Beranda Takhrij Hadis HADITS KEMBALINYA KHILAFAH ‘ALA MINHAJI NUBUWWAH

HADITS KEMBALINYA KHILAFAH ‘ALA MINHAJI NUBUWWAH

1075
0

Tidak ada orang Islam yang tidak ingin kekhilafahan model khulafa’u rosyidin datang lagi terwujud di muka bumi ini kecuali orang Islam yang dipertanyakan hakikat keislamannya. Hanya saja keinginan itu bentuk gerakannya berbeda-beda. Di kalangan para pejuang syariah dan Khilafah, sangat terkenal hadits yang menerangkan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jalan kenabian). Hadits yang terkenal ini dari Hudzaifah bin Al Yaman RA yang dalam sanadnya terdapat kritikan dari beberapa ulama yang menshohihkan, menghasankan dan mendloifkannya.

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada pengusung kembalinya ke-khilafahan, berikut takhrij yang telah penulis susun:

Jalur 1: (HR. Ahmad no.18319)

حدثنا سليمان بن دوود الطيالسي حدّثني داود بن إبراهيم الواسطي حدثني حبيب بن سالم عن النعمان بن بشير قال : كنا قعدوا في المسجد مع رسول الله ﷺ وكان بشير رجلا يكف حديثه فجاء أبوثعلبة الخشني فقال : يا بشير بن سعد أتحفظ حديث رسول الله ﷺ في الأمراء، فقال حذيفة : أنا أحفظ خطبته فجلس أبو ثعلبة فقال حذيفة : قال رسول الله ﷺ : ” تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة. ثم سكت

“Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.”

(Dikeluarkan oleh: Imam Ahmad; Musnad Imam Ahmad no. 18319 hal.1 62 Jilid 14 cet. Darul Hadits)

Inilah hadits yang diyakini akan datangnya bentuk pemerintahan islam model Khilafah yang menempuh jejak kenabian. Pada Jalur 1 ini urutan masanya adalah: Masa kenabian >> Masa kekholifahan (khulafau Rosyidin >> Masa Kedzoliman dan Kedzoliman >> Masa kembalinya Khilafah lagi.

Dan pada riwayat ini susunan sanadnya adalah: Sulaiman bin Daud Thoyalusy << Daud bin Ibrohim Al-Wasithy << Habib bin Salim << Nu’man bin Basyir << Khudzaifah r.a<< Nabi saw:

Penilaian para rowi:

– Khudzaifah : Shahabat Nabi saw

– Nu’man r.a : Shahabat Nabi Shigor.

– Habib bin Salim : Tsiqotun (Abu Hatim) Namun Fihi Nadzor/Dloif (Al-Bukhory) [1]

– Daud bin Ibrohim Al-Wasithy : Tsiqotun (Ibn Aby Hatim) [2]

– Abu Daud At-Thoyalisy: Tsiqotun, Hafidzun ada kekeliruan dalam hadits-haditsnya (ibn Hajar) [3]. Tsiqotun dan Shoduq (Ahmad bin Hambal dan Nasai).[4]

Jalur ini fokus kritiknya ada pada 2 rowi yaitu Habib bin Salim dan Abu Daud At-Thoyalisy.

Rowi Pertama: Habib bin Salim

Imam Ibn Hatim telah mentautsiqnya (menilai terpercaya) adapun Imam Al-Bukhory menilainnya dloif dengan perkataannya: “Fihi Nadzor”[5].

Perkataan “Fihi Nadzor” ini dinilai oleh para ulama rowinya lemah sekali. Imam Ad-Dzahaby mengomentari:

قوله: فيه نظر، وفي حديثه نظر، لا يقوله البخاري إلا فيمن يتهمه غالبا

“Perkataan dia (Imam Bukhari) : “fihi nazhar” (dia perlu dipertimbangkan), dan “fii hadiitsihi nazhar” (haditsnya perlu dipertimbangkan), tidaklah diucapkan oleh Imam Bukhari kecuali mengenai orang-orang yang dia tuduh [tidak kredibel] pada galibnya.”
(Imam Adz Dzahabi, MizanuI I’tidal, 1/3-4).

