Beranda Fikih Hukum Kontes Burung

Hukum Kontes Burung

310
0

Kontes burung pada asalnya diperbolehkan selama tidak ada unsur perjudian di dalamnya. Setiap permainan disebut judi apabila di dalamnya disyaratkan sesuatu berupa materi yang diambil dari pihak yang kalah untuk pihak yang menang.

Kontes burung yang termasuk kategori maisir adalah apabila ada unsur taruhan di dalamnya yang tidak luput dari untung atau rugi. Misalnya setiap peserta dipungut biaya dan mendapatkan hadiah yang diambil dari biaya peserta tersebut.

hadiah yang didapat bisa berupa sertifikat dan sejumlah uang, ataupun uang saja, apabila hadiahnya itu berasal dari uang pendaftaran seluruh peserta maka ia termasuk ke dalam kategori judi. dikarenakan setiap peserta hanya memiliki dua kemungkinan, yaitu mendapatkan keuntungan yang lebih besar daripada uang pendaftaran yang diberikannya jika dirinya menang atau ia akan mendapatkan kerugian dengan kehilangan uang pendaftaran yang diberikannya jika dirinya kalah. Perbuatan seperti ini pernah marak dimasa jahiliyah dan diharamkan Allah di dalam Al Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٩٠)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan.” (QS. Al Maidah : 90)

Suatu permainan dapat dikategorikan judi, jika memenuhi tiga unsur:

  • Taruhan harta atau materi yang berasal dari kedua pihak yang berjudi.
  • Permainan yang digunakan untuk menentukan pemenang dan yang kalah.
  • Pihak yang menang mengambil harta sebagian atau seluruhnya yang menjadi taruhan, sedangkan pihak yang kalah kehilangan hartanya.

Wallahu a’lam bi al-shawwab

Ustadz Ahmad Wandi