Beranda Ilmu Faraid Hukum Menunda Pembagian Waris

Hukum Menunda Pembagian Waris

2389
0

Apa hukum menunda pembagian waris ? (andri bandung)

Harta merupakan salah satu titipan Allah kepada manusia. Jika manusia meninggal, maka pada hakikatnya harta tersebut kembali kepada Allah. Sehingga hanya pencipta syariatlah yang berhak untuk mengelola harta tersebut dengan disyariatkannya ilmu faraid. Tahapannya, harta perninggalan atau tirkah harus dipisahkan dari harta syirkah antara suami dan istri, sesuai dengan bagiannya, kemudian dikurangi hutang dan wasiyat si mayit.

  1. Memisahkan harta suami dan istri sesuai dengan bagiannya

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ

Bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan (An-Nisa : 32)

  1. Menunaikan wasiyat dan hutang

…مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ …

…(pembagian waris tersebut) dilaksanakan setelah menunaikan wasiat dan membayar utang… (An-nisa : 11)

Adapun terkait dengan wasiyat, batasannya tidak lebih dari sepertiga

فَالثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيْدِيهِمْ

“(wasiat itu) Sepertiga. Dan sepertiga itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain”. [HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 4/3)

Adapun Uslub kewajiban pembagian waris secara faraid adalah sebagai berikut :

  1. Allah memerintahkan bagi laki-laki dua kali bagian perempuan dengan menggunakan kalimat washiat

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan…”[An-Nisa : 11]

  1. Allah memerintahkan pembagian kalalah dengan menggunakan kalimat fatwa

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, (yaitu) jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan…” [An-Nisa : 176]

  1. Allah menegaskan bahwa pembagian waris adalah sebuah kewajiban dengan menggunakan kalimat faridhah

…آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa : 11)

  1. Allah menegaskan bahwa pembagian waris secara faraid adalah batas-batas Allah dan memerintahkan ketaatan kepada Allah dengan dijanjikan surga

{ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (13)

(Hukum-hukum waris tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar (An-Nisa : 13)

  1. Allah menegaskan bahwa pembagian harta waris bukan secara faraid adalah sebuah kemaksiyatan kepada Allah dan Rasulnya bahkan diancam dengan neraka

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ (14)

. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An-Nisa : 14)

Kelima uslub pewajiban diatas saling mengatkan satu sama lain menunjukan pertama kewajiban pembagian harta secara faraid, kedua penyegeraan pembagian waris secara syar’i. Sebaliknya, jika tidak segera dibagikan akan banyak mafsadah yang terjadi, misalnya sengketa waris, ketidakjelasan kepemilikan, waris turun temurun yang belum dibagikan, sehingga sulit dihitung dan lainnya.

Adapun secara teknis pembagian waris, pertama, sangat dianjurkan menghadirkan hakam sebagai penengah

{وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا} [النساء: 35]

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (An-Nisa : 35)

Kedua, pembagian waris bukanlah membagi secara langsung barangnya, akan tetapi nilai keseluruhan dalam perhitungan angka, kemudian dibagian sesuai dengan ilmu faraid.

Ketiga, disyariatkan untuk berinfak kepada para kerabat, anak yatim dan fakir miskin

{وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا} [النساء: 8]

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.(An-Nisa : 8)

Kesimpulannya, pertama membagikan waris hukumnya wajib. Kedua, menunda-nunda pembagian waris tanpa alasan syar’i hukumnya haram.