Beranda Saum Hamil Menyusui, Qadha atau Fidyah ?

Hamil Menyusui, Qadha atau Fidyah ?

694
0

Bagaimana orang hamil dan menyusui jika berbuka saum, apakah wajib qadha atau fidyah ?

Saum Ramadlan merupakan kewajiban bagi kaum muslimin dewasa, baik laki-laki maupun perempuan yang dilaksanakan pada bulan ramadlan. Kewajiban tersebut disebut dengan azimah atau ketentuan asal, berdasarkan ayat berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah : 183)

Bagi orang yang sakit atau dalam keadaan safar, rukhsahnya diperbolehkan untuk berbuka, namun bagi keduanya, wajib membayar qadha atau mengganti saum pada hari yang lain. Adapun bagi yang terkategori mutiq, yaitu orang yang payah atau tidak mampu saum, maka wajib menggantinya dengan fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin.

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan orang miskin (al-Baqarah: 184)

Adapun orang yang haid mereka diharamkan saum, namun wajib untuk mengqadha atau menggantinya pada hari lain, sebagaimana orang yang sakit dan safar, berdasarkan keterangan dari Aisyah sebagai berikut :

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (HR Muslim, Sahih Muslim, 1/182)

Begitu juga dengan orang yang nifas, karena illatnya sama dengan haid, maka hukum nifas sama dengan orang yang haid. Disamping itu, diperkuat adanya ijma bahwa hukum orang yang nifas sama dengan orang yang haid (Nail al-Authar, 2/239)

Dari berbagai keterangan diatas jelaslah bahwa illat dibolehkannya untuk tidak saum yaitu pertama orang yang sakit dan safar, jika berbuka, wajib qadha. Kedua, kategori mutiq, jika tidak saum, maka wajib fidyah. Ketiga, orang yang haid dan nifas, haram saum, namun wajib diganti dengan qadha.

Adapun terkait dengan hamil dan menyusui bukan merupakan illat tersendiri, namun mengikuti keadaan illat yang ada. Ada beberapa atsar terkait hal ini, pertama atsar dari Ibn Abbas :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : {وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} ، قَالَ : كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ ، وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ ، وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا ، وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ سْكِينًا ، وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا

Dari Ibnu Abbas: WA ‘ALALLADZII YUTHIIQUUNAHU FIDYATUN THA’AAMU MISKIIN (dan bagi orang yang berat menjalankanya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin), ia berkata; hal tersebut merupakan keringanan bagi laki-laki tua dan wanita tua, dan mereka -sementara kedua mampu melakukan puasa- agar berbuka dan memberi makan setiap hari satu orang miskin, dan keringanan bagi orang yang hamil dan menyusui apabila merasa khawatir. (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 2/296)

menunjukan bahwa hamil dan menyusui bukan illat tersendiri, namun dipersamakan dengan orang tua yang payah saum. Tentunya tidak semua orang tua renta tidak mampu saum. Adapula orang yang  sudah tua renta namun tetap kuat saum, karena itu bukan karena tuanya, tapi karena payah atau tidak mampu saumnya yang mengakibatkan wajibnya fidyah. Artinya jika hamil menyusui kemudian khawatir terhadap keadaan dirinya atau anaknya dengan sebab melaksanakan saum, maka boleh berbuka dan wajib fidyah, sebagaimana orang tua renta yang payah saum.

Pada kesempatan yang lain Ibn Abbas berfatwa kepada seorang perempuan yang hamil

أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الَّتِي لا تُطِيقُهُ فَعَلَيْكِ الْفِدَاءُ، ولاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ

“engkau tempatnya sama dengan orang yang payah, maka wajib bagimu fidyah, tidak ada qadha bagimu (HR al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, 11/227)

Kedua, atsar fatwa Ibn Umar kepada perempuan yang hamil :

أَفْطِرِي وَأَطْعِمِي عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا ، وَلاَ تَقْضِي

Dari Ibn Umar sesungguhnya seorang perempuan dalam keadaan hamil bertanya kepadanya beliau menajawab : “berbukalah dan berilah makan setiap hari satu orang miskin, dan tidak ada qadha (bagimu) (HR ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, 3/198)

Adapun hadis

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

dari Abu Qilabah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ” Allah telah membebaskan setengah shalat dan puasa dari orang-orang yang bepergian dan dari wanita yang hamil serta menyusui.” (HR an-Nasa’I, Sunan an-Nasa’I, 4/491)

Allah mengangkat saum bagi orang yang hamil dan menyusui sebagaimana dalam riwayat Ibn Abbas dan Ibn Umar, maksudnya jika dia berbuka karena kepayahan atau tidak mampu saum (mutiq). Karena pada dasarnya orang yang hamil dan menyusui bukan illat tersendiri, sehingga kembali kepada alasan hukum kepayahan atau ketidakmampuan (mutiq).

Begitu pula orang yang hamil dan menyusui tidak bisa disamakan dengan orang yang sakit, karena hamil dan menyusui bukanlah penyakit. Adapun ketika dia lemah, kepayahan kekhawatiran terhadap diri atau anak, baik dalam kandungan atau bayinya, maka lebih dekat dan tepat dikategorikan sebagai orang yang payah atau tidak mampu saum sehingga wajib fidyah bukan qadha. Jika kekhawatiran kelemahan pada anak kecil dalam kandungan atau bayi saja, maka mengikuti ibunya. Begitu pula jika kehawatiran berada pada sisi anak maupun ibu, maka yang dihitung ibunya saja, karena bayi/kandungan belum termasuk kategori mukallaf atau subjek hukum wajib saum. Karena itu wajib fidyah, bukan qadha. Baik qadha maupun fidyah pengganti saum, karena itu pilihannya hanya dua, jika tidak qadha, maka fidyah tergantung illat hukumnya.

Dengan demikian kesimpulannya hamil dan menyusui itu ada beberapa kondisi :

Pertama, wanita hamil atau menyusui mampu saum, tanpa ada kekhawatiran terhadap kondisi kandungan maupun anak, maka tetap berlaku hukum asal atau azimah yaitu wajib puasa. Jika memilih berbuka karena safar atau sakit, maka wajib qadha.

Kedua, wanita menyusui dalam keadaan haid, maka haram puasa, wajib qadha.

Ketiga, wanita menyusui dalam keadaan nifas, maka haram saum, dan wajib qadha.

Keempat, hamil atau menyusui mampu saum, namun ada kelemahan atau kekhawatiran akibat yang kurang baik bagi ibu dan bayi/kandungan, maka dianjurkan berbuka, dan jika berbuka atau tidak saum, maka wajib fidyah

Kelima, wanita hamil atau menyusui mampu saum, namun jika saum terancam nyawa ibu atau bayi/kandungannya menurut pertimbangan medis, maka haram saum dan wajib fidyah

Ginanjar Nugraha

Ma’had Imam al-Bukhari Bandung

3/05/2020