Beranda Fikih Kaidah Memahami Akhir Zaman

Kaidah Memahami Akhir Zaman

1018
0

Iman kepada yang ghaib merupakan salah ciri orang yang beriman. Diantara hal yang ghaib adalah terkait dengan kepastian hari kiamat. Bahkan mengimani terjadinya hari kiamat merupakan salah satu dari rukun Iman. Sebaliknya orang yang meingingkari terjadinya hari kiamat telah keluar dari keislamannya. Akhir-akhir ini marak fenomena para asatidz yang mendakwahkan tema ceramahnya dengan akhir zaman. Hal tersebut tentu patut di apresiasi sebagai dakwah yang dapat menyadarkan umat khususnya supaya tidak terlena dengan kehidupan dunia, dan berfokus pada peningkatan keimanan dan amal saleh. Namun disisi yang lain, perlu pembatasan dan pola dalam berinteraksi dengan teks-teks ayat maupun hadis terkait akhir zaman sehingga tidak terjebak dalam dua kutub ekstrim yaitu pemahaman yang berlebihan dalam memahami tanda-tanda dan kepastian akan terjadinya akhir zaman atau sebaliknya terlalu bermudah-mudahan. Setidaknya, secara umum ada tiga sikap dalam menyikapi ayat-ayat dan hadis terkait akhir zaman.

Pertama golongan yang bermudah-mudahan. Ada beberapa tipe golongan ini, pertama, Tergesa-gesa dalam menyimpulkan, sehingga setiap ada fitnah atau bencana serta tanda lainnya dalam realitas selalu dihubungkan sebagai tanda akhir zaman, tanpa melalui penelitian yang mendalam, dalam artian lain disebut dengan faham cocokologi. Kedua, mendasari keyakinan akhir zaman dan tanda-tandanya dengan menggunakan hadis-hadis dhaif sebagai sandaran, sehingga kesimpulannya tidak mempunyai dasar yang kuat. Alasan lain adalah karena kurangnya ilmu, sehingga faham apapun diterima tanpa ada filter, misalnya tanda kiamat yang bercampur dengan keyakinan kaum batini semisal kejawen, tentang akan lahirnya satria piningit atau ratu adil. Misal lain Kepercayaan sinkritik dengan syiah, misalnya lahirnya imam yang adil itu maksudnya imam ke-12 dari Syiah Imam yang ditunggu-tunggu.

Kedua golongan yang berlebih-lebihan, sehingga menolak paham-paham yang sebetulnya ada dalam hadis yang sahih, misalnya tidak mempercayai turunnya nabi Isa pada hari kiamat, tidak percaya munculnya dajjal dan lainnya. Adapun alasannya, pertama salah karena terlalu menekankan aspek rasio, jika masuk akal, maka akan diterima, adapun jika tidak masuk akal maka akan ditolak. Kedua, alasan lain diantaranya karena berprinsip hanya hadis mutawatrilah yang dapat dijadikan sebagai dalil dalam akidah, adapun hadis-hadis ahad, walaupun sahih, tidak dapat dijadikan dalil dalam masalah tersebut. Karena sikapnya tersebut, tentunya akan mereduksi faham-faham terkait hari kiamat yang tidak memenuhi standar kemutawatiran, padahal hadisnya sahih. Ketiga, menggunakan standar yang tinggi yang menyalahi jumhur ulama dalam kriteria pensahihan hadis, sebagaimana adanya kelompok tersebut di Jawa timur akhir-akhir ini, yang menolak turunnya nabi Isa dan turunnya Dajjal karena hadis-hadisnya bermasalah secara sanad, padahal hadis-hadis tersebut disepakati oleh para ulama kesahihannya. Mereka menggunakan kriteria penilaian hadis yang syad dari teori yang diletakan oleh para ulama hadis.

