Beranda Zakat Janin Wajib Zakat Fitrah

Janin Wajib Zakat Fitrah

1473
0

Apakah janin dalam dalam kandungan terkena kewajiban zakat fitrah?

Membayar zakat merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Salah satunya adalah membayar zakat fitrah. Setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, begitu juga dengan bayi atau janin dalam kandungan yang telah diberi ruh, semua terkena kewajiban zakat fitrah, berdasarkan hadis dari sahabat Abdullah bin Mas’ud

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ أَوْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah dari Ramadhan kepada seluruh jiwa kaum muslimin baik orang merdeka maupun budak, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun orang dewasa sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. (HR. Muslim, Sahih Muslim, 3/69)

Adapun bagi janin kewajibannya berdasarkan hadis dan astar dari para sahabat berikut :

Pertama, Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Saw bersabda ;

 إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” (HR. Muslim, Sahih Muslim, 8/44)

Manusia bisa disebut sebagai nafs atau berjiwa ketika telah ditiupkan ruh padanya. Janin ditiupkan ruh sekira umur 4 bulan atau 120 hari, jika kurang dari bilangan tersebut, maka belum dapat dikatakan sebagai berjiwa, sehingga belum terkena kewajiban zakat fitrah. Adapun jika telah mencapai atau lebih dari 120 hari, maka janin tersebut terkena kewajiban zakat.

Kedua, keterangan sebagian para sahabat yang mengeluarkan zakat bagi janin

عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ ، قَالَ : كَانُوا يُعْطُونَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ حَتَّى يُعْطُونَ ، عَنِ الْحَبَلِ

Dari Abu Qilabah : Mereka (sebagian sahabat) membayar zakat fitrah, sampai mereka bayarkan zakat untuk janin. (HR. Ibn Abi syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah 3/219, 10841)

Ketiga,  astar dari Utsman bin Affan yang membayar zakat

عَن بَكر : أَنَّ عُثْمَانَ كَانَ يُعْطِي صَدَقَةَ الْفِطْرِ ، عَنِ الْحَبَلِ.

Dari Bakr Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu membayar zakat fitrah untuk bayi yang masih di kandungan (HR Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah 3/219, 10841)

Kedua atsar tersebut menguatkan bahwa janin dalam kandungan terkena kewajiban zakat, adapun keterangan 120 hari ditiupkan ruh menjadi qayyid terkait dengan janin yang diwajibkan zakat fitrah padanya.

Dengan demikian kesimpulannya, janin dalam kandungan yang telah diberi ruh yaitu sekiatr berusia 120 hari atau lebih, terkena kewajiban zakat fitrah. Adapun orang yang wajib membayarnya adalah orang tua atau keluarganya.