Beranda Shalat Hadits Dhaif Tentang Shalat Isyraq

Hadits Dhaif Tentang Shalat Isyraq

1614
0

Shalat Isyraq adalah Shalat Dhuha yang dilaksanakan di awal waktu yaitu dimulai terbitnya matahari dengan ketentuan yang akan melaksanakan Shalat Isyraq ini setelah melaksanaan Shalat Shubuh duduk-duduk di masjid dengan berdzikir sampai terbitnya matahari tersebut.

Apakah penetapan Shalat Isyraq dengan kaifiyat tersebut haditsnya Shahih ?

Berikut takhrij hadits tentang Shalat Isyraq tersebut :

Hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu

Pada hadits Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ini terdapat 3 jalur periwayatan, yaitu :

Jalur 1 :

Semua Mukharrij (At-Turmudzi dan Al-Baghawi) bermuara pada Abi Dzilal >> Anas >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam :

حدثنا عبد الله بن معاوية الجمحي البصري ، قال حدثنا عبد العزيز بن مسلم، قال حدّثنا أبو ظلال، عن أنس قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة” قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “تامة تامة تامة”

“Barangsiapa shalat shubuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir pada Allah hingga terbitnya matahari kemudian ia shalat 2 raka’at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah”. Anas radhiyallahu’anhu berkata (lagi): Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam lalu bersabda: “Sempurna,. Sempurna,. Sempurna”.

(Dikeluarkan oleh At-Turmudzi; Al-Jami’u Al-Kabiru Lit-Tirmidzi. Juz 1. Hal. 582-583 no. 586 cet. Darul Gharb Al-Islami)

Penjelasan rawi :

Abdullah bin Mu’awiyah : Tsiqatun [1]
Abdul Aziz bin Muslim Al-Qasmali : Tsiqatun [2]
Abu Dzilal Al-Qasmali : Dhaif [3]
Anas bin Malik : Shahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Pada sanad di atas, yang menjadi titik kritisnya adalah rawi dhaif yang bernama Abu Dzilal Al-Qasmali. Namanya Hilal bin Abi Hilal Al-Qasmali.

Ibnu Ma’in mengatakan: ((ضعيف ليس بشيئ)).
At-Turmudzi bertanya ke Al-Bukhari tentang Abu Hilal, dijawab : “Muqaribul Al-Hadits” maksudnya: kedhaifannya tidak menjatuhkan tafarrudnya jadi ghair muhtamal. Namun pernyataan Al-Bukhari ini masih umum. Adapun khusus periwayatan dari Anas radhiyallahu’anhu, Imam Uqaili dalam kitabnya “Adh-Dhu’afa hal.346. Jilid 4″ menukil perkataan Al-Bukhari :

هلال أبو ظلال القسملي عن أنس، عنده مناكير

“Hilal Abu Hilal Al-Qasmali dari Anas radhiyallahu’anhu adalah banyak kemungkaran”.

Pernyataan Al-Bukhari ini memang tidak menunjukkan Abu Dzilal adalah rawi munkar, namun dengan pernyataan ini khusus periwayatan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu apabila Abu Dzilal ini tafarrud (menyendiri) dari Anas bin Malik maka haditsnya munkar. Pengkhususan ini dilandasi beberapa sebab yaitu:

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu termasuk shahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang banyak sekali muridnya dari para kalangan tabi’iin yang meriwayatkan darinya. Apabila kita lihat pada kitab Tahdzibul Kamal jumlah tabi’iin yang meriwayatkan dari Anas radhiyallahu’anhu mencapai jumlah 217 orang rawi yang didalamnya banyak rawi-rawi tsiqah.[4]

Abu Dzilal termasuk rawi yang sedikit meriwayatkan dan dia termasuk rawi dhaif dimana kesendiriannya dalam riwayat Anas radhiyallahu’anhu adalah menunjukkan kemungkarannya. Apabila Abu Dzilal ini tafarrud (menyendiri) dari Anas bin Malik maka pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab adalah dimana rawi-rawi lain yang berjumlah 216 orang? Dimana rawi-rawi tsiqah rijal Al-Bukhari dan rijal Muslim yang banyak meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu? seperti Ibrahim bin Maisarah, Anas bin Sirin, Busyair bin Yasar, Bukair bin Akhnas, Bayan bin Bisyri? Atau Tsabit Al-Bunani riwayat jama’ah? Dan masih banyak lagi rawi-rawi tsiqah sebagai muridnya Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

Riwayat tentang Ibadah Shalat seperti Shalat Isyraq ini apabila benar Anas bin Malik mengabarkan, maka tidak mungkin hanya diketahui oleh rawi dhaif Abu Dzilal saja. Karena riwayat tentang Shalat adalah sesuatu berita yang sangat penting harus diketahui oleh rawi-rawi lain seluruhnya atau minimal setengah dari muridnya, walau rawi yang meriwayatkannya tidak harus semuanya.

Karena itu dengan penjelasan di atas, pertanyaan yang harus dijawab: Apakah Abu Dzilal dalam jalur Anas bin Malik radhiyallahu’anhu ini benar benar tafarrud?

Ternyata hasil penelusuran riwayat didapatkan jalur ke 2 dan jalur ke 3 dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. berikut penjelasannya :

Jalur 2 :

وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ في الناريخ أنا أبو الطيب محمد بن عبد الله بن المبارك نا عمرو بن هشام نا عبد الله بن الجراح القهتاني نا عبد الخالق بن إبراهيم بن طهمان عن أبيه عن بكر بن خنيس عن ضرار بن عمرو عن ثابت البناني عن أنس بن مالك قال : “………………… يا عثمان من صلى الغداة في الجماعة ثم ذكر الله حتى تطلع الشمس كانت له كحجة مبرورة وعمرة متقبلة”

“Ya Utsman barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh berjama’ah kemudian berdzikir pada Allah subhanahu wa ta’ala hingga terbit matahari, maka baginya seperti pahala ibadah haji mabrur dan umrah yang diterima”..

(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi; Syu’abul Iman. Juz 7. Hal. 138 no. 9762 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Riwayat ini tidak bisa menjadi mutabi’ bagi Abu Dzilal karena matannya tidak menyebutkan Shalat Isyraq setelah duduk-duduk dan berdzikir.

Disaat matannya berbeda, riwayat ini sangat dhaif karena pada sanadnya terdapat DHIRAR BIN ‘AMR. Rawi ini munkarul hadits.

