Beranda Tajwid Hukum Waqaf Dalam membaca al-Quran

Hukum Waqaf Dalam membaca al-Quran

348
0

Bagaimana kedudukan waqof dalam Al-Qur’an, apakah hukumnya wajib diikuti? Bagaimana kalo kondisi di baca ketika sholat?

Waqof artinya berhenti, maksudnya seperti dijelaskan ulama tajwid,

قطع الصوت على آخر الكلمة زمنًا ما، أو هو قطع الكلمة عما بعدها زمنًا يتنفس فيه القارئ – عادة – بنيَّة استئناف القراءة؛ إما بأن يستأنف بما يلي الكلمةَ الموقوف عليها، أو بما قبلها، أو بها، لا بنية الإعراض عن القراءة

Memutus/menghentikan suara sesaat diakhir kalimat atau memisahkan kalimat yang dibaca dengan kalimat setelahnya sesaat (untuk) si qari mengambil nafas biasanya, dengan niyat memulai lagi bacaan, baik pada kalimat setelahnya, kalimat sebelumnya atau kalimat yang dia berhenti padanya, bukan niyat untuk berpaling dari bacaan.

waqaf ini biasanya diujung ayat bisa juga ditengahnya yang jelas bukan ditengah kalimat. Dan ditandai dengan bernafas, jika tidak bernafas dinilai bukan waqaf tetapi sukut/diam saja.

perlu dimaklumi bahwa tanda-tanda waqaf yang terdapat pada ayat al Qur’an dibubuhkan oleh para ulama saja bukan bagian dari ayat qur’an sendiri. dan hakikatnya itu bersifat ijtihadiyyah. para ulama sepakat menghukumi berhenti pada tanda-tanda waqaf hukumnya hanya sunnah, berdasarkan hadits berikut,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ يَقُولُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } ثُمَّ يَقِفُ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } ثُمَّ يَقِفُ وَكَانَ يَقْرَؤُهَا { مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ }

Dari Ummu Salamah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memotong bacaan beliau, beliau membaca: AL HAMDULILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN, kemudian beliau berhenti, ARRAHMAANIRRaHIIM, kemudian beliau berhenti, lalu beliau membaca MAALIKI YAUMIDDIIN.” (HR. Tirmidzi 2851)

Artinya jika tidak berhenti dan berlanjut saja dalam bacaan, maka tidaklah haram, makruh dan tidak dosa. Ini baik dalam salat maupun diluar salat. Demikian pula sama tidak berdosa berhenti bukan pada tanda waqaf dengan syarat tidak sengaja untuk mengaburkan makna ayat. Imam Ibnul Jazarii rahimahullah berkata:

وليس في القرآن من وقف يجبْ    ولا حرام غير ما له سبب

Tiada dalam al Qur’an dari waqaf yang menjadi wajib atau haram selain yang memiliki sebab.

Beliau juga berkata:

 إِنَّمَا يُرِيدُونَ بِهِ الْجَوَازَ الْأَدَائِيَّ، وَهُوَ الَّذِي يَحْسُنُ فِي الْقِرَاءَةِ وَيَرُوقُ فِي التِّلَاوَةِ، وَلَا يُرِيدُونَ بِذَلِكَ أَنَّهُ حَرَامٌ وَلَا مَكْرُوهٌ، اللَّهُمَّ إِلَّا أَنْ يَقْصِدَ بِذَلِكَ تَحْرِيفَ الْقُرْآنِ وَخِلَافَ الْمَعْنَى الَّذِي أَرَادَهُ اللَّهُ، فَإِنَّهُ يَكْفُرُ فَضْلًا عَنْ أَنْ يَأْثَمَ

Sesungguhnya mereka maksudkan boleh secara pelaksanaan yang membuat bagus bacaan dan elok dalam tilawah dan tidak mereka maksudkan bahwa hal itu haram atau makruh, kecuali dimaksudkan dengan hal itu untuk merubah al Qur’an dan menyelisihi makna yang dikehendaki oleh Allah. Itu tidak sekedar doa melainkan bisa jadi kufur. (dikutip al Suyuthi dalam al Itqan)

Kesimpulan

Mengikuti tanda waqaf dalam al Qur’an hukumnya sunnah, Dan tidak haram/makruh jika diwashalkan kecuali ada niyat-an merubah ayat atau menyamarkan maknanya.

Allahu A’lam

By Hasyim al-Fasiri