Terdapat sanggahan dari pernyataannya “Fihi Nadzor” ini bahwa padanya tidak selalu otomatis rowinya lemah sekali. Dengan bukti bahwa imam At-Turmudzy pernah bertanya tentang hadits bacaan surat Al-A’la dan surat Al-Ghosyiyah pada dua sholat ied dan Jum’at dimana Imam Al-Bukhory menshohihkannya padahal dalam sanadnya ada Habib bin Salim. Berikut riwayatnya:

حدثنا قتيبة، حدثنا أبو عوانة، عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر، عن أبيه، عن حبيب بن سالم، عن النعمان بن بشير، أنّ النبي ﷺ كان يقرأ في العيدين، والجمعة، بـــ (سبح اسم ربّك الأعلى) و (هل أتاك حديث الغاشية) وربما اجتمعا في يوم فيقرأ بهما.

سألت محمدأ عن هذا الحديث. فقال: هو حديث صحيح. [6]

Disini Imam At-Turmudzy bertanya kepada Imam Al-Bukhory tentang Hadits yang di bawakannya. Imam Bukhory menjawab: haditsnya shohih.

Pada pernyataan ini di simpulkan bahwa pernyataan Al-Bukhory dengan perkataannya: “Fihi Nadzor” tidak selalu rowinya lemah.

Sanggahan diatas hemat penulis lemah dengan sebab:

1. Imam Al-Bukhory menilai shohih tidak berarti rowi di dalamnya shohih, termasuk Habib bin Salim. Terbukti Imam Al-Bukhory mengatakan: “Hadits itu shohih”. Dan tidak mengatakan: “Sanadnya Shohih”. Ini disebabkan karena riwayat tentang bacaan Surat Al-A’la dan Al-Ghosyiah pada dua hari raya itu banyak jalur periwayatannya bukan melalui Habib saja. Berikut jalur-jalur periwayatan tentang hadits ini:

– Hadits Riwayat Abu ‘Utbah r.a:

أخرج ابن أبي شيبة وابن ماجة عن أبي عتبة الخولاني أن النبي كان يقرأ في الجمعة بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

– Hadits Ibn Abbas r.a:

وأخرج ابن ماجة عن ابن عباس أن النبي كان يقرأ في العيد بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

– Hadits Samaroh bin Jundab r.a:

وأخرج أحمد وابن ماجة والطبراني عن سمرة بن جندب أن النبي كان يقرأ في العيدين بسبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

– Hadits Anas bin Malik r.a:

وأخرج البزار عن أنس أن النبي كان يقرأ في الظهر والعصر ب سبح اسم ربك الأعلى وهل أتاك حديث الغاشية

Dengan begitu, pernyataan Imam Al-Bukhory dengan mengatakan Hadits itu Shohih tidak berarti tertuju pada sanad yang dibawa Al-‘turmudzy itu yang padanya terdapat rowi yang bernama Habib bin Salim namun masih memungkinkan penilaiannya itu pada derajat haditsnya secara I’tibar.

Terdapat pernyataan dari Imam Al-Bukhory sendiri yang tidak diperlukan penjelasan lagi makna “Fihi Nadzor”. Dimana Imam Al-Bukhory mengatakan:

كل من لم أبين فيه جُرْحَةً فهوعلى الاحتمال ، وإذا قلت : فيه نظر ، فلا يحتمل

“Setiap rowi yang tidak aku jelaskan Jarh-nya (Kritikannya) di kitab (At-Tarikh) maka rowi itu bagiku Muhtamal. Dan apabila aku berkata (di kitab Tarikh): “Fihi Nadzor”, maka rowi itu Goir Muhtamal”.[7]

Keterangan:

Muhtamal : Rowi dloif yang memungkinkan haditsnya untuk bisa saling menguatkan dengan hadits lain.
Goir Muhtamal : Rowi dloif yang tidak memungkinkan haditsnya untuk bisa saling menguatkan dengan hadits lain

Dari pernyataannya ini jelas, setiap pernyataan dari Al-Bukhory dengan perkataannya: “Fihi Nadzor” adalah penilaian keras terhadap seorang rowi hingga menurutnya rowi yang ada dalam sanad itu haditsnya lemah sekali, tidak bisa saling menguatkan untuk menjadi hadits hasan lighoirih dengan hadits yang lainnya.