Yahya bin Main menilai: “La Sya’i”.
Imam Al-Bukhari dan Ad-Daulabi mengatakan “Fihi Nazhar” (penilaian yang sangat dhaif). Dan juga rawi ini dinilai Munkarul Hadits oleh Ibn ‘Adi. [5] dan terakhir Imam Adz-Dzahabi mengatakan: “Matrukul Hadits”.[6]

Dengan begitu tidaklah benar Ada Tsabit Al-Bunani rawi jama’ah dalam periwayatan ini dari Anas bin Malik, karena rawi yang mengabarkan dari Tsabit dari Anas adalah rawi Matruk (ditinggalkan) dan rawi yang Munkar.

Karena itu Jalur riwayat yang dibawa oleh Dhirar ini sangat lemah (dhaif syadid) dan riwayatnya dhaif ghair muhtamal (riwayat yang tidak bisa menguatkan riwayat Abu Dzilal dalam katagori hasan lighairih dari segi matan juga sanadnya)

Jalur 3 :

أخبرنا أبو نصر بن قتادة أنا أبو العباس محمد بن إسحاق الضبعي نا الحسن بن علي بن زياد السري نا ابن أبي أويس نا عبد الله بن وهب عن ثوابة بن مسعود عمن حدثه عن أنس بن مالك أنه قال : “………………… يا عثمان بن مظعون من صلى صلاة الفجر في الجماعة ثم جلس يذكر الله حتى مطلع الشمس كان له في الفردوس سبعون درجة بين كل درجتين كركض الفرس ………”

“Wahai Utsman bin Madz’un barangsiapa shalat fajar (shubuh) berjama’ah kemudian duduk berdzikir pada Allah subhanahu wa ta’ala hingga terbit matahari maka baginya pahala syurga firdaus 70 derajat. Diantara dua derajatnya seperti pacuan kuda……….”

(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi; Syu’abul Iman. Juz 7. Hal. 138 no. 9762 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Sanad jalur di atas adalah : Baihaqi >> Abu Nashr >> Muhammad bin Ishaq >> Al-Hasan bin ‘Ali >> Ibnu Abi Aus >> Abdullah bin Wahab >> Tsawwabah bin Mas’ud >> Anas radhiyallahu’anhu >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Isi matan pada riwayat ini juga tidak menyebutkan Shalat Isyraq setelah duduk-duduk dan berdzikir. Karena itu riwayat inipun tidak bisa menjadi mutabi’ bagi riwayat Abu Dzilal. Disaat matannya berbeda, dari segi sanadpun cacat.

Pada jalur sanad ini terdapat dua cacat :

Rawi Tsawwabah bin Mas’ud. Rawi ini rawi munkar. Ibnu Yunus dalam kitab tarikhnya mengatakan: “Munkarul Hadits”.[7] Dan setelahnya tidak didapatkan penilaian lain selain ini dan tidak ada seorangpun yang menta’dilnya.
Rawi majhul (tidak dikenal): rawi ini disebutkan oleh Tsawwabah sebagai syaikhnya.

Dengan dua cacat ini nampak jelas riwayatnya munkar terdapat rawi majhul (tidak dikenal) yang disebutkan oleh rawi munkar yaitu Tsawwabah.

Jalur ini Dhaif Ghair Muhtamal (riwayat dhaif yang tidak bisa dipakai hadits taqwiyyah dengan riwayat Abu Dzilal dari segi matan dan sanad)

Kesimpulan Jalur Anas bin Malik radhiyallahu’anhu :

Dengan demikian pada dasarnya Abu Dzilal walaupun dhaifnya muhtamal namun riwayat yang dibawanya dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu disini adalah riwayat Munkar, karena Abu Dzilal tafarrud dalam periwayatannya dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Sedangkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu banyak sekali rawi-rawi tsiqah sebagai muridnya.

Hadits Abu Umamah radhiyallahu’anhu dan Utbah bin Abd radhiyallahu’anhu

Hadits Umamah dan Utbah, terdapat 2 jalur :

Jalur 1 :

Jalur satu ini riwayat-riwayatnya Mudhtharib Syadid (sangat goncang). Semua riwayat muaranya ke: Abi ‘Amir >> Abi Umamah dan Utbah radhiyallahu’anhuma >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam: melalui jalur rawi Al-Ahwash. Berikut penjelasannya :

Riwayat 1 :

حدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا سهل بن عثمان ثنا المحاربي عن الأحوص بن حكيم عن عبد الله بن غابر عن أبي أمامة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من صلى صلاة الصبح في مسجد جماعة يثبت فيه حتى يصلي سبحة الضحى كان كأجر حاج أو معتمر تاما حجته و عمرته”

(Dikeluarkan oleh Ath-Thabarani; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8. Hal. 180 no. 7663 cet. Maktabah Ibn Taimiyyah)

Jalur sanadnya: Ahwash >> Abu ‘Amir (ghabir) >> Abi Umamah radhiyallahu’anhu >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Riwayat 2 :

أخبرناه أبو محمد بن طاوس، أنا أبو الغنائم بن أبي عثمان ، أنا أبو محمد عبد الله بن عبيد الله، نا أبو عبد الله المحاملي، نا يوسف بن موسى، نا ابن فضيل ، نا الأحوص بن حكيم، حدثنى عبد الله بن عابر، عن عتبة بن عبد السلمي عن أبي أمامة الباهلي –هكذا قال محمد بن فضيل – عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول : “من صلى صلاة الصبح وهو في الجماعة ثم ثبت حتى يسبّح فيه سبحة الضحى فصلى ركعتين أو أربعا كان له مثل أجر حاج و معتمر تام له حجه و عمرته”

(Dikeluarkan oleh Ibnu ‘Asakir; Tarikh Madina Damasyq. Juz 7. Hal. 352-353 cet. Darul Fikr)

Jalur sanadnya: Ahwash >> Abu ‘Amir (‘Abir) >> ‘Utbah >> Abi Umamah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Pada jalur riwayat 2 ini berbeda dengan riwayat 1 ada tambahan ‘Utbah radhiyallahu’anhu.

Riwayat 3 :

حدّثنا أحمد بن عمرو الخلال المكي ثنا يعقوب بن حميد ثنا مروان معاوية عن الأحوص بن حكيم، ثنا أبو عامر الألهاني ، عن أبي أمامة و عتبة بن عبد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول : “من صلى الصبح في مسجد جماعة ثم مكث حتى يسبّح تسبيحه الضحى كان له كأجر حاج و معتمر تام له حجته و عمرته”

(Dikeluarkan oleh Ath-Thabarani; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8. Hal. 174 no. 7649 cet. Maktabah Ibn Taimiyyah)

Jalur sanadnya: Ahwash >> Abu ‘Amir >> Abi Umamah dan Utbah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Pada jalur riwayat 3 ini juga berbeda yakni Abu Umamah dan Utbah keduanya berserikat.

