Beranda Fikih Fikih Qurban Atas Nama Keluarga

Fikih Qurban Atas Nama Keluarga

248
0

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِىَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ حَتَّى تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَتْ كَمَا تَرَى

Dari Atha bin Yasar berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu Ayyub Al Anshari, bagaimana qurban yang dilakukan pada masa Rasulullah ﷺ?”, ia menjawab; “Seorang laki-laki menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, mereka makan daging qurban tersebut dan memberikannya kepada orang lain. Hal itu tetap berlangsung hingga manusia berbangga-bangga, maka jadilah qurban itu seperti sekarang yang engkau saksikan.”

Takhrij Hadis
Hadis diatas diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Sunan At-Tirmidzi, 5/465. Imam Malik, al-Muwatha’, 388 No. 1399. , Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah 2/1051 No 3147. Al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 9/268 No. 19526. At-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, 4/137 No. 3919, 3920, 4/152 No 3981. Mu’jam al-Ausath, 4/241 No. 4085
Imam At-Tirmidzi menilai hasan sahih

Tarjamah Sahabat
Abu Ayyub al-Anshari. Nama Aslinya Khalid bin Zaid bin Kulaib al-Anshari al-Khajraji. Termasuk kibar sahabat yang mengikuti perang Badar dan Baiah Aqabah meninggal di Qisthanthaniyah pada tahun 50 H. Ketika Rasulullah Saw Hijrah ke Madinah, persinggahan pertama adalah Rumah Abu Ayyub al-Anshari (al-Ishabah, 3/143)

Syarah Hadis
Imam at-Tirmidzi menempatkannya dalam “Bab bahwa satu kambing (qurban) mencukupi satu keluarga”. Setelah penempatan Bab beliau menjelaskan perbedaan para ulama terkait dengan apakah satu bagian dalam udhiyah atau qurban dapat mencukupi sekeluarga atau tidak. Beliau menguraikan ada dua pendapat;

Pertama, pendapat bahwa satu kambing atau saham qurban mencukupi satu keluarga, merupakan pendapat Imam Malik, Laits dan Auza’i.

Kedua, pendapat bahwa qurban satu kambing hanya mencukupi seorang saja, merupakan pendapat Imam Ibnul Mubarak, Muhammad bin Hasan dan Abu Hanifah.

Dari judul bab, dapat diketahui bahwa imam at-Tirmidzi cenderung kepada pendapat yang pertama. Kami akan menganalisis kedua pendapat tersebut berserta pendalilannya dan menentukan mana yang rajih dalam persoalan tersebut sebagai berikut.

Satu Kambing Mencukupi untuk Satu Keluarga
Dalil golongan yang beranggapan bahwa satu kambing dapat mencukupi satu keluarga (sebagai pengurban) ialah sebagai berikut:

Pertama berdalil dengan hadis Abu Ayyud diatas dengan dalalah kalimat :

يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Berqurban dengan satu kambing untuk dirinya dan keluarganya”.

Kalimat di atas sangat jelas menunjukan bahwa satu kambing dapat mencukupi satu keluarga.

Kedua, berdasarkan hadis dari sahabat Mikhnaf

نَحْنُ وُقُوفٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً

ketika kami sedang berwukuf bersama Rasulullah ﷺ di ‘Arafah beliau berkata: “Wahai umat manusia, sesungguhnya kewajiban setiap penghuni rumah pada setiap tahun untuk menyembelih qurban (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 3/93)

Dalam hadis di atas menunjukan bawa setiap keluarga disunnahkan untuk menyembelih satu udhiyah atau sembelihan. Karena itu satu orang saja yang berqurban dapat mewakili seluruh keluarganya.

Ketiga, hadis dari Abu Sarihah beliau berkata :

حَمَلَنِي أَهْلِي عَلَى الْجَفَاءِ بَعْدَ مَا عَلِمْتُ مِنَ السُّنَّةِ كَانَ أَهْلُ الْبَيْتِ يُضَحُّونَ بِالشَّاةِ وَالشَّاتَيْنِ وَالْآنَ يُبَخِّلُنَا جِيرَانُنَا

“Keluargaku membuatku marah setelah kuketahui sunnah bahwa ahlul bait berqurban dengan satu atau dua kambing, dan sekarang tetangga kami menganggap bahwa kami adalah orang yang bakhil.” (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, 3/323)

Keempat, berdalil dengan hadis dari Jabir bin Abdullah beliau berkata :

شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Aku pernah mengikuti shalat Idul adhha bersama Nabi ﷺ di lapangan, maka ketika selesai berkhutbah beliau turun dari mimbar. Setelah itu didatangkan kepada beliau seekor kambing, lalu Rasulullah ﷺ menyembelih kambing tersebut dengan tangannya. Dan beliau mengucapkan: “BISMILLAAHI WALLAHU AKBAR (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar), ini dariku dan dari umatku yang belum berqurban.”

