Beranda Shalat Imam dan Makmum berbeda Niat dalam Salat Berjamaah

Imam dan Makmum berbeda Niat dalam Salat Berjamaah

604
0

Bolehkan Imam dan Makmum berbeda niat dalam salat berjamaah ? apakah salatnya sah ?

Dalam salat berjamaah, imam dan makmum boleh berbeda niat. Sebaliknya, kami belum menemukan dalil sahih dan sarih yang menunjukan dan menetapkan imam dan makmum mesti berkesuaian dalam niat salat sebagai syarat sah salat berjamaah. Adapun yang menjadi dalilnya adalah sebagai berikut :

Pertama, Imam salat sunat sedangkan makmum salat wajib. Berdasarkan keterangan sahabat Jabir

أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَرْجِعُ فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ

sesungguhnya Muadz bin Jabal salat bermakmum kepada Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, kemudian dia pulang untuk mengimami kaumnya (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/141)

Salat Isya kedua yang dilaksanakan oleh Muadz bin Jabal merupakan salat sunat, sedangkan bagi kaum yang diimaminya merupakan salat wajib, sesuai dengan keterangan dari riwayat imam al-Baihaqi

هِىَ لَهُ تَطَوُّعٌ وَلَهُمْ فَرِيضَةٌ

Salat Isya (yang kedua) baginya (Muadz) jadi salat sunat, sedangkan bagi mereka (penduduk yang menjadi makmum) merupakan salat wajib (HR Baihaqi, Sunan al-Kubra, 3/83)

Kedua, Imam salat wajib, sedangkan makmum salat sunat. Berdasarkan keterangan dari sahabat Abu Said al-Khudri

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ رَجُلاً يُصَلِّي وَحْدَهُ ، فَقَالَ : أَلاَ رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki salat sendirian, maka beliau bersabda “Adakah seseorang yang mau bershodaqoh atasnya (salat berjamaah) (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/157)

Hadis pertama, rasul shallallahu alaihi wa sallam meyuruh  kepada sesorang untuk bershadaqah menemani salat orang yang munfarid, padahal dia telah melaksanakan salat.

Begitu juga dalam riwayat yang lain, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai salat ada dua orang di sudut masjid, tidak melaksanakan salat, beliau bersabda kepada keduanya

مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا ؟ قَالاَ : قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا ، فَقَالَ : لاَ تَفْعَلُوا ، إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فِي رَحْلِهِ ثُمَّ أَدْرَكَ الإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ ، فَلْيُصَلِّ مَعَهُ فَإِنَّهَا لَهُ نَافِلَةٌ

“Apakah yang menghalangi kalian berdua untuk melaksanakan shalat bersama kami?” Mereka menjawab; Kami sudah melaksanakannya di rumah kami. Beliau bersabda: “Janganlah kalian melakukannya lagi, apabila seseorang di antara kalian sudah melaksanakan shalat di rumahnya, lalu mendapatkan imam sedang shalat, maka shalatlah bersamanya, karena yang ini baginya adalah nafilah (sholat sunnah) (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, 1/157)

Kedua hadis diatas menunjukan kebolehan makmum salat sunat bermakmum pada imam salat wajib.

Ketiga, imam musafir sedangkan makmum muqimin, berdasarkan atsar sahih dari Umar bin Khattab

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ إِذَ قَدِمَ مَكَّةَ صَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَقُولُ : يَا أَهْلَ مَكَّةَ أَتِمُّوا صَلاَتَكُمْ، فَإِنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ

Sesungguhnya Umar bin Khattab bila masuk ke Makkah salat mengimami bersama mereka dua rakaat, kemudian bersabda : Wahai penduduk Makkah, sempurnakanlah salat kalian, sesungguhnya kami kaum yang sedang safar (HR. Malik, al-Muwatha’, 110)

Atsar diatas menunjukan boleh musafir mengimami muqimin, jika musafir salat qosor, maka makmum muqim wajib menyempurnakan salatnya. Walapun berstatus mauquf kepada Umar bin Khattab, Namun berstatus marfu secara hukum, karena Umar berposisi sebagai Imam yang mengimami sahabat yang lain.

Keempat, imam muqim, sedangkan makmum musafir. Berdasarkan dua atsar, pertama atsar Ibn Umar

فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ صَلَّى أَرْبَعًا وَإِذَا صَلاَّهَا وَحْدَهُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Ibn Umar bias ajika salat Bersama imam (muqim), maka dia salat empat rakaat, adapun jika salat salat mandiri (tidak Bersama imam muqim) beliau salat dua rakaat (HR. Muslim, Sahih Muslim, 2/146)

Kedua, atsar dari Abdullah bin Abbas, dari Musa bin Salamah

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ ، فَقُلْتُ : إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا ، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ . قَالَ : تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami Bersama Ibn Abbas di Makkah, kemudian aku bertanya : Sesungguhnya bila kami bermakmum kepadamu maka kami salat empat rakaat, sedangkan jika kami kembali (tidak bermakmum kepada muqimin) ke tempat kami, maka kami salat dua rakaat ? Ibn Abbas berkata : Itulah sunnah Abul Qasim shallallahu aaihi wa sallam (HR. Ahmad, Musnad Ahmad, 1/216)

Kedua atsar berstatus marfu hukman, secara dalalah menunjukan kebolehan muqimin menjadi imam bagi musafir, kaifiyatnya makmum musafir salat empat rakaat, sebagaimana imam muqim, bukan dua rakaat.

Dengan demikian kesimpulannya, pertama, kesesuaian niat imam dan makmum, bukan syarat sah salat berjamaah. Kedua, imam dan makmum boleh berbeda niat dalam salat berjamaah dan salatnya sah.

Ginanjar Nugraha

Ma’had Imam al-Bukhari