Secara keseluruhan pada jalur 1 ini apabila kita perhatikan ketiga riwayat di atas simpulan sanadnya sebagai berikut :

Riwayat 1: Ahwash >> Abu ‘Amir (ghabir) >> Abi Umamah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Riwayat 2: Ahwash >> Abu ‘Amir (‘Abir) >> ‘Utbah >> Abi Umamah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Riwayat 3: Ahwash >> Abu ‘Amir >> Abi Umamah dan Utbah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Dari ketiga riwayat yang dibawa oleh Ahwash terlihat goncang (mudhtharib) dimana shahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang ia sebut kadang Abi Umamah, kadang Utbah dulu dari Abi Umamah, kadang Abi Umamah dan Utbah.

Bahkan ketidak jelasan riwayat Al-Ahwash ini akan sangat terasa ketika riwayatnya bukan dari Abi Umamah dan juga bukan dari Utbah tapi dari Ibn Umar radhiyallahu’anhu yang akan dibahas pada hadits ke 3 setelah ini.

Titik kritis penilaian pada jalur ini ketidak jelasan Ahwash dalam riwayat. Rawi ini dhaif. Berikut penjelasan rawi Ahwash bin Hakim.

Ibnu Ma’in menilai: “La Sya’i” (dhaif). Juga Imam An-Nasa’i menilai dhaif.[8] Adapun Imam Ahmad mengatakan: “Haditsnya tidak ada satupun yang lurus”.[9]

Abu Hatim mengatakan :

الأحوص بن حكيم ليس بقوي، منكر الحديث، وكان ان عينة يقدم الأحوص على ثور في الحديث فغلط ابن عينة في تقديم الأحوص على ثور، ثور صدوق ، والأحوص منكر الحديث.

“Al-Ahwash bin Hakim tidak kuat, dia rawi Munkarul Hadits. Ibnu ‘Uyainah mendahulukan Al-Ahwash daripada Tsauri dalam hadits, maka (nampak) keliru (penilaian) Ibnu ‘Uyainah dalam mendahulukan Ahwash daripada Tsauri. Imam Tsauri itu Shaduq sedang Al-Ahwash rawi munkarul hadits”.[10]

Abu Hatim telah menyatakan kekeliruan Ibnu ‘Uyainah dalam mendahulukan Al-Ahwash daripada Tsauri dimana Abu Hatim menilai bahwa Tsauri ini rawinya shaduq sedangkan Al-Ahwash rawi munkar.

Penilaian Abu Hatim ini cukup kuat dan diperkuat oleh Yahya bin Sa’id :

قال علي : وسمعت يحيى بن سعيد يقول: كان ثور عندي ثقة

‘Aly berkata: Aku mendengar Yahya bin Said mengatakan: “Tsauri menurutku dia rawi Tsiqah.”[11]

Dan dengan melihat penilaian di atas bisa disimpulkan bahwa Al-Ahwash adalah rawi munkar sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Hatim. Penilaian Abu Hatim ini sebanding dengan riwayat yang dibawa Al-Ahwash pada jalur 1 ini dimana riwayatnya goncang (mudhtharib).

Jalur 1 yang dibawa oleh Al-Ahwash ini “idhthirab” dan dia rawi munkar. Jalur 1 ini dhaif ghair muhtamal (dhaif yang tidak bisa tertolong).

Jalur 2 :

حدّثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا المغيرة بن عبد الرحمن الحراني ثنا عثمان بن عبد الرحمن عن موسى بن علي عن يحيى بن الحارث عن القاسم عن أبي أمامة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صلى صلاة الغداة في جماعة ثم جلس يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثمّ قام، فركع ركعتين انقلب بأجر حجة و عمرة”

“Barangsiapa shalat shubuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir pada Allah subhanahu wa ta’ala hingga terbitnya matahari, kemudian ia berdiri dan shalat 2 rakaat maka akan dibalas sebanding pahala haji dan ‘umrah”.

(Dikeluarkan oleh Ath-Thabarani; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8 hal. 209 no. 7741 cet. Maktabah Ibn Taimiyyah)

Jalur sanadnya: Husein >> Al-Mughirah >> Utsman bin Abdurrahman >> Musa bin ‘Ulay >> Yahya >> Al-Qasim >> Abi Umamah radhiyallahu’anhu >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Pada jalur ke 2 ini titik kritris penilaiannya ada pada Utsman bin Abdurrahman dan Musa bin ‘Ulay. Berikut penjelasannya :

Utsman bin ‘Abdurrahman; rawi ini dinilai Shaduq oleh Ibnu Hajar dengan disebutkan ‘Ilalnya yakni :

صدوق أكثر الرواية عن الضعفاء و المجاهيل فضعّف بسبب ذالك حتى نسبه ابن نمير إلى الكذب.

“Dia rawi shaduq, tapi kebanyakan riwayatnya dari rawi-rawi dhaif dan dari rawi-rawi majhul (tidak dikenal) karena itulah ia didhaifkan dengan sebab itu sehingga Ibnu Namir menisbahkannya dengan dusta”.[12]

Imam Al-Bukhari mengatakan “dia meriwayatkan dari orang-orang lemah (dhaif). Adapun Abu hatim menilai rawi ini shaduq. Dan Abu ‘Arubah menilai: ”dia tidak apa-apa dan ia meriwayatkan dari kaum yang majhul dengan kemungkaran”.

(Lihat penilaian di atas di kitab Tahdzibul Kamal juz 19 hal. 429-430)

Dari penilaian di atas Imam Ibnu Hajar cukup tepat dengan menyimpulkan rawi yang bernama Utsman bin ‘Abdurrahman rawi shaduq yang banyak meriwayatkan dari rawi dhaif dan majhul. Dan apabila diketahui riwayatnya dari rawi majhul tadi maka riwayatnya jelas munkar seperti apa yang dikatakan Abi ‘Arubah.

Apakah pada riwayat yang dibawa oleh Utsman disini dari rawi majhul ?

Musa bin ‘Ulay

Apabila dilihat dari daftar guru-guru Utsman di kitab rijal semisal Tahdzibul Kamal maka kita tidak akan mendapatkan gurunya yang bernama Musa bin ‘Ulay. Namun apabila kita lihat dalam daftar keseluruhan rawi didapatkan rawi Musa bin ‘Ulay bin Rabbah Al-Lakhmi dari jalur guru dan murid yang lain.

Apakah yang dimaksud Musa bin ‘Ulay sebagai gurunya Utsman adalah Musa bin ‘Ulay bin Rabbah?

Dapat dipastikan Musa bin ‘Ulay sebagai gurunya Utsman bukanlah Musa bin ‘Ulay Al-Lakhmi dengan dasar:

Pada daftar riwayat Musa bin ‘Ulay Al-Lakhmi tidak didapatkan sanad keguruan ke Yahya bin Al-Harits (seperti pada riwayat sanad yang dibahas ini). Juga tidak kita dapatkan muridnya Musa bin ‘Ulay Al-Lakhmi yang bernama Utsman.