Ketiga adalah golongan pertengahan, yaitu kelompok yang mengimani kiamat dan tanda-tandanya berdasarkan kaida-kaidah yang benar dan sesuai dengan metodologi para ulama dalam berinteraksi dengan ayat dan hadis yang dapat dijadikan hujjah menegnai akhir zaman. Berikut adalah batasan sikap dan kaidah berinteraksi dengan nash-nash terkait dengan akhir zaman dan tanda-tandanya, sehingga tidak mudah tergelincir pada pemahaman yang salah, kaidah-kaidahnya sebagai berikut :

  1. Memastikan kekuatan dalil dapat diterima dan dijadikan hujjah

Iman terhadap hal yang ghaib merupakan asas akidah Islam. Bahkan menjadi penentu dan pembeda apakah seseorang tetap dalam keadaan mukmin atau sudah keluar dari keislamannya. Karena urgensi posisi iman tersebut, maka semestinya dalil-dalil yang dijadikan sandaran mesti berasal dari dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sumber hukum secara asliyah ada dua, yaitu al-Quran dan as-Sunnah. Secara wurud atau analisis keotentikan teks, maka al-Quran sudah tidak perlu diragukan lagi kebenarannya, karena sifatnya yang mutawatir dan ada jaminan langsung dari Allah terkait penjagaannya, sehingga mustahil palsu dan diragukan dan ada perubahan didalamnya.

Adapun dalil-dalil as-sunnah atau hadis, tidak ada jaminan apakah semua hadis yang beredar itu dipastikan nisbatnya kepada Nabi Muhammad Saw. Karena itu para ulama hadis menetapkan syarat yang ketat untuk menyeleksi apakah sebuah hadis itu dapat disandarkan kepada Nabi Saw atau tidak, sehingga lahirlah istilah tingkatan penilaian hadis misalnya apakah sahih, hasan, dhaif, sangat lemah dan mauldu, sebagai indicator diterima tidaknya sebuah riwayat. Diterima tidaknya sebuah Sebuah riwayat, tergantung dari apakah memenuhi atau tidak syarat-syarat kesahihan sebuah hadis. Jika memenuhi syarat maka hadisnya berderajat sahih atau minimal hasan. Adapun jika tidak memenuhi syarat, misalnya dhaif, sangat dhaif atau bahkan palsu, maka tertolak untuk dijadikan sebagai hujjah apalagi diyakini sebagai fondasi akidah dalam hal mempercayai yang ghaib.

Tidak jarang banyak yang tergelincir dalam kaidah pertama ini. Beberapa bentuk peyimpangan diantaranya pertama menyandarkan keyakinan akhir zaman pada hadis-hadis yang lemah dan palsu. Kedua menyandarkan hanya keterangan-keterangan israiliiyat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, menyandarkan pada takhayul dan khurafat yang berasal dari keyakinan agama-agama pagan dan lainnya. Karena itu, sudah seharusnya sikap seorang muslim adalah mempertanyakan kemabli terkait dasar dan argumentasi dalil yang digunakan apakah sahih ataukah tidak. Bagi kalangan ahli ilmu bisa meneliti langsung kesahihannya atau menyandarkan kepada para ulama yang muktabar melalui berbagai kitab, adapun bagi yang awam bisa bertanya kepada para ulama para ulama yang terbiasa meneliti hadis, untuk memastikan kesahihan khabar tersebut. Jika dipastikan sahih atau minimal hasan, maka dapat dijadikan hujjah, adapun jika selain itu bahkan berasal dari keyakinan diluar Islam, maka keyakinan tersebut wajib ditolak dan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.

