Beranda Fikih Hukum Membunuh Karena Membela Diri

Hukum Membunuh Karena Membela Diri

6254
0

Bagaimana hukum membunuh karena terpaksa atau membela diri ? seperti dalam kasus di saudi arabia (hamba Allah, telegram)
Jawab :
Islam merupakan agama yang sempurna. Diantara tujuan dari adanya syariat adalah kemaslahatan untuk manusia yang dirumuskan oleh para ulama yaitu menjaga agama, menjaga diri, menjaga harta, menjaga turunan dan menjaga akal. Perbuatan membunuh merupakan pelanggaran terhadap penjagaan jiwa, karena itu tindakan tersebut adalah perbuatan keji dan dosa besar. Berikut adalah dalil-dalil larangan membunuh jiwa. Pertama, larangan membunuh jiwa kecuali dengan hak
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (al-Isrâ : 33).
Kedua, hukuman membunuh mukmin secara sengaja adalah neraka Jahannam, kemurkaan dan laknat Allah serta azab-Nya yang sangat.
وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا
Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allâh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya. (an-Nisâ` : 93)
Ketiga, membunuh jiwa seolah membunuh seluruh manusia
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (Al-Maidah: 32)
para ulama membagi pembunuhan ketpada tiga, pembunuhan sengaja yaitu, suatu pembunuhan yang disengaja, dibarengi dengan rasa permusuhan, dengan menggunakan alat yang biasanya dapat menghilangkan nyawa, baik secara langsung maupun tidak, seperti menggunakan senjata, kayu atau batu besar, atau melukai seseorang yang berakibat pada kematian. Kedua, pembunuhan semi sengaja, yaitu suatu pembunuhan yang disengaja, dibarengi dengan rasa permusuhan, tetapi dengan menggunakan alat yang biasanya tidak mematikan, seperti memukul atau melempar seseorang dengan batu kecil, atau dengan tongkat atau kayu kecil. Ketiga, pembunuhan tersalah, yaitu suatu pembunuhan yang terjadi bukan dengan disengaja, seperti seseorang yang terjatuh dari tempat tidur dan menimpa orang yang tidur di lantai sehingga ia mati, atau seseorang melempar buah di atas pohon, ternyata batu lemparan itu meleset dan mengenai seseorang yang mengakibatkannya tewas.
Kategori untuk pembunuhan maka hukumannya adalah qishas yaitu pelaku kejahatan dibalas seperti perbuatannya, apabila membunuh maka dibalas dengan dibunuh, jika dimaafkan oleh keluarga korban pembunuhan, maka diganti dengan diyat yang berat. Kedua untuk pembunuhan semi atau mirip disengaja, maka tidak berlaku qishas, namun wajib membayar diyat kepada korban dan melaksanakan kifarat. Adapun bagi pembunuhan tersalah, maka tidak ada qishas, namun wajib membayar diyat yang lebih ringan daripada dua kategori pembunuhan sebelumnya kepada keluarga korban.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنثَىٰ بِالْأُنثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishâsh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih dan dalam qishâsh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (al-Baqarah : 178-179)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa: 92)
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya (An-Nisa: 93)
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: اقْتَتَلَتِ امْرَأَتَانِ مِنْ هُذَيْلٍ، فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى بِحَجَرٍ فَقَتَلَتْهَا وَمَا فِي بَطْنِهَا، فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ جَنِينِهَا غُرَّةٌ، عَبْدٌ أَوْ وَلِيدَةٌ، وَقَضَى أَنَّ دِيَةَ المَرْأَةِ عَلَى عَاقِلَتِهَا
Sesungguhnya Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, “Dua orang wanita dari suku Hudzail berusaha saling membunuh, lalu salah seorang dari mereka melempar batu kepada yang satunya, lalu membunuhnya dan juga janin yang ada di perutnya. Lalu mereka memperkarakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau memutuskan kewajiban membayar diyat janinnya ghurrah budak laki-laki atau wanita dan menetapkan diyat korban wanita tersebut atas kerabat wanita pembunuhnya. (HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, 9/12)
