Beranda Shalat Hukum Membaca al-Fatihah dalam Salat Ied

Hukum Membaca al-Fatihah dalam Salat Ied

1584
0
"Membaca atau menyimak al-Fatihah adalah rukun rakaat salat Id. Masbuk yang ketinggalan sebagian atau seluruh al-Fatihah, maka harus menyempurnakan rakaat yang tertinggal"

“Membaca atau menyimak al-Fatihah adalah rukun rakaat salat Id. Masbuk yang ketinggalan sebagian atau seluruh al-Fatihah, maka harus menyempurnakan rakaat yang tertinggal”

Salat Ied merupakan salat sunat muakkad yang dilaksanakan pagi hari pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun dalil yang terkait dengan pertanyaan adalah sebagai berikut :

قَالَ عُمَرُ : صَلاَةُ الْمُسَافِرِ رَكْعَتَانِ ، وَصَلاَةُ الأَضْحَى رَكْعَتَانِ ، وَصَلاَةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ ، وَصَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ ، تَمَامٌ وَلَيْسَ بِقَصَرٍ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Umar Berkata : “Salat musafir dua rakaat, salat Duha dua rakaat, salat Idul Fitri dua rakaat, salat Jumat dua rakaat secara tam bukan qasar berdasarkan sabda Rasulullah Saw (H.R. an-Nasa’i, Sunan al-Kubra, 1/271)

Hadis diatas menunjukan bahwa salat Idul Fitri dan Idul Adha itu dilaksanakan dua rakaat, sebagaimana salat qashar dan salat Jumat.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ».

Dari Ubadah bin Shamit ia menyampaikan dengannya kepada Nabi Saw : “ Tidak ada salat bagi yang tidak membaca al-Fatihah (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/8)

Hadis diatas menunjukan bahwa al-Fatihah adalah rukun rakaat, sehingga jika ketinggalan atau tidak membaca al-Fatihah, maka tidak terhitung satu rakaat.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ»، قَالَ: «وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ، فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ».

Dari Nu’man bin Basyir berkata Rasulullah Saw biasa dalam salat dua Id dan Jumat membaca surat al-A’la dan surat al-Ghasyiah. Apabila bertepatan antara Ied dan Jumat dalam hari yang sama, maka beliau membaca keduanya (al-A’la dan al-Ghasyiah) dalam kedua salat tersebut. (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/598)

Hadis diatas menunjukan bahwa Rasulullah Saw membaca surat al-A’la pada rakaat pertama, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat al-Ghasyiah. Hadis tersebut walaupun disebutkan hanya membaca kedua surat tersebut, bukan berarti Rasulullah Saw tidak membaca al-Fatihah. berdasarkan hadis, bahwa rukun rakaat adalah membaca atau menyimak secara lengkap al-Fatihah, maka dapat dipastikan bahwa Rasulullah Saw membaca al-Fatihah tersebut, kendatipun tidak disebutkan.

Adapun hanya penyebutan surat al-A’la dan al-Ghasyiah, sebagai penekanan bahwa Rasulullah membaca kedua surat tersebut dalam salat Idain dan Jumat, tidak dengan surat yang lain, sejauh pengetahuan sahabat tersebut. Karena itu menjadi dalil keutamaan membaca surat tersebut dibandingkan surat yang lain, bukan sebagai kekhususan.

Karena itu jelaslah, bahwa al-Fatihah merupakan rukun rakaat dari salat Ied, sehingga ketika tidak dibaca, maka tidak terhitung satu rakaat. Bagi yang tidak membaca al-Fatihah dalam rakaat tersebut wajib diulangi rakaatnya sesuai dengan rakaat yang luput, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw dari sahabat Abu Hurairah

فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Maka apa yang kamu dapatkan maka salatlah, apa yang luput darimu maka sempurnakanlah” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/100)

Kesimpulan, pertama membaca atau menyimak al-Fatihah adalah rukun rakaat salat Id. Kedua, bagi masbuk yang ketinggalan sebagian atau seluruh al-Fatihah, maka harus menyempurnakan rakaat yang tertinggal.