Beranda Fikih Hukum Berpuasa Pada Hari Tasyriq

Hukum Berpuasa Pada Hari Tasyriq

910
0

Hukum saum senin-kamis bertepatan dengan pada hari Tasyriq ?

Saum merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah ada yang bentuknya wajib adapula yang sunat. Waktu pelaksanaanpun ada yang mutlaq waktunya misalnya saum qadha, adapula waktu tertentu misalnya saum senin-kamis dan dan lainnya. Namun ada dalil yang menerangkan hari-hari dimana terlarang saum diantaranya ketika dua hari raya dan hari tasyriq

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ

Dari Abu Said al-Khudri Ra berkata : Nabi Saw melarang saum pada hari raya idul fitri dan hariraya idul adha (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/42)

عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

Dari Nubaisyah al-Hudzalliy berkata : Bersabda Rasulullah Saw “ Hari-Hari Tasyriq adalah hari-hari makan dan minum  serta Dzikir kepada Allah (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 3/153)

Hari tasyriq adalah hari makan, minum dan dzikir kepada Allah, yaitu hari pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah atau tiga hari setelah hari raya Idul Adha. Mafhum mukhalafah dari makan minum adalah larangan berpuasa pada hari-hari tersebut. Sehingga hukumnya haram berpuasa pada hari tersebut. Bagaimana jika bertepatan dengan hari senin-kamis atau ayyam al-baid ? hukumnya tetap terlarang, karena larangan saum berlaku umum pada saum apapun kecuali ada dalil khusus yang mengecualikannya. Adapun bagi yang sedang beribadah haji (tamattu’ dan qiran) kemudian tidak mendapatkan hadyu maka dibolehkan saum pada hari tasyriq dengan dalilnya sebagai berikut

{ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [البقرة: 196]

 Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya (al-Baqarah : 196)

عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَا لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

Dari Aisyah dan juga dari Ibnu Umar, keduanya berkata : Tidak dibolehkan berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi yang tidak mendapatkan hadyu (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/43)

Kesimpulannya, saum wajib maupun sunnah pada hari raya idul fitri, idul Adha, serta hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah) hukumnya haram, kecuali bagi yang tidak mendapatkan hadyu ketika ibadah haji, boleh melaksakannya pada hari tasyriq.

Ginanjar Nugraha

Bandung, 2018