Musa bin ‘Ulay bin Rabbah Al-Lakhmi seorang Amir di Mesir dan para syaikhnya orang-orang Mesir atau para pendatang yang sudah menetap di Mesir. Adapun Yahya bin Al-Harits (rawi di riwayat ini) orang Syam Dimasyq yang tidak didapatkan riwayatnya pernah keluar dari negerinya, sehingga disini terlihat sangat jauh kemungkinannya bertemu antara Musa bin ‘Ulay bin Rabbah dengan Yahya bin Al-Harits.

Dari dua alasan di atas nampak jelas bahwa Musa bin ‘Ulay yang ada di riwayat ini yang dapat dari Yahya bin Al-Harits adalah bukan Yahya bin ‘Ulay Al-Lakhmi. Siapa Musa bin ‘Ulay ini?

Dengan melihat siapa yang meriwayatkan darinya yaitu Utsman bin ‘Abdurrahman seorang rawi yang biasa meriwayatkan dari rawi majhlul maka dapat dipastikan Musa bin ‘Ulay yang dibawa oleh Utsman ini rawi majhul ‘Ain (rawi yang tidak dikenal).

Dan terakhir kemajhulan Musa bin ‘Ulay yang diriwayatkan oleh Utsman bin Abdurrahman ini akan sangat terasa riwayatnya MUNKAR ketika ternyata terdapat beberapa jalur yang diriwayatkan oleh beberapa rawi tsiqah dari Yahya bin Al-Harits riwayatnya tidaklah seperti riwayat yang dibawa oleh Utsman dari rawi majhul ini.

Mari kita tela’ah secara lebih dalam khusus jalur Abu Umamah.

Pada Jalur Al-Qasim dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu ini secara keseluruhan penjelasannya adalah sebagai berikut :

Riwayat Al-Qasim dari Umamah diikuti oleh Makhul Ad-Damasyqy (Mutabi’) kedua-duanya meriwayatkan dari Abi Umamah radhiyallahu’anhu sampai tahap ini cukup kuat.

Riwayat Makhul Asy-Syami ke Hafs bin Ghailan ke Al-Walid jalur ini kuat, semuanya Tsiqat.

Apa yang diberitakan dalam jalur ini? Berikut riwayatnya :

حدثنا إسحاق بن خالويه الواسطى ثنا على بن بحر ثنا الوليد بن مسلم ثنا حفص بن غيلان عن مكحول عن أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال * من مشى إلى صلاة مكتوبة في الجماعة فهي كحجة ومن مشى إلى صلاة تطوع فهو كعمرة تامة .

“Barangsiapa berjalan ke shalat wajib berjamaah maka ia seperti mengerjakan haji, dan barangsiapa berjalan menuju shalat sunnah maka ia seperti melakukan umrah”.

(Dikeluarkan oleh Ath-Thabarani; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8 hal. 149-150 no. 7578 cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah)

Riwayat ini hasan. Dan inilah riwayat yang mahfuzh (benar dan terpelihara). Padanya tidak ada penyebutan duduk-duduk dan berdzikir menunggu shalat Isyraq atau shalat dhuha.

Kemudian dari riwayat yang mahfuzh di atas, juga terdapat riwayat Al-Qasim ke Yahya bin Harits yang diterima oleh murid-muridnya Yahya dengan baik. Murid-muridnya itu adalah :

Shadaqah bin Khalid (HR. Al-Baihaqi)

Haitsam bin Humaid (HR. Abi Daud, Baihaqi, Thabarani)

Suwaid bin ‘Abdul ‘Aziz (HR. Abi Daud, Baihaqi, Thabarani)

Isma’il bin Iyyass (HR. Ahmad)

Al-Walid bin Muslim (HR. Thabarani)

Ke 5 rawi ini adalah murni murid-muridnya Yahya bin Al-Harits (silahkan di cek di kitab Tahdzibu Al-Kamal juz 31 hal. 257 cet: Muassasatu Ar-Risalah)

Mereka semua tsiqath kecuali Haitsam dan Suwaid “la ba’sa bih”. Namun secara keseluruhan riwayat yang diterima oleh ke 5 rawi ini kuat dan Shahih karena ada 3 rawi tsiqath yakni Shadaqah, Isma’il bin ‘iyyas dan Al-Walid. Riwayat dari 5 rawi ini SHAHIH.

Apa yang diberitakan oleh mereka ber-5 dari Yahya bin Harits ini? Sama riwayatnya kurang lebih seperti jalur Al-Walid pada (b) di atas yakni menjelaskan keutamaan shalat wajib dan keutamaan shalat sunnat dan dhuha. Tidak ada berita yang didalamnya duduk-duduk dan berdzikir setelah shalat shubuh menunggu terbit matahari tiba untuk shalat dhuha atau biasa disebut shalat isyraq.

Berikut ke 5 riwayat-riwayatnya :

Shadaqah bin Khalid (HR. Al-Baihaqi)

أخبرنا أبو الحسن بن عبدان، نبأ أحمد بن عبيد ثنا محمد بن العباس ثنا الحكم بن موسى ثنا صدقة ثنا يحيى بن الحارث عن القاسم بن عبد الرحمن عن أبي أمامة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من مشى إلى صلاة مكتوبة وهو متطهر فأحره كأجر الحاج المحرم ، ومن مشى إلى سبحة الضحى لا ينهضه إلا إياه فأجره كأجر المعتمر ، وصلاة على أثر صلاة لا لغو بينهما كتاب في عليين”

“Barangsiapa yang berjalan untuk shalat wajib dalam keadaan bersih maka pahalanya seperti pahala yang beribadah haji. Dan barangsiapa yang berjalan hendak shalat dhuha dia tak mempunyai niat kecuali itu, maka pahalanya seperti orang yang sedang umrah. Dan menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin.”

(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra Lil Baihaqi. Juz 3 hal. 69 no. 4910 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Riwayat Shadaqah sangat jelas memberitakan keutamaan seseorang keluar rumah berjalan ke masjid untuk shalat dhuha, bukan menunggu di masjid dengan berdzikir sampai terbit matahari baru melaksanakannya.

