Khatab)

Adapun orang yang berpendapat tentang najisnya darah berdasarkan dalil sebagai berikut,

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ. مسلم

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, sesungguhnya Nabi saw bersabda: Barangsiapa bermain nardasyir (dadu) seolah-olah ia mencelupkan tangannya dalam daging babi dan darahnya. (HR Muslim)

Menurut mereka: Nardasyir (dadu) itu hukumnya haram. Bermain nardasyir sama dengan memegang daging babi dan darahnya. Jadi, memegang babi dan darahnya itu hukumnya sama dengan bermain nardasyir, yaitu haram (najis).

Kalau kita perhatikan Hadis Muslim tersebut sama sekali tidak sesuai untuk dijadikan alasan najisnya babi dan darahnya, karena:

1.      Kalau sesuatu diqiyaskan kepada yang lainnya, maka yang dijadikan tempat qiyas tersebut (al-Ashlu) haruslah sudah diketahui hukumnya, keadaannya atau sifatnya. Kalau yang mau diqiyaskan babi kepada nardasyir, mestinya lebih dahulu kita mengetahui hukum nardasyir itu. Adakah keterangan yang mengharamkan nardasyir atau menajiskannya untuk dipegang?

Tentang nardasir itu belum ada keterangan tentang haramnya atau najisnya secara muthlaq. Jadi, dalam masalah ini tidak dapat dilakukan qiyas karena hukum ashalnya tidak jelas.

2.      Perkataan “seolah-olah”(:كأنما) dan yang seumpamanya itu belum menjadi suatu qaidah tentang persamaan hukum antara sesuatu dengan yang diseolah-olahkan. Tetapi kata seolah-olah itu hendak menunjukkan kepada keburukan atau kebaikan sesuatu.

Perhatikan contoh hadis berikut:

مَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ عَوْرَةً فَكَأَنَّمَا أَحْيَا مَيِّتًا

Barangsiapa yang menutup cacad seorang muslim, maka seolah-olah ia menghidupkan orang mati. (HR At-Thabraniy)

Menurut qiyas babi dan nardasyir yang tersebut di atas, akan kita dapati begini: menutup cacad seorang muslim hukumnya wajib. Menutup cacad seorang muslim sama hukumnya dengan menghidupkan orang mati. Kesimpulannya: menghidupkan orang mati, hukumnya wajib pula.

Mustahil Allah mewajibkan kita menghidupkan orang yang sudah mati.

Oleh karena itu Hadits yang diriwayatkan oleh Imam muslim diatas bukan menerangkan tentang najisnya darah, akan tetapi menjelaskan tentang jeleknya bermain nardasyir.