Beranda Akhlaq HUKUMAN BAGI PENCACI NABI SAW

HUKUMAN BAGI PENCACI NABI SAW

171
0

Akhir akhir ini, mungkin sebagaian orang dibuat bingung oleh berbagai pendapat yang berseliweran didumay menyikapi tindak pelecehan terhadap Nabi saw. Pendirian dan keteguhan kita sedang diuji saat ini. Betapa tidak, tindak pelecehan terhadap Nabi saw bukan penomena baru melainkan telah terjadi, baik dimasa Nabi saw masih hidup maupun dimasa para sahabat sepeninggal beliau saw. Kasus dan tindak hukum yang diberlakukan terekam dalam riwayat hadits dan diinterpretasikan oleh para ulama terdahulu kita secara seragam berabad-abad lamanya. Jika semua itu luntur dikarenakan asumsi sebagian orang dimasa kini yang mengutak atik dengan dalih toleransi, menghindari image radikalisme dll….sungguh sakitnya tuh disini.

Masalah ini tidaklah sulit untuk diketahui, para ulama hadits pun telah memudahkan dan menulis bab khusus dalam kutub hadits mereka.

(1) Imam Bukhari dalam shahihnya 9/15 menuliskan:
بَابُ إِذَا عَرَّضَ الذِّمِّيُّ وَغَيْرُهُ بِسَبِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يُصَرِّحْ
Bab Jika orang kafir dzimmy dan yang lainnya menyamarkan cacian terhadap nabi saw dan tidak jelas

(2) Imam Abu Dawud dalam sunannya 1/129 menuliskan,
بَابُ الْحُكْمِ فِيمَنْ سَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bab hukuman bagi pencaci Nabi saw.

(3) Imam Nasaíy dalam sunanya 7/107 mengumpulkan hadits dalam bab:
الْحُكْمُ فِيمَنْ سَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Hukuman badi yang mencaci Nabi saw.

(4) Imam Abdurrazzaq dalam mushannafnya 5/307, menuliskan hadits-hadits tentang ini dalam bab:
بَابُ مَنْ سَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصْنَعُ بِهِ
Bab tentang orang yang mencaci Nabi saw bagaimanakah ditindak?

(5) Imam Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya 7/201 menuliskan bab khusus,
مَسْأَلَةُ قَتْلِ مَنْ يَشْتُمُ الرَّسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Masalah membunuh orang yang mencaci Nabi saw.

Riwayat dan hadits-hadits yang terkumpul dalam bab tersebut melandasi kesepakatan para ulama terdahulu secara jelas dan tegas, bahwa pencaci Nabi saw hukumannya eksekusi mati kecuali jika bertaubat dan masuk Islam. Simak konsensus ini dikemukakan para fuqaha besar kita dahulu:

(1) Imam Muhammad bin Sahnun (w. 256 H)

قال إمام أهل أفريقية محمد بن سحنون: أجمع العلماء على أن شاتم النبي صلى الله عليه وسلم المنتقص له؛ كافر، وحكمه عند الأئمة القتل، ومن شك في كفره وعذابه كفر

Berkata Imam penduduk afrika Muhammad bin Sahnun: Para ulama telah berijma’/bersepakat bahwa pencaci Nabi saw yang menghina kemuliannya adalah kafir, hukumnya dikalangan para imam adalah dibunuh, dan orang yang meragukan kekufuran dan hukumannya adalah kekafiran. (Nihayah as Suul fii khashaísh al Rasul hal 261)
(2) Imam Abu Bakr al Fasy (w. 305 H) beliau ulama pendahulu madzhab Syafiíy berkata dalam kitab masalah ijmak nya:

حد من يسب رسول الله صلى الله عليه وسلم القتل

Hukuman orang yang mencaci Rasulillah saw adalah dibunuh (Nihayatul Mathlab, al Juwainy 18/46)

(3) Imam Ibnul Mundzir (w. 319 H) dalam kitab al Ijma 2/584 menyatakan:

أجمع عوام أهل العلم على أن حد من سب النبي صلى الله عليه وسلم القتل

Telah bersepakat umumnya ahli ilmu atas bahwa hukuman orang yang mencaci Nabi saw adalah dibunuh.

(4) Imam al Khaththaby (w. 388 H) dalam maálim sunan 3/296 menyatakan:

سابّ النبي صلى الله عليه وسلم مقتول، ولا أعلم أحداً من المسلمين اختلف في وجوب قتله

Pencaci Nabi saw itu dibunuh, Aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum muslimin yang menyelisihi wajib dibunuhnya.

