Beranda Shalat Hukum Rawatib bagi Muqim Yang Menjama’ Malat

Hukum Rawatib bagi Muqim Yang Menjama’ Malat

842
0
  1. Adakah salat rawatib, bagi muqim yang menjama’ salat ?

Jawab :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ وَفِي حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ قِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ مَا أَرَادَ إِلَى ذَلِكَ قَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

Dari Ibnu Abbas katanya; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zhuhur dan ashar, maghrib dan isya` di Madinah, bukan karena ketakutan dan bukan pula karena hujan.” Dalam hadis Waki’, katanya; aku tanyakan kepada Ibnu Abbas; “Mengapa beliau lakukan hal itu?” Dia menjawab; “Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya.” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/152)

Dalam hadis diatas Rasulullah saw pernah menjama’ ketika muqim (bukan safar) di Madinah antara waktu dzuhur dan ashar, serta antara waktu magrib dan isya, tidak dalam keadaan perang ataupun hujan. Jama’ tersebut adalah jama’ ta’khir. Alasannya supaya tidak memberatkan kepada umatnya, selama tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Dalam hadis tersebut tidak disebutkan apakah Rasul Saw mengerjakan rawatib sebelumnya atau sesudahnya. Namun secara keterangan lain, memastikan bawa Rasulullah Saw melaksanakan rawatib ketika muqim.

Adapun terkait dengan salat rawatib dalam safar, tidak ditemukan riwayat Rasulullah Saw melaksanakan salat rawatib ketika safar, kecuali salat sunat dua rakaat subuh.

Pertama keterangan dari Ibn Umar yang diriwayatkan oleh Hafs bin Ahim bin Umar  

صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ فِى طَرِيقِ مَكَّةَ – قَالَ – فَصَلَّى لَنَا الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ وَأَقْبَلْنَا مَعَهُ حَتَّى جَاءَ رَحْلَهُ وَجَلَسَ وَجَلَسْنَا مَعَهُ فَحَانَتْ مِنْهُ الْتِفَاتَةٌ نَحْوَ حَيْثُ صَلَّى فَرَأَى نَاسًا قِيَامًا فَقَالَ مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ قُلْتُ يُسَبِّحُونَ. قَالَ لَوْ كُنْتُ مُسَبِّحًا لأَتْمَمْتُ صَلاَتِى يَا ابْنَ أَخِى إِنِّى صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ وَصَحِبْتُ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ وَصَحِبْتُ عُمَرَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ ثُمَّ صَحِبْتُ عُثْمَانَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ )

“Aku pernah menemani Ibnu ‘Umar di suatu jalan di Makkah, Ayah Isa bin ‘Ashim berkata; “Dia lalu shalat zhuhur dua raka’at mengimami kami, setelah itu dia berjalan dan aku pun berjalan bersamanya hingga dia mendatangi barang-barang bawaannya. Lalu dia duduk dan aku duduk bersamanya, kemudian dia menoleh ke tempat yang sebelumnya beliau pergunakan untuk shalat. Dia melihat orang-orang berdiri, dia bertanya; “Apa yang sedang mereka lakukan?” Aku menjawab; “Mereka tengah melakukan shalat sunnah!” Ibnu Umar berkata; “Sekiranya aku melakukan shalat sunnah, niscaya aku akan menyempurnakan shalatku (maksudnya tidak diqashar -pent) wahai anak saudaraku, aku pernah menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam safar, beliau tidak menambah lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya, dan aku juga pernah menemani Abu Bakar, namun dia tidak pernah (mengerjakan shalat) lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya, aku juga pernah menemani Umar bin Khattab, namun dia tidak pernah (mengerjakan shalat) lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya, kemudian aku menemani Utsman bin Affan, namun dia tidak pernah (mengerjakan shalat) lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya, sedangkan Allah berfirman; Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladanan yang baik bagimu.” QS. Ahzab 21. (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/144)