  • Memastikan kejelasan makna

Sekedar sebuah dalil itu dapat dipertanggungjawabkan secara keotentikan tidak cukup, tahap selanjutnya memastikan uji terhadap kekuatan penunjukan makna dalam teksnya, apakah menunjukan secara jelas dan sarih apakah tidak. Pertama, tidak jarang digunakan hadis-hadis yang terlalu umum, padahal sebetulnya tidak menunjukan secara khusus. Kedua, terkadang ada yang menggunakan keterangan teks dalil yang ihtimal atau masih mempunyai beberapa kemungkinan makna atau kesimpulan, namun menentukan salah satunya tanpa ada qorinah, baik internal maupun eksternal yang bersifat interteks dengan teks-teks yang lain. Pada tahap ini, sangat rentan tergelincir, khususnya bagi orang yang sudah mempunyai kecenderungan awal atau punya pra asumsi keyakinan tertentu, sehingga ketika menemukan dalil yang dianggap menjadi sandaran keyakinannya, langsung memastikan makna, tanpa penelurusan terlebih dahulu terkait dengan kepastian penunjukan makna. Misalnya ada yang beranggapan bahwa fenomena turunnya salju diarab sebagai tanda-tanda kiamat sudah dekat berdasarkan hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا وَحَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ بَيْنَ الْعِرَاقِ وَمَكَّةَ لَا يَخَافُ إِلَّا ضَلَالَ الطَّرِيقِ وَحَتَّى يَكْثُرَ الْهَرْجُ قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْقَتْلُ

Kiamat tidak akan terjadi hingga wilayah arab kembali menjadi tanah yang subur banyak padang hijau dan sungai-sungai. Hingga orang yang melakukan safar antara Iraq dan Mekah, tidak ada yang ditakuti selain kegelapan di jalan. Dan tidak muncul kiamat sampai terjadi al-Haraj. Mereka bertanya ap itu al-haraj hai Rasulullah. Rasul menjawab merebaknya pembunuhan (HR. Ahmad musnad Ahmad, 14/424)

Fenomena turunnya salju di jazirah dianggap tanda kiamat karena dengan mencairnya es membuat tanah di arab tersebut menjadi subur dan airnya mengalir ke sungai-sungai. Dimana tanda-tanda tersebut termasuk dalam tanda kiamat kubra akan datang. Sebetulnya terlalu jauh menghubungkan turunnya salju dengan tanda kiamat, karena fenomena tersebut merupakan siklus yang bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan alam. Sebab suburnya tanah arab menjadi padang hijau dan mengalirnya sungai-sungai tidak mesti sebabnya karena turunnya salju, banyak sekali faktornya. Disamping itu tanda-tanda tersebutpun bukan celaan atau sesuatu yang buruk untuk negeri tersebut, akan tetapi hanya sebagai tanda saja, bukan sebagai sebab terjadinya kiamat.

  • Menjadikan ulama yang otoritatif sebagai inspirasi pemahaman dan menjauhi takwil yang fasid

Sebagian kalangan ketika menafsirkan teks-teks tidak merujuk kepada para ulama yang muktabar terkait hal tersebut. Terkadang ada yang menjadikan israiliyyat sebagai dasar penafsiran. MIsalnya terkait dengan sifat-sifat dajjal. Adapula yang berasal dari keyakinan-keyakinan kelompok syiah, misalnya terkait dengan keyakinan akan keluarnya imam yang ke-12 yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka. Pola lain diantaranya menjadikan keyakinan budaya sebagai dasar penafsiran, misalnya Kepercayaan akan adanya ratu adil dan satria piningit ketika zaman edan pada akhir zaman yang akan menyelamatkan umat manusia dan menghancurkan segala kezaliman.

  • Tidak mudah memastikan makna nash dengan realitas tanpa qorinah yang kuat

Salah satu kesalahan dalam menyikapi hadis-hadis akhir zaman adalah bermudah-mudahan dalam menghubungkan nash hadis dengan realitas. Ada beberapa hal yang menadasari hal tersebut diantaranya pertama karena  riya dan sum’ah. Ingin menjadi pusat perhatian, sehingga mudah menghubungkan nash dan realitas, padahal tidak ada hubungan sama sekali atau hanya sekedar fenomena biasa. Kedua, karena mempunyai sifat tergsa-gesa atau terburu-buru. Ketiga, kurangnya ilmu. Karena sebab-sebab diatas, maka seseorang mudah tergelincir bermudah-mudahan dalam menafsirkannya dengan realitas, padahal kejadian tersebut tidak mempunyai hubungan atau sangat lemah argumentasinya. Misalnya ada hadis tentang Irak sebagai berikut