سابّ النبي صلى الله عليه وسلم مقتول، ولا أعلم أحداً من المسلمين اختلف في وجوب قتله

Pencaci Nabi saw itu dibunuh, Aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum muslimin yang menyelisihi wajib dibunuhnya.

(5) Al Qadli Iyadl al Yahshuby (w. 544 H) dalam al Syifa 2/467, menyatakan:

أجمعت الأمة على قتل منتقص النبي من المسلمين، وسابّه

Umat telah bersepakat atas hokum bunuh terhadap orang yang mengurangkan kemuliaan Nabi saw dan mencacinya.

(6) Ibnu Taimiyah (w. 788 H) berkata:

الساب إن كان مسلما فإنه يكفر ويقتل بغير خلاف، وهو مذهب الأئمة الأربعة وغيرهم، وقد تقدم ممن حكى الإجماع على ذلك

Pencaci (Nabi) jika dia muslim maka sesungguhnya dia jadi kafir dan dibunuh tanpa ada perselisihan, Ini adalah madzhab imam yang empat dan selain mereka sebagaimana telah terdahulu penuqilan ijmak atas hal itu.

(7) Imam as Subuky (w. 756 H) dalam kitabnya al Saiful maslul hal 119-122, menegaskan:

في وجوب قتله، وهو مجمع عليه…، ومن استقرأ سير الصحابة، تحقق إجماعهم على ذلك، فإنه نقل عنهم في قضايا مختلفة منتشرة، يستفيض مثلها، ولم ينكره أحد

Wajibnya dibunuh dan ini ijmak atasnya…barang siapa yang menelusuri sejarah para sahabat, terbukti ijmak mereka atas hal itu, karena dinuqil dari mereka berbagai kasus yang berbeda dan tersebar juga mashur seperti itu, dan tidak ada seorang pun mengingkarinya.

Lihat pula pernyatan ijmak madzhab hanafiyah dalam kitab majma’al anhar 1/677, atau madzhab Malikiyah dalam kitab al Bayan wa at tahshil 16/398, Ijmak madzhab Syafiíyah dalam kitab Nihayatul Mathlab 18/46 serta madzhab Hanabilah dalam kitab syarhul muntaha 3/394 dll.

Bila demikian, pendapat yang menyelisihi mereka semua, kira-kira madzhab apaan?

Sebagai akhir tulisan, kita tengok kasus yang terjadi dizaman Nabi saw yang diungkap dalam hadits riwayat Imam Abi Dawud berikut:

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ

Dari Ikrimah ia berkata: Ibnu Abbas pernah bercerita kepada kami: “Seorang laki-laki buta mempunyai Ummul Walad (budak wanita yang dijadikan isteri) yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia benar-benar telah melakukannya (penghinaan). Laki-laki itu melarang dan mengancamnya namun ia tidak berhenti dan ia terus melarangnya namun wanita itu tidak menggubris. Ibnu Abbas melanjutkan: “Pada suatu malam wanita itu kembali mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka laki-laki itu mengambil sebuah pisau tajam dan meletakkan di atas perut wanita itu seraya menusuknya. Laki-laki itu membunuhnya, sementara antara kedua kaki wanita tersebut lahir seorang bayi mungil hingga ia pun berlumuran darah. Ketika hari telah pagi, kejadian tersebut disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lantas mengumpulkan orang-orang dan bersabda: “Aku bersumpah kepada Allah atas seorang laki-laki, ia telah melakukan suatu perbuatan karena aku, ia dalam kebenaran.” Kemudian laki-laki buta itu melangkah di antara manusia dalam keadaan gemetar hingga ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah suaminya, namun ia mencela dan menghinamu, aku telah melarang dan mengancamnya, namun ia tidak berhenti atau menggubrisnya. Darinya aku telah dikaruniakan dua orang anak yang cakep layaknya bintang yang bersinar, wanita itu sangat sayang kepadaku. Namun, tadi malam ia mencela dan menghinamu, lantas aku mengambil pisau tajam, pisau itu aku letakkan di atas perutnya dan aku tusukkan hingga ia mati.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda: “Ketahuilah, bahwa darah wanita itu adalah sia-sia (halal) (HR Abi Dawud 4361)

Semoga Allah memberi kita kekuatan agar tetap istiqamah dijalan-Nya. Amiin!
Allahu A’lam

(by alfasiry)