Beranda Hikmah Ikhtiyar, Tawakal dan Investasi Akhirat

Ikhtiyar, Tawakal dan Investasi Akhirat

117
0

Kewajiban kita adalah berikhtiyar dan bertawakal, Allah lah yang menjamin dan memberi rezeki. Burung saja yang bermodalkan paruh, sayap dan cakar, pagi dalam keadaan perut kosong, pulang sore dalam keadaan kenyang, berikhtiyar terbang mencari makanan. Apalagi manusia yang diberi modal yang lebih banyak dan lebih sempurna. Dari Sahabat Umar bin Khathab berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh.”
(HR. at-Tirmidzi: 2266)

Begitu juga dari sahabat Aisyah RA, menegaskan bahwa sebaik²nya apa yang dimakan bersumber dari usahanya sendiri. Karena itu berusaha dan berikhtiyarlah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sebaik-baik dari apa yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang berasal dari hasil usahanya, dan anak adalah hasil dari usahanya.”
(HR. Abu Daud: 3061)

Ditekankan pula bahwa anak termasuk hasil usahanya, karena itu pahala mendidik anak akan terus mengalir pada kedua orang tuanya, walaupun telah meninggal. Menjadi tabungan amal saleh sekaligus investasi akhirat yaitu mendidik anak² menjadi saleh.

Jika anda seorang ayah kepala keluarga, maka ketahuilah bahwa diantara sebaik²nya infaq adalah menaggung keluarga, disamping memberi makan kepada ternak dan infaq untuk para pejuang fi sabilillah, berdasarkan hadis dari sahabat Tsauban, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

“Sebaik-baik dinar (uang atau harta) yang dinafkahkan seseorang, ialah yang dinafkahkan untuk keluarganya, untuk ternak yang dipeliharanya, untuk kepentingan membela agama Allah, dan nafkah untuk para sahabatnya yang berperang di jalan Allah.” (HR. Muslim: 1660)

Bekerja dan berusahalah dengan sebaik-baiknya, apapun profesi dan pekerjaannya, yang penting halal dan sesuai syariat. Sebaliknya jangan sampai kita termasuk orang yang meminta-minta dengan tujuan memperkaya diri. Termasuk mempersiapkan anak cucu tidak termasuk golongan tersebut. Ancamannya sangat dahsyat yang tentunya berkosekuensi hukumnya haram. Dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

“Siapa yang meminta-minta kepada orang banyak untuk menumpuk harta kekayaan, berarti dia hanya meminta bara api. Sama saja halnya, apakah yang diterimanya sedikit atau banyak.” (HR. Muslim: 1726)

Begitu pula ada ancaman lain, yang tidak kalah mengerikan, dari sahabat Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari : 1381 )

Kita pungkas saja dengan ayat al-Quran yang menjadi inti ruh dari tulisan ini

…فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Maka apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
(QS. Ali ‘Imran : 159)

Semoga Allah memasukan kita dalam golongan orang² yang bertawakal

Ginanjar Nugraha