Hadis di atas menunjukan perbuatan Rasulullah Saw berqurban untuk umatnya yang tidak berqurban, secara mafhum tentunya termasuk di dalamnya bolehnya berserikat dalam satu kambing.

Kelima berdasarkan hadis dari Aisyah, Rasulullah Saw berqurban dengan satu ekor kambing

وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ « بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ». ثُمَّ ضَحَّى بِهِ.

Kemudian beliau membaringkannya lalu beliau menyembelihnya. Kemudian beliau mengucapkan: “Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” Kemudian beliau berqurban dengannya.” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 6/78)

Beliau berdoa untuk menerima qurban keluarga beliau, menunjukan bahwa satu ekor kambing cukup untuk satu keluarga. Dengan demikian qurban seekor kambing mencukupi diri dan keluarga, walaupun keluarga itu banyak.

Satu Kambing Hanya Untuk Satu Orang
Alasan golongan bahwa kambing hanya cukup untuk satu orang;

pertama, berdasarkan hadis dari Ummu salamah, Rasulullah saw bersabda :

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ ، فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

dari Ummu Salamah bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Jika telah tiba sepuluh (dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian hendak berqurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikit pun.” (HR Muslim, Sahih Muslim, 6/83)

Pada hadis di atas, pertama menunjukan bahwa orang yang hendak berqurban tentunya menunjuk kepada secara personal bukan secara kolektif. Kedua, syariat disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku sepuluh hari sebelum penyembelihan berlaku bagi yang hendak berqurban secara personal saja.

kedua, berdasarkan hadis dari sahabat Jabir bin Abdillah beliau berkata :

فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْتَرِكَ فِى الإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِى بَدَنَةٍ.

“Maka Rasulullah Saw. memerintahkan kami agar berserikat dalam unta atau sapi. Setiap tujuh orang dari kami berserikat dalam seekor Badanah (unta atau sapi yang gemuk) (HR Muslim, Sahih Muslim, 4/88)

hadis di atas menunjukan bahwa taqdir syar’I nya maksimal untuk 7 orang sedangkan unta bisa 7 dapat juga oleh 10 orang berdasarkan hadis lain Riwayat imam at-Tirmidzi, bukan berdasarkan besar kecil hewan qurban tersebut, tapi berdasarkan jenis binatangnya. Hal tersebut dipertegas lagi dengan hadis berikut bahwa dalam pembagian ghanimah 10 domba setara dengan 1 ekor unta.

ثُمَّ قَسَمَ فَعَدَلَ عَشَرَةً مِنْ الْغَنَمِ بِبَعِيرٍ

Kemudian beliau membagikan (ghanimah) dan memperhitungkan sepuluh ekor domba serata dengan satu ekor unta (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 4/75)

Berdasarkan keterangan di atas, maka satu domba itu hanya mencukupi satu orang saja.

Ketiga bedasarkan keterangan dari Aisyah Ra berikut :

فَدُخِلَ عَلَيْنَا يَوْمَ النَّحْرِ بِلَحْمِ بَقَرٍ فَقُلْتُ مَا هَذَا فَقِيلَ ذَبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَزْوَاجِهِ

kami dikirimi daging sapi pada hari Qurban, lalu aku bertanya; daging apa ini? Lalu dijawab; Nabi saw menyembelih Qurban untuk istri-istrinya. (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/212)

Hadis di atas menunjukan bahwa Rasulullah saw berqurban sapi untuk istri-istrinya tentu dengan tetap berpedoman bahwa satu sapi maksimal untuk 7 orang. Sekiranya cukup hanya untuk satu keluarga saja, tentu Rasulullah saw tidak berqurban atas nama istri-istrinya, karena sudah terwakili oleh beliau.