يُوشِكُ أَهْلُ الْعِرَاقِ أَنْ لاَ يُجْبَى إِلَيْهِمْ قَفِيزٌ وَلاَ دِرْهَمٌ. قُلْنَا مِنْ أَيْنَ ذَاكَ قَالَ مِنْ قِبَلِ الْعَجَمِ يَمْنَعُونَ ذَاكَ. ثُمَّ قَالَ يُوشِكَ أَهْلُ الشَّأْمِ أَنْ لاَ يُجْبَى إِلَيْهِمْ دِينَارٌ وَلاَ مُدْىٌ. قُلْنَا مِنْ أَيْنَ ذَاكَ قَالَ مِنْ قِبَلِ الرُّومِ. ثُمَّ سَكَتَ هُنَيَّةً ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَكُونُ فِى آخِرِ أُمَّتِى خَلِيفَةٌ يَحْثِى الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا ». قَالَ قُلْتُ لأَبِى نَضْرَةَ وَأَبِى الْعَلاَءِ أَتَرَيَانِ أَنَّهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَقَالاَ لاَ.

Kami berada di dekat Jabir bin Abdullah, ia berkata: Hampir saja Irak tidak dipunguti takaran dan dirham. Kami bertanya: Kenapa? Ia menjawab: Karena orang-orang ajam, mereka menahannya. Setelah itu ia berkata: Hampir saja penduduk Syam tidak dipunguti dinar dan mud. Kami bertanya: Kenapa? Ia menjawab: Karena orang-orang Romawi. Ia diam sejenak lalu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Diakhir ummatku nanti akan ada seorang khalifah menebar harta tanpa menghitungnya.” Aku berkata kepada Abu Nadhrah dan Abu Al Ala`: Maksud kalian Umar bin Abdulaziz? Keduanya menjawab: Bukan (HR Muslim, Sahih Muslim, 8/184)

Ada yang menyatakan bahwa orang yang ada dalam hadis tersebut adalah saddam hussen, karena sukses memimpin Irak, sebelum Irak digempur oleh Amerika Serikat. Tentu terlalu dini dan gegabah untuk memastikan bahwa pemimpin tersebut adalah Saddam Hussen.

  • Tidak mesti bahwa setiap fitnah atau bencana dan tanda lainnya dalam realitas disimpulkan secara pasti sebagai tanda kiamat

Misalnya adanya bencana asap di Indonesia akibat dari hutan yang dibakar. Kemudian sebagian kalangan menafsirkan bahwa bencana asap tersebut dukhan atau asap yang disebutkan dalam ayat atau hadis sebagai tanda-tanda kiamat segera terjadi. Padahal asap merupakan konsekuensi logis dari hutan yang dibakar, sebuah fenomena biasa yang tidak memenuhi syarat disebut sebagai dukhan sebagaimana dalam ayat atau hadis. Masyarakatpun pernah digegerkan dengan video seorang bayi yang bermata satu, kemudian banyak netizen yang menshare dan memviralkan dengan caption lahirnya dajjal telah lahir kedunia. Padahal menurut pandangan medis, sebetulnya bayi tersebut mengalami kecatatan yang mengakibatkan ketidaksempurnaan pada organ tubuhnya. Kenyataan tersebut terbukti bahwa sang bayi meninggal beberapa saat kemudian.