Haitsam bin Humaid (HR. Abi Daud, Baihaqi, Thabarani)

أخبرنا أبو علي الروذباري ، أنبأ أبو بكر بن اسة ، ثنا أبو توبة ، عن الهيثم بن حميد عن يحيى بن الحارث عن القاسم أبي عبد الرحمن عن أبي أمامة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : “من خرج من بيته متطهر إلى صلاة مكتوبة فأحره كأجر الحاج المحرم ، ومن خرج إلى تسبيح الضحى لا ينصبه إلا إياه فأجره كأجر المعتمر ، وصلاة على أثر صلاة لا لغو بينهما كتاب في عليين”

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersih untuk shalat wajib maka pahalanya seperti pahala yang beribadah haji. Dan barangsiapa yang keluar hendak shalat dhuha dia tak mempunyai niat kecuali itu, maka pahalanya seperti orang yang sedang umrah. Dan menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin.”

(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra Lil Baihaqi. Juz 3 hal. 89 no. 4973 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Juga dikeluarkan oleh Ath-Thabarani di kitab Al-Mu’jamu Al-Ausath Juz 3 hal. 314 no. 3262

Suwaid bin ‘Abdul ‘Aziz (HR. Ath-Thabarani)

وحدثنا الحسين بن إسحاق التستري ثنا علي بن بحر قالا: ثنا سويد بن عبد العزيز، حدّثني يحيى بن الحارث عن القاسم عن أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “من مشي إلى صلاة مكتوبة وهو متطهر فأحره كأجر الحاج المعتمر المحرم ، ومن مشى إلى تسبيح الضحى فإنّ له كأجر المعتمر ، وصلاة على أثر صلاة لا لغو بينهما كتاب في عليين”

“Barangsiapa yang berjalan dari rumahnya dalam keadaan bersih untuk shalat wajib maka pahalanya seperti pahala yang beribadah haji. Dan barangsiapa yang keluar hendak shalat dhuha, maka pahalanya seperti pahala umrah. Dan menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin.”

(Dikeluarkan oleh Ath-Thabarani; Musnad Asy-Syamin. Juz 2 hal. 39 no. 878 cet. Muassasatu Ar-Risalah)

Isma’il bin Iyyass (HR. Ahmad)

حدثنا أبو اليمان ثنا إسماعيل بن عياش عن يحيى بن الحارث الذماري عن القاسم أبي عبد الرحمن عن أبي أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “من مشي إلى صلاة مكتوبة وهو متطهر كان له كأجر الحاج المحرم ، ومن مشى إلى سبحة الضحى كان له كأجر المعتمر ، وصلاة على أثر صلاة لا لغو بينهما كتاب في عليين” وقال أبو أمامة : الغدوة والزواح إلى هذه المساجد من الجهاد في سبيل الله.

“Barangsiapa yang berjalan dalam keadaan bersih untuk shalat wajib maka pahalanya seperti pahala yang beribadah haji. Dan barangsiapa yang keluar hendak shalat dhuha, maka pahalanya seperti pahala umrah. Dan menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin.”

Abu Umamah berkata: “Berangkat pagi hari menuju ke masjid-masjid ini termasuk jihad fisabilillah.”

(Dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal; Musnad Ahmad. Juz 16 hal. 265-266 no. 22205 cet. Darul Hadits)

Al-Walid bin Muslim (HR. Thabarani)

حدثنا أإبراهيم بن دحيم الدمشقي ثنا أبي ثنا الوليد بن مسلم ثنا يحيى بن الحارث وأبو معيد عن القاسم عن أبي أمامة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من مشي إلى صلاة مكتوبة كانت بمنزلة حجة ، ومن مشى إلى صلاة تطوع كانت بمنزلة عمرة ، وصلاة على أثر صلاة لا لغو بينهما كتاب في عليين”

“Barangsiapa yang berjalan untuk shalat wajib maka pahalanya seperti pahala yang beribadah haji. Dan barangsiapa yang keluar hendak shalat sunnah, maka pahalanya seperti pahala umrah. Dan menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin..”

(Dikeluarkan oleh Ath-Thabarani; Al-Mu’jamu Al-Kabiru. Juz 8 hal. 217 no. 7764 cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah)

Bisa kita pahami dari seluruh riwayat di atas beritanya hampir sama yakni:

Memberitakan tentang keutamaan seseorang keluar rumah untuk shalat wajib dengan pahala seperti orang beribadah haji.

Memberitakan tentang keutamaan seseorang keluar rumah untuk shalat sunnah dengan pahala seperti orang beribadah umrah

Namun dari 5 rawi di atas yang meriwayatkan dari gurunya yakni Yahya bin Al-Harits ternyata ada 1 orang rawi yang tidak dikenal dari mana datangnya?? dia adalah Musa bin ‘Ulay (lihat skema). Dan jika yang dimaksud Musa ini adalah Ibnu Rabbah Al-Lakhmi maka pernyataan ini salah, karena Ibnu Rabbah tidak memiliki jalur periwayatan dari Yahya bin Al-Harits. (lihat At-Tahdzib)

Kemajhulan Musa ini lebih dirasakan ketika sanadnya jatuh kepada rawi Utsman Ath-Tharaif. Disini semakin jelas karena memang Utsman Ath-Tharaif dikenal suka meriwayatkan dari rawi-rawi Majhul dan Dhaif.
(Lihat Tahdzibu Al-Kamal tarjamah Utsman)

Dan semakin jelas lagi jalur Musa yang Majhul yang diriwayatkan oleh Utsman ini matannya sungguh berbeda dengan riwayat yang shahih yang diriwayatkan oleh 5 rawi di atas tadi yang sama-sama dapat riwayat dari Yahya bin Al-Harits. Riwayat yang Gharib itu adalah:

من صلي صلاة الغداة في جماعة ثم جلس يذكر الله حتى تطلع الشمس , ثم قام فركع ركعتين انقلب بأجر حجة و عمرة

“Barangsiapa yang shalat shubuh berjama’ah kemudian duduk-duduk berdzikir pada Allah (menunggu) hingga terbitnya Matahari, kemudian ia berdiri melaksanakan shalat 2 rakaat, maka ia mendapat pahala sebanding dengan pahala haji dan umrah.”

Matan yang dibawa oleh Musa yang Majhul ini jelas Munkar menyelisihi riwayat yang shahih dari 5 rawi yang tsiqath di atas.

Pada Matan yang dibawa oleh Musa ini keanehannya adalah:

Duduk duduk berdzikir setelah Shalat Shubuh.

Dzikir menunggu terbitnya Matahari

Kemudian Shalat Dhuha atau (Isyraq)

Kata-kata ini tidak ada dalam periwayatan 5 orang rawi di atas yang sama-sama meriwayatkan dari Yahya bin Al-Harits.

Pada 5 riwayat yang mahfuzh di atas kata “menunggu dari shalat ke shalat” sepertinya dipahami oleh rawi majhul ini adalah menunggu shalat dhuha di masjid setelah shalat shubuh. Padahal riwayat yang terpelihara tidaklah demikian. Bahkan jelas dengan kata kunci:

ومن مشى إلى سبحة الضحى

“Dan barangsiapa berjalan menuju shalat dhuha….”

