Beranda Akidah Hukum Menakwil Mimpi

Hukum Menakwil Mimpi

557
0

Hukum Menakwil Mimpi

Mimpi merupakan sesuatu yang alamiah dan melekat dalam kehidupan manusia. Mimpi pun bervariatif bentuknya, kadang sesuatu yang irrasional. Karena itu sebagian masyarakatpun tergerak penasaran untuk mengetahui rahasia mimpi dan takwilnya, baik dengan jalan bertanya pada “ahli takwil mimpi” atau merujuk pada adat kebiasaan paririmbon karuhun dan lainnya. Disisi yang lain, adapula para sebagian ‘ahli agama’ yang mengklaim dapat menakwil mimpi. Tujuan menakwil mimpi tersebut tiada lain adalah terkait dengan pengaruh mimpi sebagai teropong masa depan atau ramalan apa yang bakal terjadi di masa depan. Persoalan ini sangat penting untuk dibahas khususnya terkait hukum menakwil mimpi sebagai pedoman bagi masyarakat.

Karena itu Dewan Hisbah Persatuan Islam, menugaskan Drs. Uu Suhendar, M.M.Pd sebagai pemakah untuk menjawab hukum menakwil mimpi berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Pemakalah memulai pembahasan dengan definisi dan jenis-jenis mimpi. Mimpi adalah sebuah refleksi dari keinginan pikir bawah sadar manusia yang tidak dapat   terwujud di dunia nyata.  Mimpi dibagi tiga :

  1. Mimpi Refleksi.

Mimpi Refleksi adalah akibat keinginan kuat  yang  tidak tersampaikan secara baik waktu bangun.Sifat mimpi  bisa berbentuk busyro sesuatu yang menggembirakan, bisa tahzîn yang menyedihkan atau hanya ungkapan emosi.

  • Mimpi Simbolik

Mimpi Simbolik ini prosesnya sama dengan mimpi refleksi hanya bentuk mimpinya berbentuk simbol-simbol. Simbol-simbol mimpi banyak ditulis dalam kitab Paririmbon lengkap dengan takwilnya.

  • Mimpi Spiritual Non Simbolik

Mimpi jenis ini adalah mimpinya para Nabi berupa wahyu atau ilham kepada orang-orang soleh yang dipilih Allah Swt.

Adapun secara syar’i terkait dengan sikap seorang muslim terhadap mimpi Untuk menyikapi ketika seseorang bermimpi maka dijelaskan sebagai berikut :

  1. Apabila mimpi itu menggembirakan maka hendaklah memuji Allah dan boleh menceritakan mimpi tersebut kepada orang yang kita sukai.
  2. Apabila  isi mimpi buruk atau menyeramkan  maka:
    1. Meludahlah 3 kali ke sebalah kiri,
    1. Isti’adzah,
    1. Merubah posisi tidur atau pindah tempat tidur supaya mimpi tidak terulang
    1. jangan menceritakan mimpi tersebut kepada orantg lain yang dihawatirkan dita’wil dengan ta’wil yang keliru yang akan mensugesti pemimpinya.

   Adapun pembahasan pokok adalah Dalil-dalil yang terkait dengan menakwil mimpi adalah

 sebagai berikut                                                                                                                          

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh. (QS. Yusuf: 101).

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ فِي يَدِي سَرَقَةً مِنْ حَرِيرٍ لاَ أَهْوِي بِهَا إِلَى مَكَانٍ فِي الْجَنَّةِ إِلاَّ طَارَتْ بِي إِلَيْهِ فَقَصَصْتُهَا عَلَى حَفْصَةَ فَقَصَّتْهَا حَفْصَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَخَاكِ رَجُلٌ صَالِحٌ أَوْ قَالَ إِنَّ عَبْدَ اللهِ رَجُلٌ صَالِحٌ. –رواه البخاري-

Dari Ibnu Umar r.a, mengatakan; aku bermimpi dalam tidur, seolah-olah di tanganku ada sehelai kain sutera, tidaklah aku berkeinginan menuju suatu tempat dalam surga dengan membawanya melainkan kain itu menerbangkan aku. Maka kukisahkan mimpiku kepada Hafshah, dan Hafshah mengisahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau bersabda: “Saudaramu adalah laki-laki Shalih, ” atau beliau bersabda: “Sesungguhnya Abdullah laki-laki Shalih.” (Hr. Bukhari, Shahih Al-Bukhari 9/37)

Kedua dalil diatas menunjukan bahwa Nabi Yusuf AS dan Nabi Muhammad Saw melakukan takwil terhadap mimpi. Persoalannya apakah takwil mimpi itu terbatas pada para Nabi atau tidak. Abu Bakar Ra pernah meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk menakwil mimpi, kemudian Rasulullah mengizinkannya. Setelah menakwil Abu Bakar mengkonfirmasi kepada Rasulullah Saw

يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ أَصَبْتُ أَمْ أَخْطَأْتُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَبْتَ بَعْضًا وَأَخْطَأْتَ بَعْضًا

Wahai Rasulullah demi ayahku apakah aku benar atau salah (takwilnya) Rasul saw. menjawab: “Engkau benar sebagian dan salah sebagian!”

Dengan demikian setingkat Abu Bakarpun ternyata tidak diberi kemampuan untuk menakwil mimpi, apalagi muslim yang lain. Dengan demikian menakwil mimpi adalah khususiyah para Nabi dan termasuk perkara yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah swt.

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ 

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS . an-Naml : 65)

Begitu pula bagi yang berusaha menakwil mimpi, karena takwilnya termasuk hal yang ghaib, pelakunya jauh kepada syirik dengan cara thiyarah.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ –ثَلاَثًا- وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah saw, beliau bersabda: thiyarah (ramalan mujur atau sial) adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-. Tidaklah di antara kita (mengetahui symbol itu) kecuali beranggapan seperti itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.” (Hr. Abu Daud, Sunan Abi Daud 6/54, Ibnu Majah, Sunan Ibni Majah 4/561, Ahmad, Musnad Ahmad 6/213, Ibnu Hibban, Shahih Ibni Hibban 13/491, dan Abu Ya’la, Musnad Abi Ya’la 9/140). Berdasarkan dalil-dalil diatas, maka Dewan Hisbah mengistinbat :

  1. Menakwil mimpi adalah khususiyah para Nabi.
  2. Menakwil mimpi dengan merujuk pada buku paririmbon atau pendapat pribadi termasuk prilaku thiyaroh (ramalan) hukumnya haram.

By ginanjar nugraha