Beranda Fikih Hukum Salat Jumat Sebelum Tergelincir Matahari

Hukum Salat Jumat Sebelum Tergelincir Matahari

1206
2

Bolehkah salat Jumat sebelum tergelincir matahari ?
Salat merupakan rukun Islam yang pertama yang sifatnya ta’abudi dan tauqifi. Salat yang sah adalah salat yang terpenuhi rukun dan syarat salat. Salah satunya terkait dengan waktu salat yang menjadi sebab lahirnya kewajiban salat fardu.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra`: 78)
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu/wajib yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.(QS. An Nisa’ : 103)
Salah satu salat fardu adalah salat Jumat. Waktu salat jumat adalah sama dengan waktu salat Zuhur, adapun dalilnya adalah sebagai berikut,
pertama keterangan sahabat Anas bin Malik
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِينَ تَمِيلُ الشَّمْسُ
Sungguh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan salat Jumat ketika matahari telah tergelincir (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/7)
Kedua, keterangan dari sahabat Salamah bin al-Akwa’
كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَىْءَ.
Kami melaksanakan jumat bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika tergelincir matahari kemudian kami pulang mengikuti banyang-banyang (H.R. Muslim, 3/9)

Ketiga, atsar Umar bin Khattab dari Aqil bin Ali
فَإِذَا غَشِيَ الطِّنْفِسَةَ كُلَّهَا ظِلُّ الْجِدَارِ خَرَجَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَصَلَّى الْجُمُعَةَ
Apabila seluruh permadani itu telah diliputi oleh bayangan dinding, keluarlah ‘Umar ibnul Khaththab (yang ketika itu sebagai khalifah, pent.) dan mengerjakan shalat Jum’at )H.R. Malik, al-Muwattha’, 1/5)

Keempat atsar dari Ali bin Abi Thalib

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ عَلِيٍّ الْجُمُعَةَ ، فَأَحْيَانًا نَجِدُ فَيْئًا ، وَأَحْيَانًا لاَ نَجِدُهُ

Kami salat jumat bersama Ali terkadang kami mendapatkann bayangan (untuk berteduh) terkadang tidak (H.R. Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/108)

Kelima, atsar dari Nu’man bin Basyir
عَنْ سِمَاكٍ ، قَالَ : كَانَ النُّعْمَانُ بْنُ بَشِيرٍ يُصَلِّي بِنَا الْجُمُعَةَ بَعْدَ مَا تَزُولُ الشَّمْسُ

Keenam, Atsar dari Amr bin Huraits
كَانَ يُصَلِّيهَا إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ.
(Amr bin Huraits) salat jumat ketika tergelincir matahari (H.R. Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/109)

Dengan demikian kesimpulannya Hadis-hadis dan atsar sahabat diatas menunjukan secara sarih bahwa ibadah jumat dimulai waktunya ketika tergelincir matahari, sama dengan waktu ibadah salat zuhur.

Ada sebagian ulama yang membolehkan memulai ibadah Jumat sebelum zawal atau sebelum tergelincir matahari, diantara dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama, hadis dari Jabir bin Abdullah