Kata ini tidak terlihat seseorang setelah shalat shubuh duduk-duduk sambil berdzikir. Bahkan kata berjalan disini dikuatkan oleh riwayat no. 2 dari Haitsam dengan kata kunci:

ومن خرج إلى تسبيح الضحى

“Dan barangsiapa yang keluar menuju shalat dhuha….”

Bisa dipahami dengan jelas disini dalam pengertian seseorang yang telah shalat shubuh pulang kerumah dulu berkumpul dengan keluarga atau bisa bekerja dulu. Disaat waktu dhuha datang orang itu keluar lagi menuju masjid untuk shalat dhuha.

Terlebih riwayat Utsman dari Musa bin ‘Ulay yang Munkar ini tidak menyebutkan keutamaan shalat wajib, justru keutamaan shalat wajib pada riwayat yang shahih dirubah/dipahami dengan shalat shubuh. Hal ini sangat keliru sekali.

5 riwayat yang mahfuzh (shahih terpelihara) di atas yang semuanya seiya sekata menyebutkan keutamaan shalat wajib tidak bisa ditakhsis oleh riwayat yang di dalamnya terdapat rawi majhul dan rawi shaduq dengan kata takhsisnya “shalat shubuh”. Dan riwayat Utsman dari Musa ini tidak bisa dikatakan “Ziyadatu Tsiqah” (tambahan dari rawi tsiqah). Mungkin yang tepat adalah “Ziyadatu Majhul” (tambahan dari rawi tidak dikenal).

Dengan ini jelaslah, riwayat Utsman Ath-Thara’if ini yang meriwayatkan dari Musa adalah Munkar. Kemungkarannya adalah karena rawi majhul menyalahi 5 riwayat di atas tadi. Dan SEKALIPUN “apabila” Musa bin ‘Ulay itu adalah Ibnu Rabbah Al-Lakhmi tetap saja MUNKAR dikarenakan Utsman Ath-Tharaif rawi shaduq menyalahi 5 riwayat yang Mahfuzh.

Karena itu riwayat Utsman dari Musa ini tidaklah sah dipakai Syahid bagi riwayat yang lainnya.

Hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhu

Pada hadits ibnu Umar radhiyallahu’anhu ini terdapat 2 jalur. Berikut penjelasan jalurnya :

Jalur 1 :

حدثنا الحسين بن عبد الله بن يزيد القطان، حدّثنا موسى بن مروان حدثنا أبو معاوية عن الأحوص، عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من صلى الفجر وجلس في مصلاه يذكر الله عز وجل حتى تطلع الشمس ثمّ يصلى ركعتين من الضحى كان صلاته عدل حجة و عمرة متقبلة”.

(Dikeluarkan oleh Ibn ‘Adi; Al-Kamil fi Ad-Dhu’afaa. Juz 1 Hal. 415 cet. Darul Fikr)

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Al-Majruhin melalui rawi Muhammad bin Abdul A’la dari Muhammad bin Hazm dari Al-Ahwash.

Pada riwayat ini terdapat Al-Ahwash yakni rawi dhaif yang sudah dibahas sebelumnya dimana shahabat yang ia riwayatkan adalah ‘Utbah radhiyallahu’anhu dan Abu Umamah radhiyallahu’anhu. Adapun disini jalur sanadnya :

Al-Ahwash >> Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhu >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Adapun pada riwayat Utbah dan Abi Umamah penulis kutip lagi jalur sanadnya :

Riwayat 1: Ahwash >> Abu ‘Amir (ghabir) >> Abi Umamah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Riwayat 2: Ahwash >> Abu ‘Amir (‘Abir) >> ‘Utbah >> Abi Umamah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Riwayat 3: Ahwash >> Abu ‘Amir >> Abi Umamah dan Utbah >> Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Pada jalur sanad seperti ini sudah sangat jelas Rawi dhaif yang bernama Al-Ahwash lah terindikasi membawa jalur riwayat yang goncang ini (idhthirab). Rawi ini telah dinilai Munkar oleh Abu Hatim dan dhaif oleh Imam An-Nasa’i dan yang lainnya.

Jalur 1 pada hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhu ini riwayatnya dhaif ghair muhtamal.

Jalur 2 :

حدثنا الحسين بن محمد ثنا إسماعيل بن العباس الوراق ثنا عباد بن الوليد العنبري ثنا سلم بن المغيرة ثنا أبو معاوية الضرير عن مسعر عن خالد بن معدان عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من صلى الغداة ثم جلس في مسجد حتى يصلى الضحى ركعتين كتبت له حجة و عمرة مستقبلة “

(Dikeluarkan oleh Abu Nua’im; Hilyatul Auliyaa Wa Thabaqatu Al-Ashfiyaa. Juz 7 Hal. 237 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Pada jalur sanad ini terdapat 2 illah (cacat) :

Yang pertama titik kritisnya ada pada rawi yang bernama Salm bin Al-Mughirah. Rawi ini dhaif. Imam Ad-Daraquthni mengatakan: ”ia dhaif” dan di tempat yang lain mengatakan: “dia rawi tidak kuat”.[1] Rawi dhaif ini tidak ada satupun imam yang memberikan penilaian baik. Begitu juga dalam komentar akan kelemahannya. Hanyalah Imam Ad-Daraquthni yang memberikan penilaian dhaif ini.

Dengan penilaian tersebut bisa kita pahami rawi dhaif ini sangat sedikit riwayatnya dan bukan termasuk ahlu riwayah. Dan tidak diketahui siapa saja gurunya?. Adapun di kitab Mizanul I’tidal atau Lisanul Mizan bisa kita ketahui riwayatnya hanya disebutkan dari Malik. Adapun pada riwayat ini Salm bin Al-Mughirah meriwayatkan dari Abu Mu’awiyah.

Apakah Abu Mu’awiyah ini gurunya Salm ?

Abu Mu’awiyah ini nama lengkapnya Muhammad bin Khazim At-Tamimi. Rawi ini tsiqah dan termasuk Imam yang masyhur (terkenal) dimana rawi seperti ini banyak sekali rawi-rawi tsiqah yang masyhur pula sebagai muridnya. Dalam kitab Tahdzibul Kamal dapat kita hitung muridnya yang meriwayatkan darinya mencapai 85 orang rawi begitupun banyak sekali guru bagi Abu Mu’awiyah yang tsiqah.

Dari ke 85 rawi tersebut yang meriwayatkan darinya hampir semuanya termasuk rawi-rawi tsiqah termasuk Ahmad bin Hanbal di dalamnya, dan dari ke 85 rawi itu pula tidak kita dapatkan muridnya yang bernama Salm bin Al-Mughirah. Dan hanya pada riwayat ini saja yang penulis dapatkan Salm bin Al-Mughirah meriwayatkan dari Abu Mu’awiyah. Dengan begitu riwayat yang dibawa oleh Salm bin Al-Mughirah dari Abu Mu’awiyah ini padanya terdapat kemungkaran.

