Beranda Munakahat Hukum Menikah pada Masa iddah

Hukum Menikah pada Masa iddah

1261
0

Bagaimana solusi terhadap pernikahan yang terlanjur dilaksanakan pada masa iddah ? (Jamaah Pengajian)

Dalam Jawaban Istifta sebelumnya ditegaskan bahwa hukum pernikahan pada masa iddah adalah tidak sah. Bagaimana jika telah terlanjur pernikahannya terjadi, maka perlu ditegaskan bahwa pernikahannya tetap tidak sah. Disamping tidak memenuhi syarat, secara hukum berlaku asas ketiadaan pernikahan

الْأَصْل بَقَاء مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ

Hukum asal adalah ketetapan yang telah dimiliki sebelumnya. (Al-Ashbah wa An-Nazhair: 51)

Adapun bagi yang telah terlanjur menikah pada masa iddah, maka hal yang mesti dilakukan adalah :

Pertama, wajib bertobat kepada Allah, karena telah melanggar syariat

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa: 17)

Kedua, meminta ampunan kepada Allah dan tidak berputus asa dengan rahmatnya

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar: 53)

Ketiga, mesti dipisahkan keduanya karena pada hakikatnya tidak terjadi pernikahan atau fasakh

Pada zaman Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pernah terjadi pernikahan sepersusuan karena ketidaktahuan, kemudian Rasulullah memrintahkan untuk memisahkan keduanya. Selengkapnya sebagai berikut :

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الحَارِثِ، أَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لِأَبِي إِهَابِ بْنِ عُزَيْزٍ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ، فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ: مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي، وَلاَ أَخْبَرْتِنِي، فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ» فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ، وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ

Dari ‘Uqbah bin Haarits radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya beliau menikah dengan anak perempuan dari Abu Ihab bin ‘Aziiz. Kemudian datanglah seorang wanita kepadanya seraya berkata,”Sesungguhnya aku telah menyusui ‘Uqbah dan wanita yang dinikahinya!” Maka ‘Uqbah berkata kepadanya,”Aku tidak tahu kalau Engkau menyusuiku dan Engkau pun tidak memberi tahu aku”. ‘Uqbah kemudian pergi (dari Makkah) menemui Rasulullah di Madinah. ‘Uqbah bertanya kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Bagaimana lagi, sudah dikatakan demikian”. ‘Uqbah pun berpisah dengan istrinya, dan menikah dengan wanita yang lainnya. (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 1/29).

Dalam kasus diatas, yang mejadi mani’ (penghalang) sehingga pernikahannya tidak sah, adalah karena sepersusuan yang mengakibatkan keduanya menjadi mahram yang sifatnya tetap dan tidak berubah. Sehingga keduanya tidak dapat menikah selamanya. Karena itu setelah berpisah dengan istrinya, Uqbah bin al-Harits menikah kembali dengan wanita lain. Adapun untuk kasus pernikahan pada masa iddah, jika si perempuan telah habis masa iddahnya dengan suaminya yang terdahulu, maka boleh menikah kembali setelah dipisahkan dengan orang yang sama, dan pernikahannya sah selama memenuhi rukun dan syarat pernikahan

Dengan kesimpulannya, bagi laki-laki dan perempuan yang menikah menikah pada masa iddah, maka pernikahannya tidak sah dan wajib dipisah. Kedua, keduanya wajib meminta ampun dan bertobat. Ketiga, keduanya boleh menikah kembali setelah si perempuan habis masa iddah.