Dari sini bisa kita simpulkan rowi-rowi yang sudah dapat penilaian “Fihi Nadzor” dari Imam Al-Bukhory maka sudah jelas rowi tersebut baginya sudah tidak diperhitungkan dan termasuk kategori Dloif syadid hingga Imam Al-Bukhory menyebutnya rowi tersebut “La Yuhtamal” artinya rowi tersebut tidak memungkinkan untuk dikuatkan oleh hadits yang lain.

Apa yang sudah dinilai oleh Imam Al-Bukhory bahwa rowi itu dloif tentu mungkin saja oleh Imam yang lain dinilai baik, seperti Habib ini, namun hai ini tidak berpengaruh pada hasil penilaiannya, karena masing-masing sudah ada pada wilayah ijtihad para Imam tersebut.

Dari dua penilaian berbeda ini antara Imam Al-Bukhory dan Abu Hatim, penilaian yang mana yang diterima dan penilaian mana yang ditolak?

Rowi kedua : Sulaiman bin Daud At-Thoyalisy

Abu Daud At-Thoyalisy ini Tsiqoh namun Ibnu Hajar memberikan sedikit tambahan nilai padanya bahwa rowi ini ada kekeliruan dalam hadits-hadits yang dibawanya [8]. Tsiqotun dan Shoduq (Ahmad bin Hambal dan Nasai).[9]

Imam Ahmad ditanya: Apakah dia ada kesalahan? Ia menjawab: “Yuhtamal lahu” (kesalahannya terangkat). [10]

Imam Ibrohim bin Said Al-Jauhary berkata:

أخطأ أبو داود الطيالسي في ألف حديث

Abu Daud At-Thoyalisy keliru pada 1000 hadits”.

Kesimpulan:

Jalur 1 ini yang dibawa oleh Sulaiman bin Daud dari Daud bin Ibrohim dari Habib bin Salim dari Nu’man dari Khuzaifah riwayatnya dloif apabila penilaian Imam Al-Bukhory lebih kuat dari pada Abu Hatim. Dan juga dengan pertimbangan kelirunya Sulaiman. Dan bisa menjadi Hasan apabila penilaian Abu Hatim lebih kuat daripada penilaian Imam Al-Bukhory.

Untuk menentukan penilaian mana yang lebih kuat? Apakah hadits ini hasan atau dloif diperlukan jalur riwayat lain sebagai pembanding. Berikut penjelasan jalur-jalur yang lainnya:

Jalur 2: (HR. Ath-Thobarony: 6581. HR. Ibn Aby Syaibah)

حدّثنا محمّد بن جعفر بن أعين : ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا زيد بن الحباب : ثنا العلاء بن المنهال الغنوي : حدّثني مهنّد القيسي –كان ثفة- عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب عن حذيفة بن اليمان قال : قال رسول الله ﷺ: إنكم في نبوة ورحمة، و ستكون خلافة ورحمة، ثم يكون كذا وكذا، ثم يكون ملوكا عضوضا، يشربون الخمور، ويلبسون الحرير، وفي ذلك ينصرون إلى أن تقوم الساعة.

“Kalian (hari ini) ada dalam (masa) kenabian dan rahmat, kemudian (setelahnya masa) Kekholifahan (khulafau Rosyidin) dan rahmat. Kemudian (setelahnya) begini dan begitu,.. Kemudian (setelahnya) kerajaan-kerajaan yang keji, mereka minum minuman Khomr dan memakai pakaian sutra,….”.