Kedua hadis dari Ibn Umar ketika haji dalam keadaan safar di Muzdalifah

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِجَمْعٍ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِإِقَامَةٍ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا وَلَا عَلَى إِثْرِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا

dari Ibnu’ Umar radliallahu ‘anhuma berkata; “Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjama’ shalat Maghrib dan ‘Isya’ di Jama’ (Muzdalifah), pada setiap shalat tersebut dibacakan iqamat namun beliau tidak shalat sunnat diantara keduanya dan juga tidak setelah keduanya”. (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/164)

ketiga, dari Jabir bin Abdullah ketika Haji di Makkah dalam keadaan safar

ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Sesudah itu, beliau adzan kemudian qamat, lalu shalat Zhuhur. Lalu qamat lagi dan shalat Ashar tanpa shalat sunnah antara keduanya (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 4/39)

Keempat, keterangan dari sahabat Usamah bin Zaid

دَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ عَرَفَةَ حَتَّى إِذَا كَانَ بِالشِّعْبِ نَزَلَ فَبَالَ ثُمَّ تَوَضَّأَ وَلَمْ يُسْبِغِ الْوُضُوءَ فَقُلْتُ لَهُ الصَّلاَةَ. قَالَ « الصَّلاَةُ أَمَامَكَ ». فَرَكِبَ فَلَمَّا جَاءَ الْمُزْدَلِفَةَ نَزَلَ فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَنَاخَ كُلُّ إِنْسَانٍ بَعِيرَهُ فِى مَنْزِلِهِ ثُمَّ أُقِيمَتِ الْعِشَاءُ فَصَلاَّهَا وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat dari Arafah. Ketika sampai di suatu Bukit, beliau turun hendak buang air kecil dan sesudah itu beliau wudlu dengan sederhana. Lalu aku bertanya kepada beliau, “Apakah sekarang Anda akan shalat?” beliau menjawab: “Nanti saja, pada perhentian berikutnya.” Kemudian beliau naik kendaraan kembali. setelah sampai di Muzdalifah beliau turun, lalu wudlu dengan sempurna. Kemudian iqamat, lalu beliau shalat Maghrib, dan semua orang berhenti di situ. Lalu diiqamatkan pula shalat Isya, tanpa shalat sunnah antara keduanya. (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 4/73)

Hadis pertama merupakan pengingkaran Ibn Umar terhadap pelaksanaan salat sunat, baik rawatib atau lainnya, ketika safar, kecuali hanya melaksanakan dua rakaat (qashar). Sekiranya ada (salat sunat) tentu Ibn Umar akan memilih melaksanakan salat tam (sempurna), bukan dengan qashar ketika safar. Pernyataan tersebut sejauh pengamatan, pengetahuan dan pengalaman Ibn mengikuti salat Rasul Saw, Abu Bakar, Umar dan Utsman ketika safar. Hadis kedua, ketiga dan keempat secara manthuq menafikan adanya salat rawatib ba’diyah ketika safar, secara mafhum muwafaqah, termasuk didalamnya salat rawatib qabliyah. Namun keterangan diatas tidak menafikan keterangan lain, yaitu adanya salat qabla subuh sebagai pengecualian atau takhsis salat rawatib berdasarkan keterangan, pertama dari keterangan sahabat Aisyah

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

Dari Aisyah RA berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat Sunnah (rawatib dalam keadaan mukim ataupun safar) selain shalat sunnah fajar.” (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari 2/57)

Kedua, keterangan dari sahabat Abu Qatadah

ثُمَّ أَذَّنَ بِلاَلٌ بِالصَّلاَةِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى الْغَدَاةَ فَصَنَعَ كَمَا كَانَ يَصْنَعُ كُلَّ يَوْمٍ

Kemudian Bilal mengumandangkan adzan untuk shalat. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua rakaat, dan diteruskan dengan shalat subuh, beliau melakukan hal itu sebagaimana beliau melakukan di setiap harinya.” (H.R. Muslim, Sahih Muslim, 2/138)

Kesimpulanya, pertama boleh jama’ ta’khir bagi muqim, selama tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Kedua, salat rawatib disunahkan ketika muqim, tapi tidak ditemukan riwayat ketika dalam keadaan safar, kecuali salat sunat rawatib qabla subuh. Ketiga, ketika muqim memilih rukhsah menjama’ salat, maka boleh salat sunat rawatib didalamnya.