  • Semata fenomena tanda kiamat tidak memestikan berkonsekuensi pada hukum taklifi

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (1/159) menyatakan bahwa setiap informasi dari Nabi tentang tanda-tanda kiamat tidak mesti itu haram dan tercela. Misalnya, meninggikan bangunan, banyak harta, dan situasi di mana perempuan lebih banyak dari laki-laki (50 perempuan dan laki-laki hanya satu), tidak diragukan lagi bahwa itu bukanlah keharaman. Ini hanya sebatas tanda. Tanda tidak mensyaratkan (berimplikasi pada) apa pun. Tanda bisa jadi baik dan bisa juga buruk, bisa boleh dan bisa juga haram, bahkan wajib dan lainnya.”

Tanda-tanda kiamat dalam pandangan Imam Nawawi hanya sebatas tanda dan tidak berimplikasi pada larangan. Karena belum tentu setiap tanda kiamat itu buruk atau haram. Misalnya, meninggikan bangunan, banyak harta, atau situasi di mana perempuan lebih banyak dari laki-laki, pada dasarnya boleh dan tidak haram. Menghiasi masjid atau membuat masjid lebih bagus misalnya, sebagian orang melarang karena merujuk pada hadits akhir zaman.

: يَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يَتَبَاهَوْنَ بِالْمَسَاجِدِ وَلاَ يَعْمُرُونَهَا إِلَّا قَلِيلًا

Artinya, “Akan datang suatu masa di mana banyak orang yang membangun masjid megah dan orang yang memakmurkannya sangat sedikit,” (HR Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibn Khuzaimah, 2/281).

Berdasarkan hadis tersebut ada sebagian kalangan yang melarang dan mengharamkan membuat masjid dengan megah, karena hal tersebut merupakan tanda-tanda kiamat. Padahal hal tersebut semata tanda saja, tidak ada kaitan dengan hukum taklifi pengharaman. Kemegahan masjid merupakan simbol dari kemajuan budaya dan  seni arsitektur yang tentunya tidak bertentangan dengan syariat. Adapun yang menjadi substansi kritik adalah terkait dengan semakin sedikitnya yang memakmurkan masjid, terlepas apakah masjid tersebut megah atau tidak.

Misal lain hadis mengenai seorang khalifah/pemimpin yang membagikan hartanya tanpa menghitung-hitungnya, lengkapnya sebaga berikut :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ وَجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَكُونُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ خَلِيفَةٌ يَقْسِمُ الْمَالَ وَلاَ يَعُدُّهُ »

Dari Abu Sa’id dan Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Pada akhir zaman akan ada khalifah yang membagi-bagikan harta dan tidak menghitung-hitungnya.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, 8/185)

Semata seorang khalifah membagikan harta tanpa dihitung kepada rakyaknya, bukan perbuatan tercela, bahkan merupakan perbuatan yang terpuji. Perbuatan tersebut bukanlah penyebab terjadinya kiamat, tapi sebagai tanda saja, dimana sikap seorang beriman mengimani saja hadis tersebut dan meresponnya dengan semakin menambah amal saleh.

Begitu juga Al-Munawi menyatakan penegasan bahwa tidak semua tanda kiamat tercela. Ada tanda yang tercela semisal hilangnya amanah dan ada juga tanda yang bagus atau terpuji seperti menghiasi masjid. Ada pula tanda yang tidak dipuji dan tidak pula dicela semisal turunnya Nabi Isa  (Faidh al-Qadir Syarah Jami al-Shagir, 6/9)

Contoh kasus misalnya hadis wanita lebih banyak daripada laki-laki sampai lima puluh banding satu

وَتَكْثرَ النِّسَاءُ وَيَقلَّ الرِّجَالُ حَتَّى يَكُونُ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً القَيِّمُ اْلوَاحِدُ

“Di antara tanda-tanda dekatnya hari Kiamat adalah sedikitnya ilmu (tentang Ad-Dien), merajalelanya kebodohan dan perzinahan, dan sedikitnya kaum laki-laki, sehingga lima puluh orang wanita hanya terdapat satu orang pengurus (laki-laki) saja” [HR. Al-Bukhari no. 81 – tartib maktabah sahab, Muslim no. 2671, dan At-Tirmidzi no. 2205].

