Beranda Fikih Hukum Jual Beli di Masjid

Hukum Jual Beli di Masjid

1011
0

Mohon penjelasan terkait larangan berjualan di masjid ?
Jawab :

Masjid secara bahasa artinya tempat sujud. Masjid secara istilah adalah bangunan atau tempat kaum muslimin yang diwakafkan kepada Allah khusus beribadah diantaranya salat, berdzikir, membaca al-Quran dan ibadah lainnya. Batas masjid yaitu pintu-pintu atau tiang yang memisahkan antara masjid dan luar masjid, pada batas tersebutlah seorang muslim disunahkan untuk berdoa ketika masuk atau keluar masjid, serta disunahkan ketika masuk ke dalam masjid salat tahiyat al-masjid. Artinya ketika berada dalam teras masjid, maka tidak disyariatkan salat tahiyat al-masjid. Berikut adalah dua hadis yang menunjukan bahwa masjid mempunyai batas yang jelas antara masjid dan luar masjid. Pertama hadis dari sahabat Abi Usaid

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ. .
” Apabila salah seorang diantara kamu masuk masjid maka hendaklah ia berdo’a : (Ya Allah! Bukakan bagiku pintu-pintu rahmat-Mu), dan apabila keluar berdo’alah : (Ya Allah sesungguhnya aku mohon karuniamu)”. (HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/494)

Kedua hadis dari sahabat Abu Qotadah
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
Dari Abi Qotadah bin Rib’iy Al Anshary, ia berkata : Nabi shallalahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Apabila salah seorang di antara kamu masuk mesjid, janganlah duduk sebelum ia shalat dua raka’at. (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 2/57)

Salah satu larangan di masjid adalah jual beli atau transaksi ekonomi, dalilnya adalah sebagai berikut :

Dalil pertama, hadis dari sahabat Abu Hurairah
إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ، فَقُولُوا: لاَ أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ، –
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallalahu ’alaihi wasallam bersabda, “Jika kamu melihat orang menjual atau membeli di mesjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu.’” (HR. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, 2/602)
Dalil kedua dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash

نَهَى عَنْ الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ فِي الْمَسْجِدِ وَأَنْ تُنْشَدَ فِيهِ ضَالَّةٌ وَأَنْ يُنْشَدَ فِيهِ شِعْرٌ وَنَهَى عَنْ التَّحَلُّقِ قَبْلَ الصَّلَاةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ.
Rasulullah shallalahu ’alaihi wasallam melarang jual beli di dalam masjid, melarang mengumumkan untuk mencari barang yang hilang, melarang untuk menyuarakan sya’ir dan dilarang duduk berlingkar (tahalluq) sebelum shalat hari jum’at. (HR. Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, 1/283)
Dalam kedua hadis diatas larangan berjual beli atau tijaroh di masjid. Definisi tijaroh adalah

ه مَا يُعَدُّ لِلْبَيْعِ وَالسَّرَاءِ بِقَصْدِ الرِّبْحِ
“Sesuatu yang dipersiapkan untuk jual-beli dengan maksud mencari laba” (Fiqhuz Zakat, 1/314)

Artinya jual beli tersebut maksudnya adalah jual beli yang bertujuan untuk kepentingan duniawi. Adapun jual beli yang yang bertujuan untuk fi sabilillah maka hal tersebut dibolehkan dalilnya pertama, hadis

لاَ أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ
Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada jual belimu
Secara manthuq jual beli yang berorientasi kepada keuntungan atau kepentingan duniawi, namun secara mafhum mukhalafah, tidak dianjurkan untuk berdoa kepada orang yang melaksanakan transaksi jual beli yang selain duniawi atau fi sabilillah. Kedua, sabda Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam kepada petugas yang hendak mengambil zakat dari Khalid bin Al-Walid,

…أَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا قَدِ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“…Adapun Khalid, maka sesungguhnya kamu hendak menganiayanya (dengan mengambil zakat), sungguh ia telah wakafkan baju-baju besi dan alat-alat perangnya di jalan Allah…” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 2/122)
Dalam hadis tersebut harta wakaf tidak termasuk dari harta yang wajib dizakati.

Kebolehan ini tentu dibatasai selama tidak mengganggu orang yang salat, zikir dan membaca al-Quran yang merupakan fungsi utama masjid berdasarkan sabda Rasulullah

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Tiada lain masjid ini untuk dzikir kepada Allah azza wa jalla, untuk salat dan membaca al-Quran. (HR. Muslim, Sahih Muslim, 1/236)
Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada petugas yang hendak mengambil zakat dari Khalid bin Al-Walid,

…أَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا قَدِ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“…Adapun Khalid, maka sesungguhnya kamu hendak menganiayanya (dengan mengambil zakat), sungguh ia telah wakafkan baju-baju besi dan alat-alat perangnya di jalan Allah…” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 2/122)

Dengan demikian kesimpulannya, pertama jual beli di dalam masjid yang bersifat mendapatkan keuntungan atau duniawi, maka hukumnya haram. Adapun transaksi ekonomi yang sifatnya untuk fi sabilillah, maka di bolehkan selama tidak mengganggu fungsi utama masjid yaitu sebagai tempat salat, zikir dan membaca al-Quran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here