Beranda Fikih Hukum Menyemir Rambut Warna Hitam

Hukum Menyemir Rambut Warna Hitam

1756
0

Bagaimana Hukum menyemir rambut dengan warna hitam ?

Terkait dengan masalah menyemir rambut atau janggut dengan warna hitam, ada beberapa hadis yang perlu diberi penjelasan
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قال: ” أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص : ” غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ ”

Dari Jabir bin Abdillah Ra dia berkata ”Pada hari penaklukan kota Mekkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan rambut dan janggutnya memutih seperti kapas. Maka Rasulullah saw bersabda “semirlah rambut dan janggutmu dengan sesuatu dan jauhilah warna hitam” HR. Muslim : 3932

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّة
Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada akhir zaman nanti akan ada orang-orang yang mengecat rambutnya dengan warna hitam seperti warna mayoritas dada merpati, mereka tidak akan mendapat bau surga.” Hr. Abu Dawud no. 3679

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِي حَدِيثِهِ قَالَ الزُّهْرِيُّ وَالْأَمْرُ بِالْأَصْبَاغِ فَأَحْلَكُهَا أَحَبُّ إِلَيْنَا قَالَ مَعْمَرٌ وَكَانَ الزُّهْرِيُّ يَخْضِبُ بِالسَّوَاد
Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak mencelup rambut mereka dengan semir, maka selisihilah mereka.” Abdurrazzaq menyebutkan dalam riwayatnya; Az Zuhri berkata; “Adapun perintah untuk mencelup rambut, maka warna hitam adalah lebih kami sukai.” Ma’mar berkata; “Az Zuhri mencelup rambutnya dengan warna hitam.” HSR. Ahmad No. 7737

عَنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص : ” غَيِّرُوا الشَّيْبَ، وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ ”

Dari Zubair Ra berkata : Rasulullah Saw bersabda : “ubahlah warna uban dan janganlah kalian meyerupai orang-orang yahudi”. HSR Ahmad 1361
Untuk memahami hadis-hadis diatas perlu metodologi yang tepat, sehingga dapat memahaminya secara komprehensif. Pertama mengumpulkan hadis-hadis yang setema. Kedua memilah dan menganalisis mana hadis yang terkategori mutlaq, mana yang muqoyyad. Ketiga, memasukan kaidah memasukan yang mutlaq pada yang muqoyyad.

Hadis pertama konteksnya adalah ketika kejadian fathu makah, Abu Quhafah diperintahkan untuk diubah warna rambutnya dan hindari warna hitam. Sedangkan hadis kedua, menerangkan bahwa pada akhir zaman akan ada sebuah kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam. Ditegaskan mereka tidak akan mencium bau surga.

Ada sebagian ulama dengan dalil kedua hadis diatas mengharamkan menyemir rambut dengan warna hitam, atau minimal memakruhkan. Akan tetapi pada hadis ketiga, menegaskan bahwa ciri fisik orang yahudi dan nasrani pada waktu itu adalah mereka tidak mencelup atau menyemir rambut mereka, kemudian Rasulullah Saw memerintahkan supaya menyelisihi mereka (dengan menyemir rambut).

Bahkan rawi yang meriwayatkan hadis tersebut yaitu az-Zuhri menyukai semir rambut dengan warna hitam bahkan melakukannya. Begitu juga dengan hadis keempat, Rasulullah saw memerintahkan untuk menyemir uban dan memerintahkan untuk tidak menyerupai orang-orang yahudi.

Hadis pertama dan kedua terkategori mutlaq, sehingga tidak dapat difahami secara utuh, kecuali dengan memahami konteks hadis sebagaimana yang diterangkan dalam hadis ketiga dan keempat. Dengan demikian perintah menyemir rambut atau uban dan menjauhi dengan warna hitam tidak terlepas dari kebijakan Rasul saw untuk tidak menyerupai orang yahudi dan nasrani pada waktu itu, sebagaimana dalam keterangan ketiga dan keempat.

Adapun untuk konteks sekarang identitas penyemiran rambut termasuk dengan menjauhi warna hitam, tidak lagi menjadi identitas pembeda dengan yahudi maupun nasrani. Adapun terkait pada akhir zaman akan ada suatu kaum yang menyemir rambut mereka dengan warna hitam tapi mereka tidak akan mencium bau surga, tidak dapat dijadikan dalil bahwa meyemir dengan warna hitam menjadi haram atau makruh, disamping karena tidak secara sarih, juga karena mereka mendapatkan laknat tidak akan mencium bau surga itu, bukan karena warna rambutnya tapi karena dosa yang mereka lakukan yang belum kita ketahui.

Kendatipun demikian, jika menyemir uban dengan warna hitam untuk tujuan menipu atau mengelabui maka hukumnya haram (Zad al-Ma’ad 4 : 337, Tuhfah al-Ahwadzi 5 : 358-361). Misalnya seorang yang sudah tua dan beruban hendak melamar menyemir rambutnya dengan warna hitam agar kelihatan tampak lebih muda. Begitu pula jika dengan mengecat atau menyemir rambut dengan warna tertentu dengan tujuan kesombongan atau bertujuan hendak menyerupai (tasyabbuh) sebuah kaum yang berstigma negatif atau identik dengan jahat dan kemaksiyatan maka hukumnya haram pula. Aspek lain yang menjadi bahan pertimbangan hukum adalah bahan dasar dari pewarna rambut, jika dipastikan berasal dari benda yang diharamkan, maka harampula menggunakannya untuk menyemir rambut. Sesuai dengan hadis

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: ” إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ ”
Dari Ibn Abbas Ra, dari Nabi Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mengharamkan sesuatu, maka haram pula mengambil harganya” H.S.R ad-Daraquthni no. 2469

Maksud hadis diatas yaitu apabila Allah mengharamkan sesuatu, misalnya babi, maka haram mengambil harganya atau mengambil manfaat daripadanya, termasuk didalamnya menjadi bahan kosmetik.

Dengan demikian kesimpulannya.
1. Pada dasarnya menyemir rambut kepala, kumis atau janggut termasuk warna hitam hukumnya boleh, adapun hadis-hadis terkait perintah menyemir rambut dan larangan warna hitam maksudnya terkait kebijakan Rasulullah Saw untuk tidak menyerupai Yahudi dan Nasrani pada waktu itu.
2. Menyemir rambut kepala, kumis, atau janggut dengan warna hitam atau lainnya dengan tujuan pengelabuan (penipuan) atau kesombongan hukumnya haram
3. Menyemir rambut kepala, kumis, atau janggut dengan tujuan mode menyerupai sebuah kaum yang berstigma negatif atau kaum yang identik dengan kejahatan dan kemaksiatan hukumnya haram.
4. Menyemir rambut kepala, kumis, atau janggut jika dipastikan dari bahan yang diharamkan, maka hukumnya haram

Ginanjar Nugraha, 2017

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here