Beranda Muamalah Hukum Menghibahkan Tanah Wakaf ?

Hukum Menghibahkan Tanah Wakaf ?

1389
0

“Menghibahkan tanah wakaf hukumnya haram”
  1. Sebelum meninggal kakek saya memberikan wakaf tanah untuk perumahan ustadz dan meninggal dunia 25th yang lalu. Kami cucunya bermusawarah untuk di hibahkan kepada salah seorang cucunya,  apakah diperbolehkan ?

Wakaf secara bahasa artinya al habs atau menahan, sedangkan menurut istilah adalah menahan benda dan mensedekahkan manfaatnya (al Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 3/107). Pengertian secara istilah tersebut berasal dari hadis

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَصَابَ عُمَرُ بِخَيْبَرَ أَرْضًا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصَبْتُ أَرْضًا لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَنْفَسَ مِنْهُ فَكَيْفَ تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا فَتَصَدَّقَ عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ فِي الْفُقَرَاءِ وَالْقُرْبَى وَالرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالضَّيْفِ وَابْنِ السَّبِيلِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ

Dari Ibnu Umar Ra berkata Umar mendapatkan sebidang tanah di Khaibar kemudian mendatangai Rasulullah Saw dan berkata “Aku menerima sebidang tanah, aku berniat untuk beramal baik dengannya, apa yang engkau perintahkan kepadaku dengan tanah tersebut ? Rasulullah Saw menjawab : Jika engkau berkendak (untuk wakaf) maka tahanlah (wakafkanlah) asalnya dan bersedekahlah dengan manfaatnya. Maka Umar mensedekahkannya, sesungguhnya tanah tersebut tidak boleh dijual asalnya, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan untuk orang-orang faqir, kerabat, hamba sahaya dan di jalan Allah (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari 4/12 No. 4311, Sahih Muslim 5/73)

Dari hadis diatas dapat diambil beberapa kesimpulan, pertama wakaf itu menahan asal dan mensedekahkan manfaatnya. Kedua, syarat wakaf adalah pemilik harta. Ketiga, tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwariskan. Keempat, tujuan wakaf dapat secara umum (khairi) atau terbatas (Ahli). Kelima, nadzir wakaf boleh mendapat manfaat dari pemanfaatan harta wakaf.

Jika dipastikan kakek tersebut mewakafkan tanah disertai bukti dan saksi dengan tujuan terbatas yaitu komplek untuk para ustadz, maka tidak boleh dijual, dihibahkan maupun diwariskan. Semestinya keluarga wakif memelihara wakaf tersebut sehingga ganjarannya terus mengalir kepada orang yang mewakafkan, bukan sebaliknya, apalagi menggugat harta yang sudah dipastikan berstatus wakaf.

Dengan demikian, menghibahkan tanah wakaf hukumnya haram