Dengan demikian, satu ekor domba hanya untuk satu pengurban saja. Adapun hadis yang dikemukakan oleh golongan bolehnya satu kambing mewakili keluarga bantahannya sebagai berikut :

Pertama, Hadis Abu ayyub mengaitkan qurban dengan keluarga ada beberapa makna. Pertama, persekutuan dalam harga dan pengurban untuk satu ekor kambing. Jika difahami demikian maka akan bertentangan secara mafhum dengan hadis bahwa sapi maksimal untuk 7 pengurban dan unta dapat oleh 7 pengurban atau 10 pengurban, sama dengan 10 ekor kambing setara dengan 1 ekor unta. Artinya satu ekor kambing hanya cukup untuk satu orang saja. Tentu boleh urunan untuk 1 ekor kambing oleh beberapa orang, namun tetap ketentuannya satu ekor kambing hanya untuk satu pengurban saja, tidak bersekutu didalamnya.

Kedua, persekutuan dalam hal berbagi pahala, artinya seseorang berqurban, namun pahalanya meliputi seluruh keluarga pengurban tersebut. Jika difahami demikian maka akan bertentangan dengan ayat al-Quran bahwa setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya sehingga tidak ada pengalihan pahala.

(أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm : 38-39)

(18) وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya.” (Fathir: 18)

Ketiga, berqurban atas nama diri dan keluarga itu maksudnya ibadah qurban mempunyai fungsi sebagai syiar, artinya secara ta’abudi tetap bahwa ukurannya satu kambing itu hanya untuk satu pengurban saja, termasuk pahala didalamnya. Namun sebagai syiar diperbolehkan bukan hanya atas nama pribadi, namun atas nama keluarga. Hal tersebut tidak menghalangi anggota keluarga yang lain, jika dalam satu keluarga ada beberapa orang yang berkehendak untuk berqurban. Ini makna yang lebih tepat. Imam Nawawi berkata “satu ekor kambing hanya untuk satu orang saja, tidak mencukupi lebih dari satu. Akan tetapi apabila seseorang berqurban atas nama keluarga untuk menegakan syi’ar, maka hal tersebut menjadi sunnah kifayah (al-Majmu 8/370). Walaupun demikian tentunya tidak menghalangi jika dalam satu keluarga ada yang mau berqurban lebih dari seorang.

Adapun hadis yang kedua dari sahabat Mikhnaf, bukan menunjukan persekutuan dalam pengurban maupun pahala, tapi anjuran sebaiknya dalam satu keluarga ada yang berqurban, pahala tentunya tetap bagi orang yang berqurban, lebih banyak anggota keluarga yang berqurban tentunya lebih baik.

Adapun hadis yang dari Abi Sarihah, sebagaimana hadis sebelumnya, menunjukan anjuran untuk berqurban, setidaknya seorang pengurban atas nama keluarga sebagai syiar. Tapi bukan difahami dalam konteks persekutuan sebagai pengurban maupun dalam pahala, sehingga dalam satu keluarga cukup satu kambing saja, dengan manafikan kemungkinan berqurban bagi anggota keluarga yang lain. Karena itu membuat marah keluarga dan para tetangganya menganggap bakhil seandainya difahami satu-satunya pengurban dalam satu keluarga dengan menafikan yang lain.

Hadis keempat, Rasulullah saw berqurban atas nama keluarga dan umatnya yang tidak berqurban. Jika difahami sebagai persekutuan sebagai pengurban dan pahala, maka akan bertentangan ketentuan satu kambing untuk satu pengurban sebagai taqdir syar’I dan bertentangan dengan ayat al-Quran yang menafikan adanya over pahala. Disamping itu jika difahami pahala bagi yang tidak berqurban, maka hadis-hadis anjuran berqurban menjadi tidak berfaidah, toh yang tidak berqurban juga mendapatkan pahala sama dengan yang berqurban. Adapun perbuatan beliau secara syiar mengatasnamakan umatnya yang tidak berqurban, perbuatan tersebut khusus untuk beliau saja. Karena sudah tertutupnya pintu kenabian setelah beliau.

Sedangkan hadis yang kelima dari Aisyah, pertama hadis tersebut tidak menunjukan bahwa selain beliau, keluarga beliau khususnya istri-istrinya tidak berqurban. Kedua, maksud menerima dari qurban keluarga beliau itu bukan berarti qurban beliau meliputi pula keluarganya sebagai pengurban dan pahala, akan tetapi semoga Allah menerima qurban keluarganya, tentunya keluarga beliau yang berqurban, begitu pula doa selanjutnya semoga Allah menerima qurban umatnya.

Fawaid Hadis
Satu kambing/saham qurban hanya berlaku untuk satu orang. Boleh berqurban mengatasnamakan diri dan keluarga sebagai syi’ar, bukan dalam artian persekutuan sebagai pengurban maupun dalam pahala.
Berqurban dengan tujuan syiar atas nama umat, merupakan kekhususan bagi Nabi Saw

Ginanjar Nugraha