Dimana rawi-rawi tsiqah sebagai muridnya Abu Mu’awiyah? Kemana Imam Ahmad yang kita kenal hafalan riwayatnya mencapai ratusan ribu hadits? Kenapa ia tidak meriwayatkannya? Dimana Ahmad bin Sinan dan Said bin Mansur rawi tsiqah rijalnya Muslim? Kenapa Ahmad bin Sinan dan Said tidak meriwayatkan kabar berita seperti yang dibawa oleh Salm bin Al-Mughirah ini, padahal Ahmad bin Sinan dan Said adalah muridnya Abu Mu’awiyah yang riwayatnya dikutip oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya? Dimana Shadaqah bin Al-Fadl, rawi tsiqah yang dikutip oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya? Padahal Shadaqah ini adalah muridnya Abu Mu’awiyah yang sangat dekat. Dan juga kemana rawi-rawi tsiqah yang lain?

Dari jalan riwayat ini telah jelas Salm bin Al-Mughirah dari Abu Mu’awiyah ini riwayatnya Gharib dan Munkar. Imam Muslim dalam Muqaddimahnya telah mewaspadai akan gerak gerik rawi dhaif seperti ini dengan perkataannya :

فَأَمَّا مَنْ تَرَاهُ يَعْمِدُ لِمِثْلِ الزُّهْرِيِّ فِي جَلَالَتِهِ، وَكَثْرَةِ أَصْحَابِهِ الْحُفَّاظِ الْمُتْقِنِينَ لِحَدِيثِهِ وَحَدِيثِ غَيْرِهِ، أَوْ لِمِثْلِ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، وَحَدِيثُهُمَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مَبْسُوطٌ مُشْتَرَكٌ، قَدْ نَقَلَ أَصْحَابُهُمَا عَنْهُمَا حَدِيثَهُمَا عَلَى الِاتِّفَاقِ مِنْهُمْ فِي أَكْثَرِهِ، فَيَرْوِي عَنْهُمَا، أَوْ عَنْ أَحَدِهِمَا الْعَدَدَ مِنَ الْحَدِيثِ مِمَّا لَا يَعْرِفُهُ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِمَا، وَلَيْسَ مِمَّنْ قَدْ شَارَكَهُمْ فِي الصَّحِيحِ مِمَّا عِنْدَهُمْ، فَغَيْرُ جَائِزٍ قَبُولُ حَدِيثِ هَذَا الضَّرْبِ مِنَ النَّاسِ وَاللهُ أَعْلَمُ

“Dan apabila contohnya seperti Imam Zuhri dan Hisyam bin Urwah yang (terkenal) kebesarannya dan banyak shahabatnya yang termasuk para ahli huffazh yang kuat hafalan haditsnya, dan hadits kedua (Imam) ini tersebar, diikuti dan diriwayatkan oleh seluruh shahabat-shahabat yang lainnya secara ittifaq (sepakat), kemudian (disaat itu) terdapat seseorang yang meriwayatkan dari keduanya (Zuhri dan Hisyam) beberapa riwayat hadits yang tidak dikenal oleh shahabat-shahabat Zuhri dan Hisyam. Dan seorang rawi tersebut tidak termasuk kelompok mereka dalam periwayatan, maka riwayat (rawi ini) tidak boleh diterima dari contoh seperti ini”.[2]

Hadits yang dibawa oleh Salm bin Al-Mughirah ini jelas riwayatnya gharib.

Imam Ahmad berkata :

لا تكتبوا هذه الأحاديث الغرائب, فإنّها مناكير

“Janganlah kalian catat hadits-hadits gharib, karena ia itu termasuk hadits-hadits yang munkar”.[3]

Pemahaman Imam Ahmad ini diikuti oleh Syaikh Amr Abdul Mun’im dalam kitabnya :

فمن أوجه الشذوذ أو النكارة : أن يروي الراوي حديثا عن أحد الحفّاظ الكبار لا يشاركه فيه أحد من أصحاب هذا الحافظ من الثقات الأثبات المشهورين , فينفرد به عنه , ولا يكون لهذا الحديث أصل آخر يعضده.

“Dari contoh Syudud dan Nakarah (munkar) yaitu dimana seorang rawi meriwayatkan hadits dari seorang Imam Hafizh yang terkenal, dan dari shahabat-shahabat Imam Hafizh ini yang Tsiqath dan Masyhur tidak ada seorangpun yang mengikuti (rawi tersebut), sehingga rawi ini menyendiri dari (Imam) tersebut. Maka keadaan hadits seperti ini tidak bisa membantu (menguatkan) sumber (hadits) yang lain”.[4]

Yang kedua titik kritisnya riwayat ini (walaupun tidak diperlukan lagi akan penjelasan dhaifnya) adalah terputusnya sanad antara Khalid bin Ma’dan dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu.

Pada jalur 2 yang dibawa oleh Salm bin Al-Mugharih riwayatnya “dhaif syadid” dan ghair muhtamal.

Jalur 3 :

حدّثنا محمد بن عبد الله الحضرمي قال : ثنا محمد بن عمر الهياجي قال : نا الفضل بن موفق قال: نا مالك بن مغول عن نافع عن ابن عمر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى الفجر لم يقم من مجلسه حتى تمكنه الصلاة وقال : ” من صلى الصبح ثمّ جلس في مجلسه حتى تمكنه الصلاة كانت بمنزلة عمرة و حجة متقبلين “.

“Barangsiapa shalat shubuh kemudian duduk di tempatnya hingga ia melaksanakan shalat lagi (Isyraq) maka baginya sebanding dengan Umrah dan Haji yang keduanya diterima”.

(Dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabarani; Juz. 5 no.5602 hal. 375 cet. Darul Haromain)

Pada jalur ini terdapat rawi lemah yaitu: Al-Fadl bin Muwaffaq. Rawi ini dinilai lemah (dhaif) oleh Abu Hatim dengan komentarnya :

ضعيف الحديث كان شيخا صالحا قرابة لابن عيينة وكان يروي أحاديث موضوعة

“Dia termasuk rawi yang lemah (dhaif) dan dia seorang Syaikh yang shalih dekat dengan Ibnu ‘Uyainah. Dan diketahui meriwayatkan hadits-hadits maudhu (hadits palsu)”.

Kemudian apabila dilihat dari syaikhnya yaitu Malik bin Mighwal (tsiqah) maka bisa kita pahami riwayat yang dibawa Al-Fadl dari Malik riwayatnya Munkar. Hal ini disebabkan Malik bin Mighwal tidak memiliki murid yang bernama Al-Fadl.

