Beranda Jual Beli Hukum Memelihara, Daging dan Jual Beli Anjing

Hukum Memelihara, Daging dan Jual Beli Anjing

1672
0

bagaimana hukum jual beli anjing penjaga atau pemburu ? jamaah lengkong

Ada beberapa hal pokok yang mesti diterangkan yang nantinya terkait hukum-hukum terkait anjing, yaitu hukum memelihara anjing, hukum memakan daging anjing, dan jual beli anjing

  1. Keterangan dalil hukum memelihara anjing

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْكِلَابِ

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh anjing (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 4/130)

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْحُدَيَّا وَالْغُرَابُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

lima binatang merusak boleh dibunuh ketika pada waktu ihram yaitu tikus, kalajengking, elang, gagak dan anjing buas (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 4/129)

«مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا، إِلَّا كَلْبَ زَرْعٍ، أَوْ غَنَمٍ، أَوْ صَيْدٍ، يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ» صحيح مسلم (3/ 1202)

Siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga tanaman, kambing (binatang ternak) dan berburu, maka akan dikurangi pahalanya setiap hari sebanyak satu qirath” (HR. Muslim, Shahih Muslim, 3/1202)

«لاَ تَدْخُلُ المَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ، وَلاَ صُورَةُ تَمَاثِيلَ»

“Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar-gambar (patung) berhala. (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 4/114)

Dari empat hadis diatas ada beberapa catatan, pertama Rasul sallalahu alaihi wa sallam memerintahkan membunuh anjing, namun perintah tersebut dimansukh dan hanya berlaku pada anjing buas saja sesuai dengan keterangan hadis kedua. Dalam hadis ketiga, Rasul melarang secara tegas untuk memelihara anjing secara sarih, kecuali anjing pemburu dan anjing penjaga. Ketiga, terdapat keterangan bahwa malaikat rahmat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan pahala akan berkurang satu qirat setiap hari bagi yang memelihara anjing, menunjukan larangan memelihara anjing. Secara illat hukum, anjing pemburu bermanfaat karena dapat membantu perburuan, bahkan hasil buruannya halal berdasarkan ayat

أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)

Jenis anjing kedua yang dibolehkan untuk dipelihara dan dimanfaat adalah jenis anjing penjaga, baik hewan ternak, tanaman atau keamanan jiwa manusia. Kebolehan pemeliharaan tersebut batasannya tentu selama tidak memeliharanya di dalam rumah, karena malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya ada anjing. Kesimpulannya memelihara anjing hukumnya haram kecuali anjing pemburu dan penjaga dengan syarat dipelihara diluar rumah.

  1. Keterangan dalil hukum memakan daging anjing

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (البقرة:173)

Sesunggguhnya Allah hanya mengharamkan bangkai, darah (yang mengalir), daging babi dan yang disembelih bukan karena Allah. Barangsiapa terpaksa, padahal tidak menginginkan dan tidak melebihi batas, maka tidak ada dosa atasnya. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah:173)

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِاْلأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ … -المائدة : 3-

Diharamkan atas kamu bangkai, darah (yang mengalir), daging babi, dan yang disembelih bukan karena Allah; dan yang (mati) tercekik, yang mati dipukul, yang mati karena jatuh, yang mati ditanduk, dan yang mati ditokak binatang buas, kecuali binatang itu sempat kamu sembelih (sebelum matinya), dan binatang yang disembelih di atas Nusub, dan juga diharamkan atas kamu mengundi nasib dengan anak panah. Yang demikian itu adalah kedurhakaan …( Al-Maidah : 3)

قُلْ لاَ أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الأنعام :145)

Katakanlah,”Aku tidak dapati makanan yang haram pada kitab yang telah diwahyukan kepadaku bagi orang yang ingin memakannya, melainkan bangkai, darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya ia itu kotor, atau yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa terpaksa padahal tidak menginginkannya dan tidak melebihi batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (Al-An’am : 145)

Pertama, ayat-ayat diatas secara susunan pengungkapan menggunakan adat hasr yang berfungsi untuk membatasi. Kedua, ungkapan tersebut diulang beberapa kali sehingga semakin menegaskan pembatasan tersebut. Ketiga, susunan ungkapan tersebut membawa pada kesimpulan bahwa makanan yang haram hanya empat saja, yaitu bangkai, darah, babi, dan sembelihan bukan karena Allah.

Adapun hadis-hadis yang menerangkan tentang keharaman binatang selain bangkai, darah, babi dan sembelihan bukan karena Allah diantaranya sebagai berikut :

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan setiap jenis burung yang mempunyai kuku untuk mencengkeram.” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 3/1534)

Hadis diatas jika difahami dalam arti asal larangan, maka menujukkan kepada haram. Namun jika fahami demikian, maka akan bertentangan dengan dalalah ayat al-Quran yang membatasi keharaman makanan hanya pada empat macam saja. Karena al-Quran secara wurud lebih kuat dan secara dalalah lebih jelas dengan membatasi keharaman, maka dalalah al-Quran didahulukan dengan memalingkan makna awal larangan haram dalam hadis tersebut menjadi makruh. Sehingga kesimpulannya, memakan hewan yang bertaring dan berkuku tajam hukumnya makruh. Karena anjing termasuk binatang yang bertaring dan berkuku tajam, maka memakan daging anjing hukumnya makruh.

  1. Keterangan dalil jual beli anjing

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الكَلْبِ، وَمَهْرِ البَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ»

sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, penghasilan pelacur dan upah perdukunan” (HR. Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 3/84)

«إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الخَمْرِ، وَالمَيْتَةِ وَالخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ»، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ المَيْتَةِ، فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدْهَنُ بِهَا الجُلُودُ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟ فَقَالَ: «لاَ، هُوَ حَرَامٌ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: «قَاتَلَ اللَّهُ اليَهُودَ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ، ثُمَّ بَاعُوهُ، فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ» صحيح البخاري (3/ 84)

Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi. Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka memakan hasil penjualannya.” (HR. Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 3/84)

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ»

Dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Sesungguhnya jika Allah Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka Allah mengharamkan upah (hasil jual belinya)” (HR. Ad Daruquthni, Sunan Ad-Daraquthni, 3/388)

Hadis pertama menunjukan larangan jual beli anjing secara sarih dan asal dalam larangan menunjukan kepada haram. Namun jika difahami demikian akan bertentangan dengan keterangan yang lain. Pertama, dalam hadis yang kedua dan ketiga menunjukan pembatasan bahwa illat dari pelarangan jual beli yang haram adalah karena barang atau komoditasnya secara zat adalah haram. Karena itu ketika Allah mengharamkan sesuatu, maka haram pula menghargakannya atau memperjualbelikannya. Kedua, dalam kajian mengenai hukum daging anjing, ditegaskan bahwa memakan daging anjing hukumnya makruh, bukan haram.

Metode jama’nya adalah dengan memahami makna larangan tersebut bukan dengan makna haram akan tetapi difahami atau dipalingkan menjadi makruh, mengikuti hukum asal dari memakan daging anjing yaitu makruh. Dalam kajian yang pertama ditegaskan bahwa ada anjing yang dapat dipelihara dan dimanfaatkan untuk berburu dan berjaga. Sehingga anjing tersebut dapat dihargakan dan diperjualbelikan karena ada sisi manfaat didalamnya.

Dengan demikian kesimpulannya, memperjualbelikan anjing hukumnya makruh, kecuali anjing pemburu dan penjaga, hukumnya mubah.