Beranda Shalat Hukum Iqamat Pada Salat Fardhu

Hukum Iqamat Pada Salat Fardhu

836
0

Mohon penjelasan tentang hukum iqomat dalam salat fardhu?

Jawab :

Iqamah adalah pemberitahuan untuk bersiap memulai pelaksanaan salat. Iqamah memiliki kesamaan dengan adzan dari segi fungsi pemberitahuan, bedanya jika adzan adalah pemberitahuan kepada yang gaib (tidak hadir) akan datangnya waktu pelaksanaan salat, sedangkan iqamah pemberitahuan kepada yang hadir untuk bersiap memulai pelaksanaan salat. Oleh karena itu adzan dan iqamah disebut dengan istilah adzanaani atau dua adzan.
Iqamah disyari’atkan sebagaimana adzan ketika hendak melaksanakan salat. Dalam sebuah hadis diterangkan,

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَصَاحِبٌ لِي، فَلَمَّا أَرَدْنَا الْإِقْفَالَ مِنْ عِنْدِهِ، قَالَ لَنَا: «إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ، فَأَذِّنَا، ثُمَّ أَقِيمَا، وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا» صحيح مسلم (1/ 466)

“Dari Malik bin Al-Huwairits, ia berkata, Aku dan temanku pernah mendatangi Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam. Ketika kami hendak melanjutkan perjalanan, beliau bersabda, “Apabila datang waktu salat, hendaklah kalian adzan kemudian hendaklah iqamah. Dan hendaklah mengangkat imam yang paling tua dari kalian.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/422)

Pada hadis di atas, syariat iqamah menggunakan lafaz perintah أَقِيمَا (hendaklah kalian iqamah) dalam kaidah ushul dikatakan,

الأصل في الأمر للوجوب الا ما دل الدليل على خلافه

Asal pada perintah itu menunjukkan wajib kecuali ada dalil yang memalingkannya.

Terkait perintah iqamah ini ada dalil lain yang memalingkannya dari hukum wajib sehingga jatuh menjadi sunat muakkad, yaitu sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam kepada orang yang salah salatnya sehingga beliau memerintahkannya untuk mengulangi salatnya tersebut. Pada akhirnya orang tersebut minta diajarkan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bagaimana salat yang benar. Beliau bersabda,

«إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ فَكَبِّرْ… صحيح البخاري (8/ 56)

“Apabila kamu hendak mendirikan salat, sempurnakanlah wudu kemudian menghadap kiblat lalu bertakbirlah…” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 8/56)

Pada hadis ini Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkannya untuk iqamah, padahal syarat-syarat lainnya disebutkan yaitu menyempurnakan wudhu dan menghadap kiblat. Ini menunjukkan bahwa iqamah hukumnya tidak wajib dan sah salat tanpa iqamah. Adapun kenapa dikatakan sunat muakkad (sunnat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan), karena Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam selalu memerintahkan iqamah setiap kali akan melaksanakan salat, baik ketika muqim maupun safar.

Oleh : Ustadz Muslim Nurdin