Beranda Muamalah Hukum menghadiri undangan yang didalamnya ada kemaksiyatan

Hukum menghadiri undangan yang didalamnya ada kemaksiyatan

1286
0

Hukum menghadiri undangan yang di dalamnya ada dangdutan? Agus cianjur

Islam merupakan agama yang sempurna, dimana bukan hanya mengatur kewajiban manusia kepada Allah, tapi juga mengatur kewajiban manusia kepada manusia yang lain. Diantara kewajiban seorang muslim adalah memenuhi undangan saudaranya muslim yang lain. Diantara undangan tersebut adalah undangan resepsi walimah berdasarkan keterangan, pertama dari sahabat Abdullah bin Umar

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا»

sesungguhnya Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, hadirilah.” (HR. Bukhari, Sahih Al-Bukhari, 7/24)

kedua dari hadis dari sahabat Abu Hurairah

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الوَلِيمَةِ، يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الفُقَرَاءُ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sejelek-jelek makanan adalah makanan pada walimah yang di mana diundang orang-orang kaya saja dan tidak diundang orang-orang miskin. Siapa yang meninggalkan undangan tersebut, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 7/25)

Hadis pertama menggunakan uslub perintah dengan lam al-amri sedangkan hadis kedua, menegaskan bawa orang yang tidak menghadiri undangan tanpa alasan adalah bermaksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dari kedua hadis diatas menunjukan bahwa menghadiri undangan hukumnya adalah wajib.

Pada dasarnya dalam cara walimah dan resepsi sejenis dibolehkankan didlamnya mengadakan pentas hiburan seni suara dan music, tentu selama didalamnya tidak ada yang dilarang, misalnya lirik yang menjurus kepada kemaksiyatan, penyanyi yang mengumbar aurat dan sejenisnya. Diantara kebolehan pentas hiburan tersebut dalilnya keterangan dari sahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwidz

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَا تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ

”Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam datang, pagi-pagi ketika pernikahan saya. Kemudian Beliau duduk dikursiku seperti halnya kau duduk Sekarang ini di depanku, kemudian aku menyuruh para Jariyah memainkan Duff, dengan menyanyikan lagu-lagu balada orang tua kami yang syahid pada perang Badr, mereka terus bernyanyi dengan syair yang mereka kuasai, sampai salah seorang dari mereka mengucapkan syair yang berbunyi…”Diantara kita telah hadir seorang Nabi yang mengetahui hari depan”…Maka Nabi saw. bersabda ”Adapun syair ini janganlah kamu nyanyikan”.(HR. Bukhari, Sahih Bukhari, 5/82).

Adapun menghadiri undangan yang didalamnya ada kemunkaran atau kemaksiyatan, maka sebaiknya tidak mengadiri undangan tersebut berdasarkan keterangan hadis dari sahabat Umar bin Khatab

{وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا}

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (An-Nisa: 140)

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلَا يَقْعُدْ عَلَى مَائِدَةٍ يُشْرَبُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya ada khamar” (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, 23/19)

Bahkan jika mampu, disunahkan sebelumnya untuk menempuh tahapan dalam pelarangan kemungkaran

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

Barangsiapa diantara kamu melihat kemunkaran, rubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, rubahlah dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu, rubahlah dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman. (HR Muslim, Shahih Muslim, 1/29)

Dengan demikian kesimpulannya, pertama, memenuhi undangan seorang muslim hukumnya wajib kecuali ada uzur. Kedua, setiap muslim wajib amar ma’ruf nahyi munkar, dengan kekuasaan, lisan dan do’a. Ketiga, seorang tidak selayaknya menghadiri undangan yang didalamnya ada kemunkaran dan kemaksiyatan