(HR. At-Thobarony; Mu’jam Ausath no. 6581 Juz 6 hal. 345 cet. Darul Haromain; HR. Ibn Aby Syaibah; HR. Ibn A’roby; Al-Mustagfiry. Riwayat diatas adalah riwayat At-Thobarony)

Riwayat At-Thobarony, Ibn Aby Syaibah dan Ibnu A’roby Semuanya bermuara ke: Zaid bin Al-Hubbab << Al-‘Ala bin Minhal << Muhannad bin Hisyam << Qois bin Muslim << Thoriq bin Syihab r.a << Hudzaifah r.a << Nabi saw:

Semua Jalur ini Tsiqoth (In Syaa Allah):

– Hudzaifah r.a: Shahabat Nabi saw

– Thoriq r.a : Shabat Shigor Tsiqotun. [11]

– Qois bin Muslim : Tsiqotun (Rijal Al-Bukhori dan Muslim). Yahya bin Ma’in dan Abu Hatim mentsiqohkannya [12]

– Muhannad bin Hisyam : Al-‘Ijly mengatakan: “Dia orang Kufah Tsiqotun” [13] dan Ibnu Hibban memasukkannya di kitab At-Tsiqoth [14] dan di dalam sanad ibn aby syaibahpun dikatakan “Dia Tsiqoth”.[15]

– Al-‘Ala bin Minhal : Abu Zur’ah menilainya :”Tsiqotun” [16]. Imam Al-‘Ijly pun menilainya: “Tsiqotun”.[17]

– Zaid bin Al-Hubbab : Telah dinilai Tsiqoh oleh Ibn Main, ‘Aly bin Madany, Al-‘ijly [18]. Abu Hatim mengatakan: “Shoduq, Sholih”. Imam Ahmad menilain: “Shoduq”. [19].

Riwayat ini Shohih dengan rowi-rowinya yang Tsiqoth in Syaa Allah, pada riwayat ini urutan zamannya yaitu: Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman dan kedzoliman. Titik. Dan tidak kita dapatkan penyebutan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Riwayat ke 2 ini jelas tidak sama dengan riwayat sebelumnya pada jalur 1 dari riwayat Sulaiman bin Daud dari Daud dari Habib. Dan apabila di bandingkan kedua riwayat tersebut tentunya jalur ke 2 ini yang diriwayatkan oleh Ibn Aby Syaibah dan Imam Athobarony dari jalan Zaid bin Hubbab adalah Mahfudz (terpelihara) karena rowi-rowi semuanya tsiqoh, adapun riwayat yang dibawa oleh Sulaiman bin daud yang terdapat Habib bin Salim yang didloifkan oleh Imam Al-Bukhory riwayatnya adalah Munkar atau Syad.

Munkar apabila penilaian Imam Al-Bukhory di ambil bahwa Habib adalah Dloif dan juga kekeliruan hafalan Sulaiman bin Daud.

Syad apabila penilaian Abu Hatim di ambil bahwa Habib adalah tsiqoh dan lemahnya terdapat di Sulaiman yang kadang keliru dari hafalannya.

Kedua penilaian Imam diatas tetaplah riwayat yang dibawa oleh Sulaiman bin daud yang terdapat padanya Habib bin Sulaim adalah lemah (dloif).

Untuk memperkuat penilaian akan lemahnya riwayat Habib ini, berikut jalur ke 3 sebagai syahid bagi jalur 2 yang dibawa oleh Zaid:

Jalur 3 : (HR. Abu Na’im)

حدّثنا أبو أحمد محمّد بن أحمد ثنا عبد الله بن محمّد بن شيروية وحدّثنا أبو عمرو بن حمدان ثنا الحسن بن سفيان قالا: ثنا إسحاق بن إبراهيم أخبرنا عبد الرزاق ثنا بكاربن عبد الله حدّثني خلاد بن عبد الرحمن أن أبا الطفيل حدّثه أنّه سمع حذيفة يقول : يا أيها الناس ألا تسألوني؟ فإن الناس كانوا يسألون رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخير، وكنت أسأله عن الشر، إن الله بعث نبيه صلى الله عليه وسلم فدعا الناس من الكفر إلى الإيمان، ومن الضلالة إلى الهدى، فاستجاب له من استجاب، فحيي من الحق ما كان ميتا، ومات بالباطل من كان حيا، ثم ذهبت النبوة فكانت الخلافة على منهاج النبوة، ثم يكون ملكا عضوضا، فمن الناس من ينكر بقلبه ويده ولسانه والحق استكمل، ومنهم من ينكر بقلبه ولسانه كافا يده وشعبة من الحق ترك، ومنهم من ينكر بقلبه كافا يده ولسانه وشعبتين من الحق ترك، ومنهم من لا ينكر بقلبه ولسانه فذلك ميت الأحياء