Malik bin Mighwal rawi tsiqah yang masyhur banyak periwayatannya dan juga banyak juga murid-muridnya. Dalam kitab Tahdzibul Kamal pada biografi Malik bin Mighwal bisa kita lihat bahwa Al-Fadl bin Muwaffaq tidak memiliki sanad keguruan dari Malik bin Mighwal. Namun pada jalur ini Al-Fadl bin Muwaffaq meriwayatkan dari Malik. Sungguh nampak kemungkaran yang dibawa oleh Al-Fadl bin Muwaffaq dengan beberapa sebab :

Al-Fadl bukan muridnya Malik bin Mighwal

Al-Fadl telah tafarrud (menyendiri) dalam riwayat ini. Lalu kemana rawi-rawi tsiqah yang biasa meriwayatkan dari gurunya yaitu Malik bin Mighwal.

Riwayat Al-Fadl dari Malik bin Mighwal adalah gharib (asing)

Al-Fadl telah diketahui meriwayatkan riwayat-riwayat yang maudhu (palsu).

Jalur sanad yang dibawa oleh Al-Fadl hampir sama dengan jalur sanad yang dibawa oleh Salm bin Al-Mughirah yakni sama-sama riwayatnya gharib (asing). Kedua rawi dhaif tersebut berada bukan pada jalur yang semestinya.

Jalur riwayat seperti ini termasuk riwayat dhaif ghair muhtamal.

Secara keseluruhan 3 jalur di atas tidak sah sumbernya dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha

Pada hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anhu terdapat hanya satu jalur. Berikut penjelasannya :

حدثنا عبد الله بن محمد بن يعقوب البخاري، حدّثنا موسى بن أفلح بن خالد أبو عمران البخاري، حدثنا أبو حذيفة إسحاق بن بشر البخاري، حدّثنا سفيان الثوري عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “من صلى الفجر يوم الجمعة ثم وحّد الله في مجلسه حتى تطلع الشمس غفر الله عز وجل ما سلفه وأطاه الله أجر حجة وعمرة وكان ذلك أسرع ثوابا وأكثر مغنما”.

(Dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi; Al-Kamil fi Dhu’afaa’i Ar-Rijaal. Juz 1 hal. 337 cet. Darul Fikr)

Pada riwayat ini terdapat rawi pendusta yaitu Ishaq bin Bisyri.

Imam Ad-Daraquthni menilai: “dia rawi pendusta dan ditinggalkan (Kadzdzab dan Matruk). Begitupun penilaian Imam Azdi dengan mengatakan: “dia rawi Matrukul Hadits”.[5]

Jalur riwayat ‘Aisyah radhiyallahu’anhu adalah dhaif yang tidak bisa tertolong dan tidak bisa dipakai manhaj taqwiyyah (dikuatkan oleh hadits dhaif yang lain).

Hadits Mu’adz bin Anas Al-Juhani

Terdapat satu jalur, berikut penjelasannya :

أخبرنا أبو علي الروذباري ، أنبأ محمد بن بكر، ثنا أبو داود ، ثنا محمد بن سلمة المرادي ثنا ابن وهب عن يحيى بن أيوب عن زبان بن فائد عن سهل بن معاذ بن أنس الجهني عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : “من قعد في مصلاه حين ينصرف من صلاة الصبح حتى يسبح ركعتي الضحى لا يقول إلا خيرا غفر له خطاياه، وإن كانت أكثر من زبد البحر”

“Barangsiapa yang duduk-duduk di mushala (masjid) ketika selesai dari shalat shubuh sampai ia melaksanakan shalat dhuha tidak berkata-kata kecuali yang baik, maka ia telah diampuni dari kesalahan-kesalahannya walaupun (dosanya) lebih banyak daripada buih lautan.”

(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra Lil Baihaqi. Juz 3 hal. 69 no. 4907 cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Titik kritis penilaian pada hadits ini adalah 3 rawi yang dhaif yang semuanya tafarrud (menyendiri)

Sahl bin Mu’adz bin Anas Al-Juhani: “La ba’sa bih” (tidak apa-apa) kecuali pada riwayat Zaban darinya[6].

Zaban bin Faid: “Dhaiful Hadits” [7]

Yahya bin Ayyub Al-Ghafiqi: Ahmad bin Hanbal mengatakan: ”dia buruk hafalan”[8]. Adapun Ibnu Hajar menilai “Shaduq tapi ia bisa ada kelirunya”[9]

Sanad seperti ini adalah Dha’if Syadid disebabkan terdapat 3 rawi dhaif saling meriwayatkan. Ditambah ada penilaian khusus dari Ibn Hajar akan kedhaifan riwayat Sahl apabila menerima dari Zaban. Ditambah Yahya bin Ayyub termasuk rawi yang buruk hafalan menurut Ahmad bin Hanbal.

Sanad riwayat seperti ini termasuk dhaif ghair muhtamal (dhaif yang tidak bisa saling menguatkan dengan riwayat dhaif yang lain).

KESIMPULAN AKHIR :

Tidak ada satupun riwayat yang shahih tentang penjelasan Shalat Isyraq dengan duduk-duduk berdzikir setelah Shalat Shubuh menunggu Shalat Dhuha (Isyraq).

Bahkan dengan diketahuinya 5 riwayat yang mahfuzh (selamat dan shahih) yang di dalamnya menjelaskan keutamaan shalat wajib dan keutamaan shalat sunnah sangat jelas kemungkaran semua riwayat shalat Isyraq yang paketnya dengan duduk-duduk berdzikir dulu setelah shalat shubuh menunggu terbitnya matahari kemudian shalat Isyraq atau shalat dhuha.

Riwayat yang benar yang bisa kita pahami adalah :

Riwayat yang benar yang bisa kita pahami adalah :

a. Keutamaan keluar menuju masjid hendak shalat wajib dengan pahala seperti orang ibadah haji.

b. Keutamaan keluar menuju masjid hendak shalat sunnah diantaranya shalat dhuha dengan pahala seperti orang ibadah umrah.

c. Keutamaan menunggu dari Shalat ke Shalat pada shalat apa saja dengan pahalanya ditulis di kitab ‘Illiyyin. Seperti dari maghrib ke isya dan yang lain.

Inilah penjelasan riwayat yang benar dan terpelihara dari sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Demikian pembahasan yang bisa penulis catat dan rangkum, seperti biasa apabila ada jalur riwayat yang belum penulis kutip/keluarkan mohon masukkannya di kolom komentar.

Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu ‘Alaikum.

Akhukum Fillah

Oleh : Ustadz Abu Aqsith