Beranda Shalat Hukum Mensalati Bayi Non Muslim

Hukum Mensalati Bayi Non Muslim

621
0

Apakah boleh mensalati jenazah bayi non muslim? apakah bayi tersebut ke surga atau keneraka? (JAMAAH MARGAHAYU)

Pada dasarnya setiap manusia sebelum dilahirkan pernah berbaiat dihadapan Allah yang disebut dengan ‘ahdun fitriyun (perjanjian fitrah) berdasarkan firman Allah :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (173)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Al-A’raf: 172-173)

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-Rûm : 30)

Kedua ayat diatas menjadi dalil bahwa semua manusia sebelum dilahirkan ke dunia ada dalam keadaan fitrah, yaitu ada dalam keadaan muslim. Ketika manusia dilahirkan ke dunia, Allah memberi taklif kepada manusia supaya menghadapkan jiwa, pikiran dan tindakan pada agama yang lurus yaitu agama Islam, karena hakikat dari agama Islam adalah tauhid, dimana ajaran tersebut sesuai dengan fitrah manusia sebelum dilahirkan. Karena itu jika manusia berpaling dari agama Islam, maka telah keluar dari garis fitrahnya. Dari penjelasan diatas kita akan faham kenapa hanya agama Islam yang diterima disisi Allah, salah satunya karena hanya agama Islamlah yang sesuai dengan fitrah manusia, firman Allah :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85).

Karena manusia sebelum dilahirkan ada dalam keadaan Islam, maka konsekuensi logisnya ketika dilahirkan ada dalam keadaan Islam atau ada dalam fitrah, namun karena faktor sosiologis dimana didikan orang tua dan lingkungan, maka dapat seseorang dapat berubah dari garis fitrahnya. Pernyataan diatas diperkuat oleh hadis dari sahabat Abu Hurairah semoga Allah meridhainya

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya? (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 2/100)

Terkait dengan fikih jenazah, janin bayi yang telah ditiupkan ruh dan terbentuk secara fisik atau secara medis berumur sekitar 120 hari kemudian meningga, maka disyariatkan salat jenazah, sebagaimana bayi yang sudah lahir. Berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 8/44)

Adapun bayi atau anak orang kafir atau non muslim sebelum baligh, pada hakikatnya masih dalam keadaan fitrah atau Islam. Misalnya dalam kasus terjadi bencana alam atau dengan seizin atau permintaan dari orang tua si mayit, maka dibolehkan diurus secara Islam yaitu dimandikan, dikafani dan disalatkan. Berdasarkan hadis dari sahabat Anas bin Malik, pernah mengizinkan anaknya untuk masuk Islam lengkapnya sebagai berikut :

كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ»

Dari Anas –semoga Allah meridhainya- berkata, “Sesungguhnya, seorang anak Yahudi yang biasa melayani Nabi shallallahu alaihi wa sallam menderita sakit. Lalu Nabi sallallahu alaihi wa sallam membesuknya, kemudian dia duduk di sisi kepalanya. Lalu berkata, ‘Masuk Islamlah.” Sang anak memandangi bapaknya yang ada di sisi kepalanya. Maka sang bapak berkata kepadanya, “Taatilah Abal Qasim shallallahu alaihi wa sallam.” Maka anak tersebut masuk Islam. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR. Bukhari, Sahih Al-Bukhari, 2/94)

Adapun terkait dengan nasib anak tersebut apakah ke surga atau ke neraka, maka hal tersebut merupakan urusan Allah, bukan merupakan urusan manusia.

Dengan demikian kesimpulannya, pertama, manusia sebelum dilahirkan ada dalam keadaan fitrah yaitu dalam keadaan muslim. Kedua, manusia ketika lahir dalam keadaan muslim, hanya didikan dan lingkungan dapat merubahnya menjadi keluar dari fitrahnya. Ketiga, bayi baik dalam kandungan yang telah diberi ruh dan terbentuk fisiknya maupun yang telah lahir kemudian meninggal, maka disyariatkan pengurusan jenazah dan disalatkan. Keempat, anak orang kafir yang belum balig, jika diizinkan atau diminta oleh orang tua atau walinya untuk diurus secara Islam, maka boleh diurus secara Islam dan disalatkan jenazahnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here