‘Hudzaifah berkata: Wahai manusia, tidakkah kalian bertanya kepadaku? Sesungguhnya manusia waktu itu bertanya kepada Rasul saw tentang kebaikan, dan aku bertanya kepadanya tentang keburukan. Sesungguhnya Allah swt mengutus nabinya saw untuk menyeru orang-orang dari kekufuran kepada keimanan. Dan dari kesesatan kepada petunjuk. Maka terkabullah orang yang memohon dan hiduplah dalam kebenaran yang sebelumnya mati. Dan matilah kebatilan yang sebelumnya hidup. Kemudian lenyaplah kenabian (diikuti) era kekhilafahan atas manhaj kenabian. Kemudian setelah itu muncullah kerajaan yang menggigit (dzolim)……”

(HR. Abu Na’im; Hilyatul Auliya. Juz 1 hal.274-275; Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah. H.R. Imam Ahmad)

Pada jalur ini penjelasan para rowinya adalah sebagai berikut:

– Khuzaifah r.a : Shahabat Nabi saw

– Abu Thufail r.a : Shahabat Nabi saw

– Khollad bin Abdurrohman : Abu Zur’ah mengatakan: “Tsiqotun” [20]

– Bakar bin Abdullah : Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in mengatakan : “dia (Bakar) Tsiqotun” [21]

– Abdurrozzaq bin Hammam Abu Bakar Ashon’any : Tsiqotun [22] (Penyusun Kitab)

– Ishaq bin Ibrohim Al-Handzoly: Tsiqotun Hafidzun Mujtahidun [23]

– Al-Hasan bin Sufyan: Tsiqotun Shohibul Musnad. [24]

– Abu ‘Amr bin Hamdan: nama Aslinya Muhammad bin Ahmad bin Hamdan Abu ‘Amr: Zahidun Tsiqotun. Imam Muhaddits [25]

– ‘Abdullah bin Muhammad bin Syirowiyyah: Hafidzun Faqihun Penyusun Mushnaf. [26]. Dalam riwayat ini Ibnu Syirowiyah berserikat dengan Abu ‘Amr bin Hamdan (Maqrun)

– Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad: nama lengkapnya Muhammad bin Ahmad bin Al-Husein Al-Qosim bin Al-Ghitrify. Imamnya Syaikh Abu Nai’m. Imam Ibn Hajar menilai: “Tsiqotun Tsabtun”.[27]

Jalur ke 3 ini Shohih (In Syaa Allah), Rowi-rowinya Tsiqoh dan sangat kuat. Di riwayat ke 3 ini cukup panjang matannya namun tetap jelas urutan zamannya sama dengan riwayat ke 2, yaitu: Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman dan Kedzoliman. Titik. Dan tidak kita dapatkan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Jalur ke 4 : (HR. Na’im bin Hamad 233)

حدثنا بقية بن الوليد و عبد القدوس ، عن صفوان بن عمرو ، عن عبد الرحمن بن جبير بن نفير. عن أبي عبيدة بن الجراح رضي الله عنه – قال أحدهما : قال رسول الله ﷺ : ” أول هذه الأمة نبوة ورحمة ثم خلافة ورحمة ثم ملكا عضوضا وقال أحدهما: عاض وفيه رحمة ثم جبروت صلعاء ليس لأحد فيها متعلق تضرب فيها الرقاب وتقطع فيها الأيدي والأرجل وتؤخذ فيها الأموال

(HR. Na’im bin Hamad; Kitabu Al-Fitan. hal. 98 no. 233 cet. Maktabah At-Tauhid Al-Qohiroh)

Rowi-rowi diriwayat ini tsiqoh:

– Abu Ubaidah r.a : Shahabat Nabi saw.

