Beranda Muamalah Hukum Perempuan Memakai Celana Panjang

Hukum Perempuan Memakai Celana Panjang

683
0

Bolehkah perempuan memakai celana panjang semisal untuk olahraga? Mujahidah

Jawab :

Setiap muslim dan muslimah wajib untuk menutupi auratnya. Fungsi pakaian adalah sebagai penutup aurat tersebut, karena itu berpakaian hukumnya wajib Adapun bagi muslimah, aurat yang wajib ditutup adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Adapun terkait dengan bagaimana cara berpakaian atau style maka masuk dalam kategori adat atau muamalah sedangkan dalam bermuamalah hokum asalnya adalah boleh, kecuali ada dalil yang melarang.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]
Dan Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-A’râf/7:31]
Adapun batasan terkait dengan pakaian perempuan adalah sebagai berikut :

1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan
{ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31]
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (an-Nur : 31).
Apa yang dimaksud dengan “kecuali yang biasa tampak daripadanya” masksudnya adalah wajah dan telapak tangan sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Abbas, Said bin Jubair dan Atha’ (Tafsir at-Thabari, 19/157)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ ، دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ ، فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَقَالَ : يَا أَسْمَاءُ ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha, bahwa Asma binti Abu Bakr masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan kain yang tipis, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpaling darinya. Beliau bersabda: “Wahai Asma`, sesungguhnya seorang wanita jika telah baligh tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini -beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya-.” (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 4/62)

2. Tidak transparan, tipis dan membentuk lekukan tubuh
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا ».
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 6/168)

3. Tidak Tasyabbuh 
Salah satu dalil umum terkait dengan larangan tasyabbuh adalah 
عن ابنِ عُمَرَ، قال: قال رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم -:، مَن تَشَبَّه بقومٍ فهو منهم”
Dari Ibn Umar berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda : “barangsiapa yang menyerupai ssuatu kaum, maka dia bagian dari mereka” (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 4/144)
Adapun rincian dari larangan tersebut adalah sebagai berikut :
a. menyerupai laki-laki

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Dari Ibn Abbas berkata Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari, 7/159)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ ، وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ.
Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (H.R. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 4/60)

b. menyerupai orang fasiq
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ نَسُواْ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمۡ أَنفُسَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١٩ 
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (al-Hasyr : 19)
c. menyerupai orang kafir
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَخْبَرَهُ قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَىَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ « إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا ».
Sesungguhnya Abdullah bin Amr bin Ash berkata : Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam melihat dua pakaian yang berwarna kuning kemudian bersabda “sesungguhnya pakaian ini adalah pakaian orang kafir, maka janganlah kalian memakainya” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 6/143)

Batasan tasyabbuh itu jika pakaian atau simbol yang digunakan identik baik itu laki-laki perempuan, orang kafir maupun fasiq. Misalnya pakaian yang didalamnya ada gambar salib, pakaian yang menyerupai rahib atau pendeta dan lainnya. Adapun jika pakaian tersebut tidak mencirikan identitas tertentu yang dilarang oleh syariah atau identitas yang musytarokah, maka dibolehkan. Terkait dengan celana panjang, secara adat umumnya celana tersebut digunakan oleh laki-laki, namun adapula perempuan yang menggunakannya. Jika dalam sebuah masyarakat dianggap identik dengan laki-laki, dan sangat tabu jika perempuan memakainya, maka terlarang memakainya. Namun jika dalam masyarakat lain tidak identik menyerupai laki-laki, maka dibolehkan selama menurup aurat, tidak transparan, tidak tipis, tidak membentuk lekukan dan tidak tasyabbuh, baik dengan laki-laki, orang kafir atau orang fasiq. Terlebih baik memanjangkan ujung baju sampai lutut atau lebih, sehingga lebih terjaga dari apa yang terlarang.