Beranda Ilmu Hadis Dialektika Kritik Antara Taqrib al-Tahdzib, Tahrir al-Taqrib dan Kasyf al-Iham

Dialektika Kritik Antara Taqrib al-Tahdzib, Tahrir al-Taqrib dan Kasyf al-Iham

857
0

Bagi pembelajar hadis, wajib mempunyai Dua kitab diatas. Keduanya ibarat mata uang yang tidak bisa dipisahkan, karena poisinya kritik atas kritik atas kritik yang menggambarkan dialektika dalam penilaian seorang rawi yang berpengaruh terhadap kualitas hadis. Ibarat kitab Tahafut al Falasifah al-Ghazali dan Kitab Tahafut Al-Tahafut Ibn Rusyd.
Pertama, kitab taqrib tahdzib karangan Ibn Hajar. Bermla dari kitab al Kamal diperas jadi tahdzib al Kamal, diringkas jadi tahdzib al-tahdzib diringkas lagi menjadi Taqrib al-Tahdzib. Kitab terakhir ini merupakan sikap al-Hafiz dalam menentukan tingkatan jarh dan ta’dil, khususnya panduan jika ada ada pertentangan penilaian ulama mutaqoddimin terhadap seorang rawi antara jarh dan ta’dil. Baik dengan cara al Jam’u atau tarjih.

Kedua, kitab Tahrir Taqrib al-Tahdzib merupakan kitab koreksi terhadap hasil final al-jam’u dan tarjih Ibn Hajar terhadap penilaian seorang rawi dalam kitab Taqrib al-Tahdzib karangan dua begawan muhaqqiq kontemporer yaitu Basyar Awwad dan Syuaib al Arnaut. Keduanya meneliti kembali dan mengoreksi apa yang dinilai oleh al Hafidz tentunya dengan menguji dan membandingkan argumentasinya berdasarkan penelitian terhadap kitab-kitab yang terkait dengan penelitian penilaian rawi, sejarah rawi maupun ilmu ilal al hadis.

Ketiga, kitab Kasyf al-Iham merupakan kritik terhadap kitab Tahrir Taqrib al-Tahdzib karya ulama hadis dan ilal kontemporer yaitu Mahir Yasin al Fahl. Kitab ini mengkritisi sebagian penilaian rawi dalam kitab Tahrir Taqrib al-Tahdzib, tentunya lewat penelitian yang mendalam baik terhadap kitab taqrib sebagai asal kritik, maupun khazanah kitab-kitab rijal hadis secara umum berdasarkan kaidah-kaidah ulumul hadis.

Saya coba pesan kedua kitab ini melalui seorang teman yang berumrah kebetulan bersama dengan guru saya al Ustaz Zae Nandang hafidzahullah. Pesanan saya di ceritakan kepada al-Ustaz oleh kawan saya yang berbarengan pesan kitab juga, akhirnya pesanan disatukan. Akhirnya tiba di Indonesia, Ketika bertemu di salah satu majelis, saya bermaksud membayar pesanan kitab tersebut, beliau menjawab “Bayarnya pake real jangan rupiah”. Saya ragu dan menanyakan kembali, jawabannya sama persis. Maksudnya free alias gratis alias majanan, hehe. Beliau salah satu ahli manthiq dan ushulfiqh di lingkungan Persatuan Islam.