Secara zahir hadis diatas meyiratkan diantara tanda kiamat adalah wanita lebih banyak daripada laki-laki sehingga lima puluh banding satu. Perlu diketahui bahwa tanda diatas bukan lah sebab, tapi hanya sebagai tanda saja. tentunya adanya tanda tersebut bagi seorang yang beriman akan semakin meningkatkan amal salehnya. Namun sebagian kalangan malah disibukan dengan perdebatan hitung-hitungan apakah perbandingan laki-laki dan perempuan sekarang sudah mencapai pada batas tersebut ataukah belum. Tanda tersebutpun bukan celaan kepada perempuan, sehingga sampai ada yang mencela ketika banyak terlahir anak perempuan, namun sekali lagi hanya sebagai tanda saja yang sifatnya netral dan bukan sebagai penyebab terjadinya hari kiamat. Terkait jumlahpun sifatnya relative, karena pada hadis yang lain diceritakan komposisi perbandingannya empat pilih banding satu, dengan demikian pemahamannya lebih kepada majazi bahwa tanda kiamat itu bahwa wanita jumlahnya akan lebih banyak daripada laki-laki.

  • Tidak mengingkari terkait tanda-tanda kiamat yang ditetapkan oleh nash yang sahih

Kapan terjadi kiamat merupakan sesuatu yang ghaib, namun terkait dengan tanda-tandanya, maka Allah telah memberitahu kita mellalui rasulnya dengan hadis-hadis yang sahih. Keyakinan akan kepastian hari kiamat dan kehadiran tanda-tandanya, merupakan bagian dari keimanan seorang muslim, berdasarkan hadis berikut :

قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ } الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ الْإِيمَانِ

(Jibril ‘Alaihis salam) berkata lagi: “Kapan terjadinya hari kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya. Tapi aku akan terangkan tanda-tandanya; (yaitu); jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika para penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun gedung-gedung selama lima masa, yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “Sesungguhnya hanya pada Allah pengetahuan tentang hari kiamat” (QS. Luqman: 34). Setelah itu Jibril ‘Alaihis salam pergi, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “hadapkan dia ke sini.” Tetapi para sahabat tidak melihat sesuatupun, maka Nabi bersabda; “Dia adalah Malaikat Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan agama mereka.” Abu Abdullah berkata: “beliau menjadikan seluruhnya bagian dari keimanan (HR Bukhari, Sahih al-Bukhari, 1/48)

Sebagian ada yang menolak hadis-hadis sahih terkait tanda-tanda kiamat karena tidak sesuai dengan akal dan ketidakmungkinan hal tersebut dalam realitas, misalnya menganggap bahwa alam bersifat eter atau abadi sebagaimana keyakinan sebagian para filosof. Sebagian golongan ada yang menolak sebagian tanda-tanda kiamat karena tidak mutawatir. Sehingga tanda-tanda kiamat yang berdasarkan hadis-hadis ahad walaupun sahih tapi tidak diterima dan tidak dapat diajdikan hujjah.

  • Pemberitaan terkait tanda-tanda kiamat tiada lain untuk meningkatkan ketaqwaan dan amal saleh

Pada hakikatnya pemberitahuan Allah dan Rasulnya mengenai kiamat dan tanda-tandanya tiada lain adalah untuk mengingatkan manusia sehingga dia dapat lebih memperbanyak amal salehsesuai dengan sabda Rasulullah Saw dari sahabat Abu Hurairah

« بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سِتًّا طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا أَوِ الدُّخَانَ أَوِ الدَّجَّالَ أَوِ الدَّابَّةَ أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ »

Bersegeralah beramal saleh sebelum enam perkara, terbitnya matahari dari dari barat, munculnya dukhan, dajjal, binatang melata, khusus salah seorang kematian (kematian), atau umum (kiamat) (HR. Muslim, sahih Muslim, 8/207)