مَتَى كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ؟ قَالَ: «كَانَ يُصَلِّي، ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا». زَادَ عَبْدُ اللهِ فِي حَدِيثِهِ: حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ، يَعْنِي النَّوَاضِحَ
Dari Ja’far dari ayahnya, sesungguhnya dia bertanya kepada Jabir bin Abdillah, ”Kapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melaksanakan salat jum’at? Jabir bin Abdillah berkata: “Biasanya beliau shalat Jum’at, kemudian kami pulang ke ternak onta kami dan mengistirahatkan onta tersebut”. Abdullah menambahkan dalam hadisnya, ”di sa’at matahari tergelincir, yaitu ketika unta telah diberi minum.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, 2/588)
Kedua, hadis dari sahabat salamah bin al-Akwa’
قَالَ سَلَمَةُ بْنُ الأَكْوَعِ: «كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجُمُعَةَ ثُمَّ نَنْصَرِفُ، وَلَيْسَ لِلْحِيطَانِ ظِلٌّ نَسْتَظِلُّ فِيهِ»
Dari Salamah bin Al-Akwa’ berkata, ”Kami salat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at, kemudian kami bubar yang pada saat itu tembok-tembok tidak mempunyai bayangan (sedikitpun) untuk bisa berteduh”. [HR Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 5/125].
.«كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ»
”Kami mengikuti jumatan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika matahari telah tergelilncir, kemudian kami pulang berjalan mencari bayangan bangunan. (HR. Muslim, Shahih Muslim, 2/589)
Ketiga, keterangan dari sahabat Sahl
مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
Kami tidak tidur dan makan siang kecuali setelah jumat (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 2/13)
Keempat, atsar Abu Bakar dan Umar
شَهِدْتُ الْجُمُعَةَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ، فَكَانَتْ خُطْبَتُهُ وَصَلاَتُهُ قَبْلَ نِصْفِ النَّهَارِ ، ثُمَّ شَهِدْنَا مَعَ عُمَرَ ، فَكَانَتْ خُطْبَتُهُ وَصَلاَتُهُ إِلَى أَنْ أَقُولَ : انْتَصَفَ النَّهَارُ ، ثُمَّ شَهِدْنَا مَعَ عُثْمَانَ ، فَكَانَتْ صَلاَتُهُ وَخُطْبَتُهُ إِلَى أَنْ أَقُولُ : زَالَ النَّهَارُ ، فَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا عَابَ ذَلِكَ ، وَلاَ أَنْكَرَهُ.
Aku menghadiri salat JUmat bersama Abu Bakar, hutbah dan salatnya dimulai sebelum tengah hari. Kemudian aku hadir pula bersama Umar, khutbah dan salatnya dimulai tengah hari. Kemudian aku menghadiri Jumat bersama Usman, khutbah dan salatnya ketika tergelincir matahari. Aku tidak melihat seorangpun mencela perbuatan tersebut dan akupun tidak mengingkarinya (H.R. Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 2/107)
Kelima, atsar dari Muawiyah
صَلَّى بِنَا مُعَاوِيَةُ الْجُمُعَةَ ضُحًى
Muawiyah mengimami kami salat Jumat pada waktu Dluha (H.R. Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/108)
Keenam, atsar dari Ibn Mas’ud
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلِمَةَ ، قَالَ : صَلَّى بِنَا عَبْدُ اللهِ الْجُمُعَةَ ضُحًى ، وَقَالَ : خَشِيتُ عَلَيْكُمَ الْحَرَّ
Abdullah bin Mas’ud mengimami kami salat Jumat pada waktu dluha dan beliau berkata “aku khawatir panas terik bagi kalian” (H.R. Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/108)
Bantahannya adalah sebagai berikut :
Pertama, hadis-hadis sebelumnya yaitu dari sahabat Anas dan Salamah bin al-Akwa secara pasti dan sarih menunjukan bahwa waktu jumat dimulai ketika tergelincir matahari. Disamping itu juga menunjukan bahwa waktu Jumat sama dengan waktu salat Zuhur. Kedua, hadis-hadis yang dikemukakan sebagai alasan bolehnya Jumat dilakukan sebelum zawal, secara dalalah ihtimal, tidak menunukan secara pasti ibadah jumat dilakukan sebelum zawal. Justru tahqiq ihtimalnya berdasarkan qorinah hadis yang lain menunjukan bahwa ibadah jumat dilaksanakan sesaat setelah zawal dengan ungkapan hiperbolik, bukan dilaksanakan sebelum zawal. Ketiga, ketika disebutkan salat Jumat dalam hadis-hadis diatas, bukan berarti hanya salat saja, tapi juga termasuk didalamnya khutbah Jumat sebagai rangkaian dari ibadah Jumat.
Penjelasannya hadis pertama, kalimat ”pada saat itu tembok-tembok tidak mempunyai bayangan” masih ihtimal untuk dijadikan istidlal. Maksud yang lebih tepat atau tahqiq dari ihtimalnya adalah tidak ada bayangan tembok dimana mereka para sahabat bisa berteduh, bukan tanpa bayangan sama sekali artinya perlu waktu tertentu yang lebih lama atau jeda waktu sampai bayangan dapat dijadikan tempat untuk berteduh dan waktu tersebut cukup untuk pelaksanaan ibadah jumat. hadis keduapun tidak dapat dijadikan dalil, karena tidak menunjukan secara pasti dan sarih bahwa Jumat dilaksanakan sebelum zawal.
Adapun keterangan Abdullah bin Ahmad maksudnya pelaksanaan ibadah Jumat dilakukan segera sesaat setelah matahari tergelincir, bukan dilakukan sebelumnya. Adapun hadis ketiga, sebagaimana hadis pertama dan kedua, tidak menunjukan secara pasti bahwa Jumat dilaksanakan sebelum zawal. Semata tidak tidur dan makan siang setelah Jumat, tidak menunjukan bahwa Jumat dilaksanakan sebelum zawal atau tergelincir matahari.
Sedangkan hadis keempat terkait atsar Abu Bakar dan Umar dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abdullah bin Sidan as-Sulami Imam Bukhari menilai “tidak ada mutabi hadisnya” (Tarikh al-Kabir 5/110). Imam Ibn Adi “hanya meriwayatkan satu hadis, syibhu al-majhul” (al-Kamil, 5/369). Imam ad-Daraqutni “Bukan rawi yang kuat” (Man takallama fihi ad-Daraquthni, 2/75) hadisnya dhaif munkar sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.
Dalil kelima, yaitu atsar Muawiyah dalam sanadnya ada rawi yang bernama said bin Suwaid imam Bukhari menilai “ya lutaba’ ‘alaihi” (tidak ada mutaba’ah) (Tarikh al-Kabir, 3/447) lebih dekat kepada munkar, apalagi bertentangan dengan hadis dan atsar sahabat yang lain. Adapun dalil keenam, yaitu atsar Ibn Mas’ud, Dalam sanad yang lain rawi Abdullah bin Maslamah yang berubah hafalannya ketika lanjut usia. Amr bin Murrah meringkari keterangan Abdullah bin Salamah (al-Ausat Ibn al-Mundzir, 3/302) pengingkarannya karena Abdullah bin Salamah berubah hafalannya (pikun) karena sudah tua (al-Mukhtalitin, 63)
Dengan demikian kesimpulannya, pertama, waktu jumat sama dengan waktu zuhur, yaitu tergelincir matahari. Kedua, hadis-hadis dan atsar yang dijadikan dalil ibadah jumat sebelum zawal, hadisnya ihtimal dan dhoif, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Ketiga, hadis-hadis yang sahih namun ihtimal, maka tahqiq ihtimalnya adalah menyegerakan ibadah Jumat di awal waktu setelah matahari tergeincir. Keempat, ibadah atau salat jumat yang dilaksnakan sebelum zawal atau tergelincir matahari maka salatnya tidak sah.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here