Beranda Jual Beli Hukum Kredit KPR

Hukum Kredit KPR

998
0
  1. Bagaimana hukum mengambil program cicilan KPR bank konvensional ? Ihsan Pameungpeuk

Jawab :

Dalam masalah muamalah, maka asalnya adalah mubah, kecuali ada dalil yang melarangnya. Salah satu unsur yang diharamkan dalam muamalah adalah riba

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda Allah melaknat pemakan harta riba, pemberi harta riba, penulis transaksi riba, dua saksinya dan beliau bersabda “mereka itu sama” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 5/50)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Ali Imran : 130)

سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا»

Setiap pinjaman yang menarik manfaat, maka itu adalah riba (Musnad al-Harits, 1/500)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman (Al Baqarah : 278)

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (al-Baqarah : 279)

Dalam makalah guru kami Ust Shidiq Amien allahu yarham , beliau beristinbat sebagai berikut

  1. Bunga yang berada di Bank Konvensional sekarang termasuk riba karena Kalimat “adh’afatan” dalam QS Ali Imran : 130 bukanlah taqyid atau syarat, melainkan hal atau bayan, yang menarangkan bahwa riba itu mempunyai karakteristik seperti itu.
    1. Sesuatu yang banyaknya haram maka yang sedikitpun haram pula, sesuai dengan qaidah “maa harrama katsiruhu fa qaliluhu haramun”.
    1. Secara semantis riba berarti “ziyadah atau tambahan”, bunga yang dipungut atau diberikan termasuk “ziyadah” dari “Ruusu al amwal” (harta pokok) yang disyaratkan atau dijanjikan antara peminjam dan yang meminjamkan.
    1. Memperhatikan kalimat “Wa dzaruu maa baqiya min ar riba”, serta kalimat “Wain tubtum falakum ruusu amwalikum” yang artinya “dan jika kamu bertaubat maka bagimu harta pokok kamu, maka jelaslah bahwa selebih dari harta pokok atau modal yang dipinjamkan adalah riba.
    1. Kelebihan yang diberikan atau diterima yang bersifat ungkapan terima kasih, dari si peminjam kepada yang meminjam, dan bukan atas dasar syarat yang dibuat oleh kedua belah pihak tapi atas dasar kerelaan peminjam saja, pernah dilakukan oleh Nabi saw.

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa bank kovensional sekarang jika masih menggunakan pinjaman dengan system bunga, maka hukumnya haram. Begitu pula dengan hokum mengkredit rumah melalui Bank yang bersistem ribawi. Sudah semestinya bagi seorang muslim menjauhi system ribawi tersebut dan mencari solusi pinjaman selain ke Bank Konvensional. Namun, pada realitasnya pada sebagian orang terkendala dengan tidak adanya orang/lembaga yang dapat membantu, disisi yang lain, terdesak oleh kebutuhan tersebut, walaupun tidak sampai pada tingkat darurat. Namun kebutuhan tersebut terkadang menempati tempat darurat sesuai dengan kaidah fiqhiyah dibahwa ini

الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ

Kesulitan menarik kemudahan

الضَّرُورَةُ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ

Darurat itu membolehkan hal-hal terlarang

اَلْحَاجَةُ تنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضُرُورَةِ

Keperluan itu menduduki kedudukan darurat

لاَ حَرَامَ مَعَ الضَّرُورَةِ وَلاَ كَرَاهَةَ مَعَ الْحَاجَةِ

Tidak ada haram bersama darurat dan tidak ada makruh bersama kebutuhan.

مَا أُبِيحَ لِلضَّرُورَةِ تُقَدَّرُ بِقَدَرِ تَعَذًّرِهَا

Apa yang dibolehkan untuk kemadaratan diukur dengan ukuran uzurnya.

Kesimpulannya, pertama, meminjam hukumnya boleh. Kedua, setiap kelebihan pembayaran yang disyaratkan terkait dengan pinjaman adalah riba, hukumnya haram. Ketiga, pinjaman dari bank konvensional yang mensyaratkan kelebihan pembayaran, termasuk riba dan hukumnya haram, kecuali dalam kondisi terpaksa, maka termasuk dimaafkan (ma’fu) dalam hukum syariat.