Sebagian manusia ada yang bersalah faham disibukan semata tanda-tandanya saja, sehingga terjebak dalam perdebatan untuk mencocokan apakah sebuah realitas itu benar-benar sebagaimana yang dimaksud oleh nash atau bukan. Adapula yang menunda untuk berdakwah dan beramar makruf nahyi munkar, karena menunggu munculnya imam yang adil yang akan menyelamatkan manusia. Padahal tujuan yang lebih penting dari pemberitaan tanda-tanda tersebut adalah meningkatnya keimanan dan amal saleh seseorang. Bahkan seandainya qiyamat benar-benar akan terjadi sikap seorang muslim tetap berkomitmen terhadap amal saleh, perhatikan hadis berikut

إِنْ قَامَتْ عَلَى أَحَدِكُمْ الْقِيَامَةُ وَفِي يَدِهِ فَسْلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika tiba hari kiamat sedang pada tangan dari kalian bibit pohon kurma maka tanamlah” (HR Ahmad, Musnad Ahmad, 20/251)

  • Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kiamat kecuali Allah

Kiamat merupakan kepastian, namun kapan terjadinya hati tersebut hanya Allah yang tahu

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.(al-A’raf 187)

 يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا 

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (al-Ahzab : 63)

Keterangan-keterangan diatas memastikan bahwa kepastian kapan hari kiamat hanya Allah yang mengetahuinya, bahkan malaikat dan Rasulpun tidak diberitahu mengenai hal tersebut. Ada beberapa hadis yang mengindikasikan dekatnya kiamat misalnya hadis dari sahabat Anas bin Malik

« بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ ». قَالَ وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى.

“Jarak antara aku diutus dan hari kiamat seperti dua jari ini”, rawi berkata : “beliau mendekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya” (HR, Muslim, Sahih Muslim, 8/209)

Dan hadis-hadis lainnya yang semisal, tidak menunjukan kepastian kapan kiamat tersebut terjadi. Kata dekat bermakna relative, namun sebagian orang ada yang memprediksi, meramal bahkan memastikan kapan kiamat tersebut terjadi. Begitu juga dengan pembatasan waktu-waktu tertentu diantara tanda-tanda kiamat.

Menurut Imam Ibn Katsir Hadis-hadis dari Nabi terkait dengan pembatasan waktu kiamat dengan bilangan tertentu tidak ada yang sahih. Rasul Saw hanya menyebutkan tanda-tandanya saja (an-Nihayah fi alfitan wal mulahim (1/6) begitu juga ditegaskan oleh Imam as-Sakhawi “setiap riwayat yang menyebutkan pembatasan waktu hari kiamat dengan waktu tertentu, maka kedudukannya tidak ada asalnya atau tidak kuat sanadnya (al-Maqashid al-Hasanah, 1/693). Contoh pembatasan diantaranya ada yang meyakini bahwa ketika matahari terbit dari barat, maka manusia tinggal dalam keadaan tersebut selama 120 tahun, kemudian terjadilah kiamat. Begitu pula yang memastikan berdasarkan tahun bahwa Dajjal akan muncul pada tahun sekian, munculnya nabi Isa, munculnya asap dukhan dan lainnya. Penentuan dan pembatasan proses kejadian-kejadian sebelum kiamat dan qiyamat tersebut tidak berdasarkan dalil yang kuat, tapi hanya sekedar prasangka saja, tanpa ditunjang dengan dasar argumentasi yang kuat.

Demikian beberapa prinsip-prinsip dalam berinteraksi dengan dakwah akhir zaman. Merupakan tugas setiap muslim, khususnya pada dai dan ustadz untuk senantiasa menjaga umat baik dari pemahaman salah terkait dengan fikih hadis-hadis akhir zaman.

Ginanjar Nugraha, Mudir Ma’had Imam al-Bukhari