– Abdurrohman Al-Khodromy : Tsiqotun (Abu Jur’ah, Nasa’I dll) dan Abu Hatim menilai: Sholihul Hadits [28]

– Shofwan bin ‘Amr As-Saksaky : Tsiqotun (Al-‘ijly, Abu Hatim, Nasai). [29]

– Abdul Qudus bin Hajjaj : Tsiqotun (Daroquthny, Al-‘Ijly, ibn Hibban) Shoduq (Abu Hatim). [30]

– Baqiyyah bin Al-Walid : Tsiqotun (Ya’qub, ibn Sa’ad, Abu Zur’ah). Ibnu Hajar menilai beliau Shoduq banyak tadlis [31], di samping itu beliau punya sifat “Ath-Thoroif” yakni apabila meriwayatkan dari rowi dloif atau majhul, dimana riwayatnya tidak diterima. Namun disini baqiyyah tidak ada masalah karena:
1. Berserikat (maqrun) dengan Abdul Quddus yang tsiqoh dan juga
2. Meriwayatkan dari rowi tsiqoh.

Hanya saja riwayat ini munqothy (terputus) antara Abdullah bin Jubaer ke Abu Ubaidah r.a. namun riwayatnya terangkat menjadi hasan karena terdapat syawahid di jalur 2 dan 3 yang urutan masanya sama.

Jalur ini in Syaa Allah Hasan. Apa yang diriwayatkan pada jalur ini?

Di riwayat ke 4 ini juga sama dan jelas urutan zamannya sama dengan riwayat ke 2 dan 3, yaitu Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman yang keji memenggal leher dan memotong tangan. Titik dan tidak kita dapatkan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Kemudian kita masuk jalur ke 5

Jalur ke 5 : (HR. Bazzar)

حدثنا محمد بن مسكين قال: نا يحيى بن حسان قال: نا يحيى بن حمزة عن أبي وهب عن مكحول عن أبي ثعلبة عن أبى عبيدة بن الجراح قال : قال رسول الله ﷺ : ” إنّ أول دينكم بدأ نبوة ورحمة ثم تكون خلافة ورحمة ثم يكون ملكا وجبرية يستحل فيها الدم “.

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya permulaan agama kalian itu dimulai era kenabian dan rahmat kemudian setelahnya Khilafah (khulafau Rosyidin) kemudian setelahnya kerajaan Jabariyyah yang menghalalkan darah”.

(HR. Al-Bazzar; Al-Bahrul Zakhor Musnad Al-Bazzar. Juz 4 hal. 108 no. 1282 cet. Maktabah Al-‘Ulum Wal Hukm)

Juga diriwayatkan oleh Ath-Tobarony dan Ad-Daromy semua bermuara ke : Yahya bin Hamzah << Abu Wahab << Makhul << Abu Tsa’labah r.a << Abu Ubaidah r.a:

Penjelasan rowi :

– Abu Ubaidah : Shahabat Nabi saw.

– Abu Tsa’labah r.a : Shahabat nama aslinya Jartsum bin Natsir.

– Makhul As-Syamy: Tsiqotun Mursil (Ibn Hajar)[32]. Tsiqotun (Al-‘Ijly) Faqih (Abu Hatim)[33]

– Abu Wahab (Ubaidillah bin Ubaid) : Shoduq (ibn Hajar).[34]

– Yahya bin Hamzah : Tsiqotun (Rijal Al-Bukhory dan Muslim).[35]

Semua rowi pada jalur ini baik. Hanya saja rowi yang bernama Makhul terputus ke Abu Tsa’labah, namun Jalur 2 dan 3 yang riwayatnya Shohih dan jalur ke 4 adalah sebagai syahid yang mengangkat derajat hadits ini menjadi hasan.

Di riwayat ke 5 ini juga sama dan jelas urutan zamannya sama dengan riwayat ke 2, 3 dan 4 yaitu Masa kenabian >> Masa kekholifahan >> Masa Kedzoliman yang keji yang suka mengalirkan darah. Titik dan tidak kita dapatkan kembalinya kekholifahan sepeninggal kekholifahan Khulafau Rosyidin.

