Beranda Fikih Hukum Salat Qosor Setiap Hari

Hukum Salat Qosor Setiap Hari

1077
0
safar

Saya hampir setiap hari menempuh jarak  sekitar 40 km ke tempat kerja, apakah boleh selama di tempat kerja salatnya selalu di jama’ qhasar ?

Allah telah menetapkan rakaat salat wajib diantaranya salat empat rakaat yaitu salat zuhur, ashar dan isya. Ketetapan asal tersebut disebut dengan azimah. Manusia sebagai mukallaf ketika akan melaksanaan azimah tersebut berbeda-beda keaadaannya, ada kalanya ketika muqim dan adakalanya ketika safar. Dalam ayat dibawah ini, Allah memberi keringanan (rukhsah) syariat qosor bagi musafir. Karena itu safar merupakan sebab adanya rukhsah qosor. Artinya tidak ada rukhsah qosor jika dalam keadaan muqim.

{وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا}

Dan bila kamu berpergian di bumi, maka tidak mengapa atas kamu untuk mengqashar salat, jika takut, bahwa orang-orang kafir itu akan mengganggu kamu, karena sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagi kamu. (An-Nisa: 101)

Ayat diatas diperjelas oleh hadis dari Ya’la bin Umayah

قُلْتُ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ: {لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ، إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا} فَقَدْ أَمِنَ النَّاسُ، فَقَالَ: عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتُ مِنْهُ، فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ «صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ، فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ»

“Saya pernah bertanya kepada umar bin al-Khaththab tentang ayat LAISA ‘ALAIKUM JUNAHUN …. KAFARU, sedangkan sekarang orang-orang telah aman?” Umar menjawab, Aku pun pernah kaget sebagaimana engkau kaget, lalu saya bertanya kepada Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam mengenai hal itu. Beliau menjawab, “itu adalah sadaqah yang Allah bersadaqah dengannya atas kalian. Maka terimalah sadaqah-Nya”. (HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/478)

Adapun terkait dengan jama’, Rasul pernah melakasakan jama’ ketika safar maupun muqim. Adapun ketika muqim, jama ta’khir dibolehkan selama tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Keterangan Rasulullah melaksanakan jama’ ketika safar diantaranta berdasarkan keterangan dari sahabat Muaz bin Jabal

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ زَيْغِ الشَّمْسِ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ فَيُصَلِّيَهُمَا جَمِيعًا، وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ سَارَ، وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ الْعِشَاءَ فَصَلَّاهَا مَعَ الْمَغْرِبِ

Dari Mu’adz bin Jabal, Sesungguhnya Nabi sallalahu ‘alaihi wasallam pada perang tabuk, apabila berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan dzuhur kemudian menjamaknya dengan ashar. Tetapi apabila berangkat setelah tergelincir matahari, beliau menjamak zhuhur dan ashar itu (pada waktu zhuhur), lalu berangkat (meneruskan perjalanannya). Demikian pula apabila beliau berangkat sebelum maghrib, beliau mengakhirkan maghrib sehingga menjamaknya dengan isya. Dan apabila berangkat setelah masuk waktu maghrib, beliau menyegerakan isya dan menjamaknya dengan maghrib (jamak taqdim). (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra, 3/162)

Karena illat atau sebab hukumnya adalah safar maka berlaku kaidah

الحكم يدور مع علته وجوداً أو عدماً

Hukum tergantung ada dan tidaknya illat/sebab hukum

Kebolehan mengqhasar salatpun bagi musafir tidak terkait dengan lama dan sebentarnya tinggal ketika safar, karena Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pernah tinggal di Makkah selama 19 hari dan salatnya diqhasar terus.

سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا.

Saya mendengar Anas berkata, “kami keluar bersama Nabi sallalahu ‘alaihi wasallam dari madinah ke mekah. Beliau salat dua raka’at sehingga kami kembali ke madinah. Maka aku bertanya, “Apakah kalian bermukim di Mekah?” jawabnya,”Kami bermukim di Mekah selama sepuluh hari. (HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1/367)

Bahkan ada atsar berdasarkan keterangan Nafi’ bahwa Ibnu Umar pernah tinggal di Azerbaijan selama delapan bulan dan selama itu pula beliau mengqasar salat

قَامَ ابْنُ عُمَرَ بِآذَرْبِيْجَانَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ يَقْصُرُ الصَّلاَةَ.

Ibnu Umar bermukim di Azerbaijan selama enam bulan mengqhasar salat. (HR Al Baihaqi, Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra, 3/152).

Dari berbagai keterangan diatas jelaslah bahwa sebab hukum adanya rukhsah qhasar adalah karena safar, maka selama dalam keadaan safar, terdapat sunah qhasar, tidak terkait dengan kebiasaan, lama dan sebentarnya tinggal di tempat safar ataupun kesulitan ketika safar. Adapun menghilangkan kesulitan ketika safar lebih sebagai hikmah dari syariat qashar bukan sebagai sebab hukum.

Kesimpulannya, pertama sebab adanya rukhsah qhasar salat adalah safar, bukan kebiasaan atau kesulitan dalam safar. Kedua, tidak ada batas waktu atau lama safar, selama dalam keadaan safar, maka bukan dalam keadaan muqim. Ketiga, selama dalam keadaan safar, boleh menjama’ dan mengqhasar salat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here