Orang yang terancam dalam bahaya jiwa, harta atau kehormatannya, maka berhak untuk melakukan pembelaan diri. Pembelaan diri terhadap tindakan kejahatan tersebut sesuai dengan kadar serta situasi dan kondisi. Ada yang cukup dengan cara peringatan, adapula membutuhkan tindakan pemukulan, adapula cukup dengan tindakan pelumpuhan, dan tindakan terakhir karena tidak ada jalan lain untuk mempertahankan jiwa, harta atau kehormatan. Tahapan tindakan tadi mesti dilakukan, seandainya cukup dengan ucapan peringatan, maka haram melakukan tindakan pemukulan dan seterusnya. Minta bantuan kepada yang lain atau melarikan diri jika mampu dan memungkan, maka tidak diperkenankan untuk melukai atau sampai membunuh. Adapun jika membunuh dengan tujuan membela jiwa, harta atau kehormatan karena terpaksa dan tidak ada jalan lain melindungi kecuali dengan membunuhnya, misal ketika menodongkan pistol atau sudah benar-benar mengancam, maka diperbolehkan dan tidak ada qishas serta diyat bagi pelaku pembunuhan tersebut. Dengan demikian tidak dibenarkan melakukan tindakan yang lebih berat ketika yang lebih ringan dapat tercapai (alfiqh al-Islami wa Adillatuh, 6/597-598) . Adapun yang dalilnya. Pertama ayat al-Quran tentang pembelaan diri
فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ عَلَيۡكُمۡ فَٱعۡتَدُواْ عَلَيۡهِ بِمِثۡلِ مَا ٱعۡتَدَىٰ عَلَيۡكُمۡۚ
.Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. (al-Baqarah : 194)
Kedua, bebasnya pembela diri dari segala hukuman akibat pembunuhan yaitu qishas dan diyat, jika terpaksa dan tidak ada jalan lain
وَلَمَنِ انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِم مِّن سَبِيلٍ
“dan sungguh bagi orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, maka tidak ada suatu dosa pun di atas mereka” (as-Syura : 41)
Ketiga, hadis terkait pembelaan harta dari perampasan dari sahabat Abu Hurairah dan Said bin Zaid
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي؟ قَالَ: «فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي؟ قَالَ: «قَاتِلْهُ» قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي؟ قَالَ: «فَأَنْتَ شَهِيدٌ»، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ؟ قَالَ: «هُوَ فِي النَّارِ»
Seseorang yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan kau beri padanya.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?” Beliau bersabda, “Bunuhlah dia.” ia balik bertanya “Bagaimana jika ia malah membunuhku?”. Beliau menjawab, “Engkau dicatat syahid”. ia bertanya kembali, “Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”. Beliau menjawab, “Ia yang di neraka”. (HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/124).
«مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ، أَوْ دُونَ دَمِهِ، أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ»
Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud, Sunan Abi Daud, 4/246)
Pembelaan diri yang mengakibatkan kematian si penyerang, hukum Islam membolehkannya dengan catatan bahwa tindakan tersebut memang perlu dilakukan dan tidak ada cara lain selain melakukannya. Selain itu, dalam kedua hukum tersebut juga diberlakukan syarat-ayarat yang harus terpenuhi agar pembelaan yang dilakukan termasuk pada alasan penghapus pidana. Maka dari itu, baik hukum Islam membolehkan atau dapat membebaskan seseorang yang melakukan tindakan pembunuhan karena membela diri apabila terpenuhi ketentuan yang disebutkan di atas. Khusus dalam hukum Islam hanya membolehkan tidakan membela diri yang mengakibatkan kematian si penyerang pada tindakan membela kehormatan kesusilaan dan disyaratkan harus ada bukti dan saksi atas tindakannya. Pembuktian pembunuhan karena pembelaan diri di pengadilan berdasarkan bukti-bukti, pengakuan serta keterangan para saksi, menjadi penentu terhadap konsekuensi hukuman kepada si pelaku pembunuhan.
Pemerintah dalam hal ini wajib menjaga hak warga dan kehormatannya yang menjadi tenaga kerja di luar negeri khususnya tenaga kerja perempuan. karena faktanya banyak yang menjadi korban dan tidak terlindungi baik haknya sebagai warga negara maupun hak aasi manusia.

Kesimpulannya, pertama, membunuh nyawa hukumnya haram dan dosa besar. Kedua, pelaku pembunuhan wajib dikenai qishas dalam hokum Islam, jika dimaafkan oleh keluarga maka wajib membyar diyat. Ketiga, pembunuhan dilakukan dengan motif pembelaan diri karena terancam nyawa, harta atau kehormatan dan tidak ada acara lain untuk menhentikannya kecuali dengan tindakan yang dapat membunuh pelaku kejahatan tersebut, maka dimaafkan, tidak dikenai qishas dan diyat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here