Jalur ke 6: (HR. Muslim):

حدثنا شيبان بن فروخ حدثنا سليمان بن المغيرة حدثنا حميد بن هلال عن خالد بن عمير العدوي قال خطبنا عتبة بن غزوانفحمد الله وأثنى عليه ثم قال أما بعد………………….. وإنها لم تكن نبوة قط إلا تناسخت حتى يكون آخر عاقبتها ملكا فستخبرون وتجربون الأمراء بعدنا.

“…….. Dan sesungguhnya tidak pernah ada kenabian ( dan jalannya ) kecuali ( yang akhirnya ) kenabian itu terlupakan orang sehingga menjadi semata-mata kerajaan duniawi. Oleh sebab itu pada masa akan datang kamu akan mengalami gubernur-gubernur lain setelah kami”.

(HR. Muslim; Shohih Muslim. Kitab Juhdi Wa Roqoiq. Hal 1586 no. 2967 cet. Darul Mughny)

Jalur ke 6 riwayat Muslim ini shohih sebagai saksi (Syahid) bahwa setelah kenabian dan kekholifahan para sahabat yang muncul adalah kerajaan dan kenegaraan duniawi.

Jalur ke 7: (HR. Abu Daud)

حدثنا سوار بن عبد الله، حدثنا عبد الوارث بن سعيد ، عن سعيد بن جمهان ، عن سفينة قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “الخلافة النبوة ثلاثون سنة ، ثم يؤتي الله الملك ، أو ملكه من يشاء” .

Nabi saw bersabda: “Khilafah kenabian itu 30 tahun. Kemudian setelahnya Allah mendatangkan era kerajaan.”

(HR. Abu Daud; Sunan Aby Daud. Juz 5 hal.27 no. 4646 juga no. 4647 cet. Daru Ibn Hazm)

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 6657 dari jalan Ibrohim dari Abdul Warits dari Sa’id.

Jalur ini baik. Berikut penjelasan rowinya:

– Said bin Jamhan: Shoduq.[36]

– Abdul Warits bin Sa’id: Tsiqotun Tsabtun. [37]

– Sawwar bin ‘Abdullah bin Sawwar bin Qudamah: Tsiqotun. [38]

Di riwayat ini jelas bahwa Kekhilafahan Nabawiyyah pada umat Islam itu hanya 30 tahun, kemudian setelah itu dipimpin oleh pemerintahan kerajaan. Coba kita hitung masa kekhalifahan khulafaur-Rasyidin: Abu Bakar 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun, Ali bin Abi Thalib 6 tahun, maka sempurnalah menjadi 30 tahun. Sedangkan pemimpin sesudahnya pada hakikatnya adalah para raja-raja seperti yang digambarkan pada riwayat-riwayat diatas.

Namun berdasarkan fakta muncul kekhilafahan sepeninggal Khilafah Khulafaurrasyidin (khilafah yang 4) diantaranya adalah khilafah Mu’awiyah sepeninggal Kekhilafahan ‘Ali r.a, kemudian setelahnya khilafah bani umayyah, khilafah bani abbasyiyah dan sampai sekarang beberapa faksi muncul mengatas namakan Khilafah seperti IS. Apakah kenyataan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Nabi saw bahwa Khilafah Kenabian itu 30 tahun?

Itu tidak bertolak belakang. Karena seperti yang telah dikutip di atas laffadz “Khilafah ‘Ala Manhaj An-Nubuwwah” itu memang di alamatkan hanya kepada Khilafah khulafaurrasyidin.

Al-hafidz telah memperjelas makna Khilafah ‘Ala Minhaji Nubuwwah:

حَدِيثِ الْخِلَافَة بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَة لِأَنَّ الْمُرَاد بِهِ خِلَافَة النُّبُوَّة وَأَمَّا مُعَاوِيَة وَمَنْ بَعْده فَكَانَ أَكْثَرُهُمْ عَلَى طَرِيقَة الْمُلُوك وَلَوْ سُمُّوا خُلَفَاء ، وَاَللَّه أَعْلَمُ

