Beranda Fikih Hukum Jumat Berkah, bid’ah kah ?

Hukum Jumat Berkah, bid’ah kah ?

106
0

Jumat berkah menjadi isilah sosiologis khas Indonesia, maksudnya sedekah makanan kepada masyarakat yang biasanya dibagikan setelah ba’da jumat oleh ta’mir masjid atau Lembaga khusus. Secara umum sedekah merupakan perbuatan yang diperintahkan oleh syariat tanpa ada batasan waktu yang khusus, atau dalam bahasa lain waktunya muwassa atau luas tidak dibatasi waktu tertentu. Diantara bentuk yang dianjurkan dalam hadis adalah sedekah makanan.

Islam sangat menganjurkan sadaqah kepada umatnya tanpa dibatasi waktu pelaksanaannya. Diantara ayat dan hadis yang menganjurkan keutamaan sedekah adalah sebagai berikut :

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦١﴾

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah[2]: 261)

Pada ayat diatas Allah menjamin akan melipatgandakan pahala bagi orang yang berinfaq atau bersedekah tanpa ada batasan waktu tertentu.

Hari Jumat merupakan hari yang paling utama dibandingkan dengan hari-hari yang lain, sebagaimana dinyatakan dalam Riwayat Abu Hurairah

Pertama hari diciptakan manusia pertama yaitu adam, dimasukan dan dikeluarkan dari surga, serta kiamat terjadi pada hari jumat

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sebaik-baik hari adalah hari Jumat, karena pada hari itulah Adam diciptakan. Pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan daripadanya. Dan hari kiamat tidak terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR. Muslim: 1411)

Kedua, ada waktu didalamnya saat ijabah doa

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Bahwa Rasulullah ﷺ membicarakan perihal hari Jumat. Beliau mengatakan: Pada hari Jumat itu ada satu saat, tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan shalat lalu dia berdoa tepat pada saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkan doanya tersebut. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya saat tersebut. (HR. al-Bukhari: 883)

أَنَّهُ قَالَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لَا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلَّا أَتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jumat itu dua belas -maksudnya jam- dan tidak di dapati seorang muslim pun yang meminta kepada Allah kecuali Allah ‘Azza Wa Jalla akan mengabulkannya, maka bersegeralah untuk mendapatkannya pada waktu-waktu akhir setelah Ashar.” (HR. Abu Daud: 884)

Salah satu bentuk dari sedekah adalah dengan cara memberi makan, berikut keterangannya dari sahabat Abdullah bin Amr

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi ﷺ; Islam manakah yang paling baik? Nabi ﷺ menjawab: Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal. (HR. al-Bukhari: 11)

Memang ada hadis mengetai keutamaan bersedekah secara khusus pada hari Jumat sebagai berikut :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّهُ كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَصُومَ الْأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ ، وَيُخْبِرُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَأْمُرُ بِصَوْمِهِنَّ ، وَأَنْ يَتَصَدَّقَ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ ؛ فَإِنَّ لِلهِ الْفَضْلَ الْكَثِيرَ

Dari Ibn Abbas sesungguhnya Rasulullah Saw menyukai untuk saum pada hari rabu, kamis dan Jumat Dan diapun mengabarkan bahwa Rasululah Saw menyuruh saum pada hari-hari tersebut serta bershadaqah baik sedikit maupun banyak, karena bagi Allah keutamaan yang sangat banyak (HR Baihaqi No. 8540)

Dalam sanadnya ada Rawi yang bernama Abdullah bin Waqid, imam Bukhari menilai “munkarul hadis” mereka meninggalkannya (Tahdzib al-Kamala, 16/259), Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in, “laisa bi Syaiin” (Tahdzib al-Kamal, 16/259).

Perbedaan antara Bid’ah dan Maslahah Mursalah

Bid’ah menurut Imam Syatibi adalah adalah Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Adapun maslahah mursalah adalah sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada perintah maupun larangan secara khusus, namun terdapat kemaslahatan didalamnya.

persamaan antara bid’ah dan maslahah mursalah adalah pertama, sama-sama merupakan hal yang baru belum pernah terjadi zaman Rasulullah Saw. Kedua, baik bid’ah maupun maslahah mursalah tidak ada dalil khusus yang memerintahkan. Namun karekteristik yang membedakan antara bid’ah dan maslahah mursalah adalah, bid’ah pertama, perkara baru yang sifatnya taabudi secara khusus menyerupai syariat, yang bertujuan sebagai ibadah kepada Allah dengan perkara tersebut. Adapun masalahah mursalah perkara baru namun bukan bermaksud untuk beribadah pada dirinya, tapi hanya sebagai wasail yang sifatnya ta’aquli berdasarkan kemaslahatan.

Jika diterapkan dalam kasus Jumat berkah, maka perkara tersebut merupakan sesuatu yang baru dalam agama, selanjutnya apakah kegiatan tersebut yang dilaksanakan ba’da jumat merupakan sebuah kekhususan dalam beribadah atau hanya wasilah yang sifatnya rasional, tentu tergantung dari motifnya, jika pemilihan waktu khusus ba’da jumat hanya sekedar pertimbangan sifatnya taaquli ketika berkumpulnya masyarakat setelah jumaatan, maka lebih merupakan sebagai maslahah mursalah bukan sebagai bid’ah. Adapun jika motifnya bahawa setelah jumatan itu diperintahkan secara khusus secara syariat, bahkan merupakan bagian dari ibadah Jumat misalnya, maka jika demikian perbuatan tersebut terkategori sebagai bid’ah yang dilarang oleh agama hukumnya haram.

Dengan demikian kesimpulannya, pertama Jumat berkah adalah sedekah berupa makanan yang dilaksanakan setelah jumat kepada masyarakat. Kedua, jika motif pelaksanaan setelah jumat sebagai bentuk wasilah dengan pertimbangan rasional dan kemaslahatan, maka hal tersebut dapat dibenarkan karena termasuk dalam kategori maslahah mursalah. Adapun jika motifnya beranggapan pemilihan bada jumat sebagai syariat khusus yang dianggap lebih utama dari pada waktu lain, atau beranggapan sebagai bagian dari rangkaian ibadah jumat, maka hal tersebut dipandang sebagai bid’ah yang dilarang dalam agama dan hukumnya haram. Namun jika dilihat dari fenomena yang ada, latar belakang jumat berkah didasari oleh kepedulian sosial kemudian dipilih waktu bada jumat karena berkumpulnya kaum muslimin, sehingga lebih efektif dan efisien. Karena itu lebih sebagai maslahat mursalah, bukan sebagai bid’ah. Reportase kegiatan jumat berkah yang diselenggarakan masjid di Jakarta, Jogyakarta dan Tasikmalaya diatas kiranya dapat menjadi contoh untuk dikembangkan pada masyarakat muslim, sehingga kehadiran masjid menjadi lebih dirasakan manfaatnya oleh umat.

Ginanjar Nugraha