Beranda Fikih Hak Waris Anak di Bawah Kepengurusan Ayah dan Ibu Sambungnya

Hak Waris Anak di Bawah Kepengurusan Ayah dan Ibu Sambungnya

437
0

Pertanyaan :

Apabila seorang istri/ibu wafat meninggalkan beberapa orang anak. Kemudian suami/ayah anak tersebut menikah lagi, lalu istri barunya (ibu sambung dari anak mayyit) tak mau tau terhadap anak tersebut.
Bagaimana hak anak-anak tersebut terhadap harta peninggalan ibunya (hasil bersama suami) yang sekarang dikuasai istri barunya?

Jawaban :

Sehubungan dengan kejadian di atas, sesungguhnya ada beberapa hak anak terkait masalah harta yang wajib dipenuhi, yaitu :

1. Hak waris dari harta peninggalan ibunya yang telah meninggal dunia. Dalam Al-Quran Allah swt berfirman,

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ – النساء: 11

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh setengah harta…” (An-Nisa : 11)

Hak ini wajib dipenuhi karena termasuk diantara aturan-aturan Allah yang mesti dilaksanakan, karena itu setelah menjelaskan secara rinci tentang pembagian harta waris Allah ta’ala berfirman :

“(Hukum-hukum waris tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa : 13-14)

2. Hak mendapatkan nafkah dari ayahnya. Allah swt berfirman :

{وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ}
[الطلاق: 6]

“Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (At-Thalaq : 6)

Dalam ayat di atas, Allah mewajibkan seorang ayah untuk memberi upah atas pemberian ASI (air susu ibu) kepada anaknya. Karena menafkahi anak itu kewajiban ayah.
Dalam ayat lainnya Allah ta’ala berfirman :

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ – البقرة: 233

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf…” (Al-Baqarah : 233)

Kemudian juga dijelaskan dalam sebuah hadis,

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ، فَقَالَ: «خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ، بِالْمَعْرُوفِ»صحيح البخاري – 7/ 65

“Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti utbah berkata, Ya Rasulullah! Sesungguhnya Abu Sufyan (suaminya) adalah seorang lelaki yang pelit, tidak memberikan nafkah yang mencukupiku dan anakku, kecuali bila aku mengambil sebagian hartanya tanpa sepengetahuannya. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ambillah harta Abu Sufyan yang cukup untuk dirimu dan anakmu sewajarnya.” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 7/65)

Selain hak-hak yang bersifat materi di atas, seorang ayah pun dituntut untuk memenuhi kebutuhan mental dan spiritual anak-anaknya melalui bimbingan dan pendidikan yang diberikan kepadanya.

Oleh : Muslim Nurdin