“(Berdasarkan) hadits khilafah kenabian 30 tahun sesungguhnya yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah Khilafah Nubuwwah (Khilafah yang berjalan diatas metode kenabian), adapun Mu’awiyah serta penguasa-penguasa setelahnya yang jumlah mereka sangat banyak berjalan diatas thariqah (tabi’at) al-muluk (raja-raja) walaupun semuanya dinamakan sebagai Khalifah. Wallahu a’lam.“

(Kitab Fathul Bary; Ibnu Hajar. Juz 12 hal. 392 Cetakan: Darul Ma’rifah)

Dengan melihat riwayat-riwayat diatas, penulis melihat bahwa penilaian Imam Al-Bukhory sangat tepat terhadap rowi yang bernama Habib bin Salim dengan mengatakan “Fihi Nadzor”. Seperti yang sudah dibahas diatas, Imam Al-Bukhory yang langsung menjelaskan maksud perkataannya “Fihi Nadzor” ini adalah penilaian yang sangat lemah sekali yang baginya rowi seperti ini tidak bisa dibantu riwayatnya oleh riwayat yang lain dalam tema Hasan Lighoirih. Ditambah rowi yang bernama Sulaiman bin Daud walaupun tsiqoh namun dikatakan oleh beberapa imam diantaranya Imam Ibn Hajar bahwa riwayatnya suka ada kekeliruan.

Kesimpulan:

Dengan melihat 7 Jalur diatas berikut Kesimpulannya:

1. Jalur ke 2 s.d ke 5 urutan masanya sama yaitu : Masa kenabian >> Masa Kekholifahan >> Masa Kedzoliman dan Kekejian. Titik. Sangat berbeda dengan jalur ke 1 ada tambahan setelahnya kembalinya Masa Kekholifahan ‘Ala minhaji Nubuwwah.

2. Jalur ke 2 dan jalur ke 3 riwayatnya Shohih dan sangat kuat. Adapun jalur 4 dan jalur 5 riwayatnya Hasan.

3. Jalur ke 1 peralihan masanya terdapat tambahan kembalinya lagi kekholifahan setelah masa kedzoliman. Dan jalur ke 1 ini tafarrud (menyendiri) tidak kita dapatkan riwayat lagi sekalipun riwayat yang dloif yang menyertainya.

4. Jalur ke 1 ini disamping berbeda matannya. Juga rowinya terdapat 2 cacat, yaitu: Habib bin Salim : disaat yang lain mentsiqohkan, Al-Bukhary melemahkannya (fihi Nazor). Dan Sulaiman bin Daud walaupun Tsiqoh namun dinilai oleh Ibn Hajar (gholat) yakni suka keliru juga dalam periwayatannya.

5. Dengan 2 cacat pada jalur 1 diatas, Al-Bukhory cukup cerdas memberikan komentarnya “Fihi Nadzor” pada Habib bin Salim, karena memang pada riwayat ini Habib menyalahi 4 jalur yang lain. Atau kemungkinan kedua, kekeliruan riwayat jalur 1 ini ada pada Sulaiman bin Daud walaupun Tsiqoth kadang ia suka keliru dalam haditsnya. Dan terbukti pada periwayatan tema ini riwayatnya menyalahi 4 riwayat yang lain.

6. Jalur ke 1 ini yang dibawa oleh Sulaiman bin Daud dari Daud dari Habib karena menyalahi 4 jalur yang lain yang Shohih dan jalur ke 6 dan ke 7, maka jalur ke 1 ini Syad atau Munkar.

7. Syad apabila jalur 1 ini Habib dinilai Tsiqoth oleh Aby Hatim.

8. Dan Munkar apabila jalur ini Habib dinilai Dloif oleh Al-Bukhory.

9. Riwayat Jalur 1 tentang “kembalinya Kekholifahan baru” setelah masa kedzoliman adalah dloif dengan 2 cacat diatas ditambah riwayatnya Syad dan Munkar.

Demikian takhrij hadits tentang kembalinya Kekhilafahan atas Manhaj kenabian. Dengan tidak mengurangi rasa simpati penulis kepada pengusung kekhilafahan penulis menilai hadits yang dibawa oleh Sulaiman bin Daud dari Daud dari Habib derajat haditsnya dloif.

Wallahu A’lam.

Oleh : Ustadz Abu Aqsith